ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Produksi Meningkat, Mentan Panen Jagung di Kulon Progo

Rabu, 4 November 2015 | 12:08 WIB
PP
WP
Penulis: Priska Sari Pratiwi | Editor: WBP
Menteri Pertanian panen jagung bersama kelompok tani di Kulon Progo, 4 November 2015.
Menteri Pertanian panen jagung bersama kelompok tani di Kulon Progo, 4 November 2015. (BeritaSatu.com/Priska Sari Pratiwi)

Yogyakarta- Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melakukan panen jagung bersama Kelompok Tani Subur Raharjo di Girinyono, Sendangsari, Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam kesempatan itu, hadir anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Sidharta Danusubroto, Bupati Kulon Progo Hasto, dan Kepala Dinas Pertanian Kulon Progo Bambang Tri.

Mentan menilai, hasil produksi panen jagung di Kulon Progo kali ini meningkat. Bahkan harganya mencapai Rp 3.000 per kilogram (kg). "Harganya tentu menggembirakan bagi para petani, dua bulan yang lalu hanya Rp 1.500 per kg. Petani butuh harga yang wajar untuk melanjutkan produksi," ujar Amran, di Kulon Progo, Rabu (4/11).

Stabilnya harga jagung ini, menurut Amran, lantaran upaya pemerintah mengendalikan impor. Ia mencontohkan, produksi kedelai di Yogyakarta semakin hari semakin turun. "Di Jogja dulu ada 60.000 hektare (ha) lahan kedelai sekarang tinggal 20.000 ha karena impor tidak terkendali. Maka kita berupaya untuk mengendalikan impor supaya harga tetap berada di atas BEP (Break Even Point)," jelasnya.

Amran menekankan, target pemerintah kepada para petani saat ini adalah menurunkan biaya produksi, meningkatkan indeks pertamanan, dan meningkatkan produktivitas.

ADVERTISEMENT

Bupati Kulon Progo dr Hasto menjelaskan, pemkab Kulon Progo berusaha melakukan sejumlah kegiatan, tidak hanya tanaman jagung namun juga gerakan pro beras. Sejak Desember 2013 pihaknya bekerja sama dengan Bulog mengganti beras miskin (raskin) menjadi beras daerah (rasda). Rasda ini merupakan hasil produksi dari petani Kulon Progo sendiri.

"Raskin yang biasanya dibeli Bulog dari luar, sekarang bisa dibeli dari kelompok tani. Kita bisa hasilkan 122.000 ton gabah per tahun, mudah-mudahan bisa suplai ke kota Yogyakarta, sehingga tidak beli lagi di luar," tuturnya.

Pihaknya juga mewajibkan pegawai negeri sipil (PNS) di Kulon Progo untuk membeli 10 kg beras ke petani.

Untuk meningkatkan kualitas beras di Kulon Progo, Hasto meminta agar pemerintah bisa membantu pembuatan pupuk dari sampah. Pasalnya, selama ini penggunaan pupuk hanya mengandalkan dari ternak dan dianggap tidak mencukupi. "Ada 30.000 ton kebutuhan pupuk kita tapi baru 7.000 ton pupuk ternak yang terpenuhi. Untuk itulah kita butuh pupuk dari sampah," katanya.

Pupuk dari sampah ini, lanjutnya, merupakan upaya pemberdayaan masyarakat miskin. Jika masyarakat bisa mengolah sampah keluarga dan rumah tangga, akan memberikan keuntungan. "Kita didik mereka untuk olah sampah. Program yang lalu ada pemberian sapi ke kita, ke depan kita minta diberdayakan TPA (Tempat Pembuangan Akhir)," tandasnya.

Dalam panen jagung bersama ini, anggota kelompok tani juga menerima bantuan berupa 100 unit traktor, dua unit traktor roda empat, 20 unit pompa air, dan satu unit combine harvester atau mesin pemanen.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon