Penurunan Jumlah TKI Tekan Neraca Pembayaran
Kamis, 17 Desember 2015 | 22:16 WIB
Jakarta - Pakar sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Anwar Nasution berpendapat, penurunan pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI) diprediksikan dapat mempengaruhi neraca pembayaran Indonesia.
"Neraca pembayaran luar negeri akan memburuk, karena penurunan ekspor dan kiriman kembali TKI ke kampung halaman," kata Anwar Nasution dalam seminar "Reshaping, Sharpening dan BUMN" di Jakarta, Kamis (17/12).
Selain itu, kata dia, penurunan pemasukan modal asing baik berupa investasi jangka ataupun pendek juga berpengaruh.
Penurunan jumlah TKI, tidak lepas dari banyaknya pelanggaran HAM yang terjadi. LSM Migrant Care mencatat sebanyak 1,5 juta tenaga kerja Indonesia (TKI) mengalami pelanggaran hak asasi manusia di berbagai negara tujuan.
Data Migrant Care mencatat indeks perbudakan modern tahun 2014 mengalami peningkatan hingga 300% dari sebelumnya sebanyak 204 ribu buruh migran yang diperbudak di berbagai negara tujuan.
Namun, terkait dengan pengaruh terhadap neraca pembayaran, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara meyakini neraca pembayaran Indonesia pada 2016 akan kembali surplus, setelah tahun 2015 ini diperkirakan defisit US$ 5-6 miliar.
Dengan perbaikan struktural perekonomian yang sedang berjalan saat ini, Mirza meyakini, neraca pembayaran yang mencakup neraca transaksi berjalan dan neraca transaksi finansial, akan mencatat surplus seperti pada 2014, dimana saat itu surplus tercatat US$ 15 miliar.
Seperti dilaporkan Antara, jika merujuk data BI hingga triwulan ketiga 2015, transaksi berjalan dalam neraca pembayaran mencatat defisit sebesar US$ 4 miliar.
Sedangkan neraca transaksi finansial, meskipun mencatat surplus US$ 1,2 miliar , namun pencapaiannya jauh menurun dibanding triwulan-II 2015 yang sebesar US$ 2,2 miliar, dan triwulan III-2014 sebesar US$ 14,7 miliar. Penurunan surplus tersebut karena defisit pada investasi portofolio dan menurunnya surplus investasi langsung.
Mirza memberi sinyal setelah transaksi berjalan membaik, laju inflasi juga akan semakin terkendali. Dengan begitu peluang otoritas moneter untuk menurunkan suku bunga acuan (BI rate) juga terbuka lebar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




