ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Mentan Bertekad Tingkatkan Ekspor Buah Salak

Kamis, 5 November 2015 | 11:01 WIB
PP
WP
Penulis: Priska Sari Pratiwi | Editor: WBP
Menteri Pertanian Amran Sulaiman meninjau kebun salak di  Desa Kaliurang, Srumbung, Kabupaten Magelang, 5 November 2015.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman meninjau kebun salak di Desa Kaliurang, Srumbung, Kabupaten Magelang, 5 November 2015. (BeritaSatu.com/Priska Sari Pratiwi)

Magelang- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berencana meningkatkan ekspor buah salak. Ia menilai salak merupakan buah khas Indonesia yang berpotensi untuk dipasarkan.

"Kami minta agar Dinas Pertanian setempat menyurat ke Kementerian Perdagangan (Kemdag) untuk tingkatkan promosi salak. Nanti tembuskan ke saya untuk melancarkan," ujar Menteri Amran saat meninjau kebun salak di Desa Kaliurang, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Kamis (5/11).

Selama ini salak nglumut produksi Srumbung telah diekspor ke sejumlah negara seperti Tiongkok, Malaysia, dan Singapura. Ke  depan, pemerintah akan mengupayakan ekspor ke Australia. Menteri Amran mengaku satu bulan yang lalu telah bertemu dengan Menteri Pertanian di Australia untuk melancarkan ekspor ke negeri Kanguru tersebut.

Namun ia menyayangkan, salak termasuk buah yang tidak mampu bertahan lama. Untuk salak anorganik hanya mampu bertahan tiga hari, sedangkan salak organik bertahan tujuh hari. "Kami minta penelitian dan pengembangan (litbang) untuk teliti ini. Salak hanya bisa bertahan sebentar, kalau bisa dibuat bertahan paling tidak sampai satu bulan," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Harga salak saat ini berkisar antara Rp 14.000 sampai Rp 15.000 per kilogram. Sedangkan jika sedang panen raya, harganya bisa turun sampai Rp 4.000 sampai Rp 5.000 per kilogram.

Amran juga meminta pada eksportir untuk meningkatkan harga beli salak pada petani. Jika selama ini eksportir membeli dengan harga Rp 12.000 per kilogram salak pada petani, ia meminta ke depannya bisa membeli dengan harga Rp 15.000 per kilogram. "Dijual lagi Rp 35.000 sampai Rp 40.000 per kilogram juga masih untung," imbuhnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Magelang Wijayanti mengakui, pihaknya masih kesulitan mengekspor salak. Selama ini baru 20 persen ekspor yang berhasil terserap. "Agak susah untuk ekspor karena belum ada pasarnya. Jadi selebihnya lebih banyak dipromosikan ke pasar lokal," tuturnya.

Padahal saat panen raya, menurutnya, petani bisa memproduksi hingga 70 kilogram salak per hari dari satu hektare lahan. Sayangnya, kebanyakan petani di Srumbung hanya memiliki lahan 1.000 sampai 2.000 meter persegi.

Terkait penyimpanan salak yang tak bisa bertahan lama, Wijayanti menjelaskan, salak merupakan buah segar yang mudah busuk. Unsur tanah juga mempengaruhi keawetan buahnya. "Tapi paling tidak kalau pengiriman bisa sampai dua minggu," katanya.

Selain meninjau kebun salak, Amran juga meresmikan gedung packing house salak dan memberikan 50.000 bibit salak secara simbolis pada kelompok tani. Dalam gedung packing house, Mentan melihat proses pembersihan, pengemasan, hingga pengepakan salak.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon