IPro BPR Dorong Kualitas SDM
OJK: Banyak BPR Tutup Karena Kecurangan Pengurus
Senin, 19 Oktober 2015 | 22:48 WIB
Kendari - Ketua Deputi Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang Perbankan Heru Kristiana mengatakan banyak Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Indonesia yang tutup karena dicurangi oleh pengurusnya.
"Dalam catatan kami, BPR yang ditutup itu bukan karena kalah bersaing dari bank lain, tetapi karena dicurangi oleh pengurus sendiri. Saya mohon maaf jika saya harus katakan seperti ini," kata Heru Kristiana saat memberikan sambutan pada acara Rakernas Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) di Kendari, Senin (19/10).
Oleh karena itu, kata Heru, setiap regulasi atau aturan yang dibuat OJK lebih ditekankan untuk memperkuat governance atau tata kelola perusahaan supaya bisa mengamputasi terjadinya tindakan pengelola yang membuat BPR itu jatuh. "Karena itu kami meminta manajemen bank perkreditan rakyat mampu menerapkan sistem pengawasan internal andal dan efektif, serta dapat mengoptimalkan peran pengawas tersebut," katanya seperti dilansir Antara.
Ia menegaskan, keberadaan satuan pengawas internal (SPI) dapat mencegah pelanggaran secara dini terhadap prinsip kehati-hatian dan penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku. BPR dalam operasionalnya harus mampu menutupi kelemahan-kelemahan hingga upaya pencegahan fraud, perencanaan dan pemeriksaan yang efektif, penyusunan laporan serta pemantauan tindak lanjut pemeriksaan.
Secara terpisah, Ikatan Profesional Bank Perkreditan Rakyat (iPro BPR) menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia BPR. Selain meningkatkan penguatan sistem pengawasan, kualitas SDM yang mumpuni dan punya integritas sangat diperlukan.
"SDM yang berkualitas sangat diperlukan dalam meningkatkan kinerja BPR. Untuk itu perlu diberikan pelatihan dan pembinaan secara berkala serta tidak lupa meningkatkan kesejahteraan secara proporsional," kata Sekjen iPro BPR Hiras Tobing di Jakarta.
Hiras Tobing menegaskan, potensi BPR dan LKM secara umum di Indonesia masih sangat besar. Dari aspek SDM saja, ada jutaan tenaga kerja yang membutuhkan peningkatan kompetensi. Hal itu hanya bisa dipenuhi dari pelatih (trainer) dan jasa penyedia pelatihan yang profesional, memiliki integritas, ketrampilan, dan komitmen yang kuat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




