ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Mentan: Tekan Impor Pangan, Hemat Rp 56 Triliun

Selasa, 6 Oktober 2015 | 18:35 WIB
B
B
Penulis: BeritaSatu | Editor: B1
Seorang petani menunjukkan padi hasil panenannya.
Seorang petani menunjukkan padi hasil panenannya. (Antara/Asep Fathulrahman)

Sukabumi - Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman mengatakan upaya pemerintah yang terus menekan impor pangan dari berbagai negara ternyata mampu menghemat hingga Rp 56 triliun.

"Kami akan terus menekan impor pangan dari luar negeri. Indonesia tidak perlu impor lagi pangan bahkan saat ini sudah mulai ekspor ke berbagai negara," katanya di sela kunjungan ke pusat ekonomi kreatif bunga potong di Selabintana, Sukabumi, Selasa (6/10).

Menurut dia, ada beberapa komoditas pangan yang awalnya impor tetapi saat ini sudah ekspor seperti kacang hijau, cabai, bawang merah dan putih, jagung dan lain-lain. Ini menunjukkan petani di Indonesia mampu menghasilkan pangan berkualitas dengan kuantitas yang cukup. Bahkan, Indonesia juga mengekspor ayam potong ke Myanmar. Bawang merah yang biasanya diimpor kini sudah bisa ekspor ke beberapa negara.

Dengan mengendalikan impor ternyata bisa menghemat keuangan negara hingga Rp 56 triliun dan petani juga mendapatkan keuntungan lebih.

ADVERTISEMENT

Dikatakan, El Nino pada 1998 lalu yang sempat membuat produksi pangan anjlok, tidak seberapa kuat dibandingkan musim El Nino tahun ini sehingga pemerintah saat itu terpaksa mengimpor beras.

"Tetapi saat ini dengan arahan Presiden RI Joko Widodo untuk memperkuat pangan, sampai sekarang Indonesia tidak impor beras padahal El Nino melanda bangsa ini lebih panjang yang menyebabkan kekeringan di mana-mana. Tapi, karena memiliki cadangan pangan yang melimpah sehingga persediaan tetap terpenuhi," katanya.

Amran mengatakan yang harus dibangun adalah rasa optimistis dan jangan selalu mempertanyakan impor. Pihaknya yakin ekspor pangan akan terus ditambah dengan memperkuat persediaan pangan dalam negeri.

"Tidak hanya pangan saja yang akan diekspor, tetapi bunga yang ternyata mempunyai nilai ekonomi tinggi seperti yang dikembangkan oleh petani di Sukabumi, Jawa Barat, yang keuntungannya Rp 140 juta setiap tahunnya," katanya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon