Proyek "Smelter" Terkena Dampak Pelemahan Rupiah
Senin, 31 Agustus 2015 | 18:31 WIB
Jakarta - Proyek fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri (smelter) terkena dampak dari menguatnya mata uang dolar terhadap rupiah. Nilai tukar rupiah yang mencapai level Rp 14.000 per dolar mendongkrak biaya pengadaan proyek smelter.
Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA), Syahrir AB, mengatakan bahan baku maupun peralatan proyek smelter pada umumnya didatangkan dari luar negeri. Pembeliannya dilakukan dengan mata uang asing.
"Memangnya ada peralatan yang dibikin dalam negeri, enggak ada kan. Adanya impor. Ya mati dia," kata Syahrir dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (31/8).
Meski Syahrir menyebut proyek smelter terkena dampak pelemahan rupiah, namun dia belum bisa memastikan berapa besar dampak yang ditimbulkan tersebut. Dia hanya menyebut anggaran proyek yang melonjak menjadi tantangan tersendiri bagi pengembang smelter. "Anggarannya naik, saya enggak tahu persis," katanya.
Di tempat yang sama, Direktur Centre for Indonesian Resources Strategic Studies (Ciruss) Budi Santoso, meminta pemerintah memberi insentif bagi smelter yang telah memasuki masa konstruksi. Insentif itu bisa berupa pengurangan fiskal. "Beban fiskal dikurangi melihat kondisi sekarang ini," ujarnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




