ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Konsep "Monozukuri" Tepat Diterapkan Hadapi Persaingan di MEA

Minggu, 20 Desember 2015 | 19:12 WIB
MP
B
Penulis: Merdhy Pasaribu | Editor: B1
Rachmat Gobel
Rachmat Gobel (beritasatu )

Jakarta-Meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan daya saing proses produksi di Indonesia merupakan strategi utama yang harus dilakukan kalangan industri nasional dalam menghadapi persaingan di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Strategi inilah yang selama ini diterapkan oleh kalangan industri Jepang yang tertuang dalam konsep budaya Monozukuri dan Hitozukuri sebagai salah satu faktor pendukung keberhasilan industri Jepang bersaing di kancah bisnis dan eksis hingga turun menurun.

Hal itu dikemukakan Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia Jepang (PPIJ) Rachmat Gobel dalam simposium yang memperkenalkan konsep budaya Monozukuri dan Hitozukuri yang lebih maju di kalangan akademisi dan pemangku kepentingan lainnya, khususnya guna mempersiapkan SDM Bidang Industri yang tangguh dan berdaya saing di masa mendatang.

Menurut Rachmat, nilai tambah tinggi dan daya saing bangsa sangat ditentukan oleh kualitas dan produktivitas sumber daya manusia. "Adagium people before product ini harus kita contoh, untuk dijadikan paradigma membangun kekuatan daya saing industri nasional. Kita harus saling mengisi, meningkatkan produktivitas guna berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi," kata Rachmat di Jakarta, Sabtu (19/12) dalam simposium yang diselenggarakan oleh organisasi alumni Jepang Asia (ASJA), konsul alumni Jepang ASEAN (SCOJA), serta perhimpunan alumni dari Jepang (Persada) seperti disampaikan dalam siaran pers ke SP, Minggu (20/12).

"Penyelenggaraan simposium ini sangat tepat, karena kita akan menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN," kata Rachmat. Monozukuri dan Hitozukuri ini telah terbukti menjadi salah satu faktor yang mendukung keberhasilan Jepang dalam membangun ekonomi dan masyarakatnya hingga sekarang.

ADVERTISEMENT

Dalam simposium ini dipresentasikan konsep industri 4.0 oleh nara sumber dari Nikkei Automotive, Tatsuhio Hayashi.

Dijelaskan, konsep Monozukuri mulai dipopulerkan oleh media sejak tahun 90-an. Monozukuri berasal dari kata "mono" berarti produk atau barang, dan "zukuri" yang berarti proses pembuatan atau penciptaan. Secara umum dalam percakapan sehari-hari diartikan sebagai produksi atau manufacturing. Namun demikian, konsep ini mengandung makna yang jauh lebih luas dari arti harafiahnya. Kata majemuk tersebut mengungkapkan kepemilikan spirit mencipta dan memproduksi produk-produk unggul, serta kemampuan untuk secara terus menerus menyempurnakan proses dan sistim produksinya.

Pemahaman Monozukuri biasanya diibiasanya diikuti dengan Hitozukuri, berasal dari kata "hito" berarti manusia dan "zukuri" yang berarti proses penciptaan atau produksi. Dengan kata lain Monozukuri dan Hitozukuri mengandung makna industri yang kuat dan berdaya saing hanya mungkin tumbuh jika manusia bersumber daya ilmu dan teknologi, yang memiliki daya kreatif dan inovatif dijadikan pilar utama proses produksi barang dan jasa.

Pada kesempatan ini disampaikan pula rahasia perusahaan Jepang menghadapi dapat bertahan, bahkan hingga 500 tahun, seperti perusahaan minuman sake di provinsi Yamanashi yang sekarang sudah dipimpin oleh generasi ke 23.

Ternyata rahasia suksesnya menjaga keberlangsungan perusahaan terletak pada kesadaran akan pentingnya melakukan kegiatan sosiall sebagai ungkapan terima kasih kepada masyarakat. Sehingga selalu berusaha menjaga dan meningkatkan kualitas produksinya dari waktu ke waktu, agar tetap diminati oleh konsumennya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon