Kekhawatiran Gejolak Ekonomi Terus Tekan Dolar
Sabtu, 6 Februari 2016 | 01:17 WIB
Hong Kong – Muncul kekhawatiran terhadap gejolak ekonomi semakin menyusup ke dalam Amerika Serikat (AS) sehingga terus menekan dolar. Para investor juga bertaruh kalau bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan menunda penaikan suku bunga di tahun ini, Jumat (5/2). Di sisi lain dolar yang tertekan telah mendongkrak minyak dan merontokkan saham-saham di Jepang.
Setelah awal yang menggemparkan di tahun ini akibat dorongan perlambatan ekonomi yang dirasakan mulai dari Asia hingga Amerika Selatan, fokus sekarang pun beralih ke AS – negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia dan pendorong utama pertumbuhan dunia.
AS sendiri memiliki hasil yang wajar selama beberapa tahun terakhir dalam menghadapi kelesuan dunia, namun serangkaian data lemah yang dirilis Washington baru-baru ini menimbulkan spekulasi bahwa mereka berada di posisi terdepan.
Bahkan data, Kamis (4/2), menunjukkan penurunan lagi pada jumlah pemesanan barang-barang manufaktur di bulan Desember dan kenaikan klaim tunjangan pengangguran pada pekan lalu. Hal itu terjadi setelah data menunjukkan penurunan aktivitas di pabrik-pabrik, penurunan pertumbuhan ekonomi dan penurunan belanja konsumen serta pelemahan di sektor jasa yang penting.
"Sampai saat ini, pandangan pada ekonomi AS mulai pulih tapi kecepatannnya tidak secepat seperti yang diharapkan. Sekarang ada beberapa kekhawatiran di pasar bahwa hal itu sebenarnya dapat menular," kata Juichi Wako, ahli strategi senior di Nomura Holdings, kepada Bloomberg News.
Semua mata kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan yang dirilis Jumat waktu ,setempat, di mana catatan data yang lemah dapat memperkuat kekhawatiran terhadap ondisi perekonomian dan ada kemungkinan memaksa The Fed untuk terus menahan biaya pinjaman.
"Muncul ekspektasi di hari itu bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunganya lagi di tahun ini, mengingat gambaran pertumbuhan yang lebih lemah dan pengetatan kondisi keuangan," tulis Jason Wong, ahli strategi mata uang di Bank of New Zealand, Wellington, dalam surat eletronik.
Minyak Naik, Saham Jepang Turun
Dengan kemungkinan kurangnya kenaikan suku bunga yang diharapkan, dolar pun terpuruk di pekan ini dengan nilai tukar terhadap yen berada di bawah 117 yen, dari sebelumnya di atas 121 yen pada akhir pekan lalu, ketika bank sentral Jepang atau
Bank of Japan (BoJ) melaporkan akan memberlakukan kebijakan suku bunga negatif.
Nilai tukar euro juga menguat, lebih dari US$ 1,12 per dolar atau naik dari level di atas US$ 1,08, pada Jumat, (29/1).
Meski demikian, pelemahan dolar telah membantu harga minyak karena membuat komoditas lebih murah bagi para pembeli yang menggunakan mata uang lainnya.
Acuan harga minyak West Texas Intermediate turun 0,4% menjadi US$ 31,61 per barel, pada sore hari dan Brent turun 0,4% menjadi US$ 34,22 per barel.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




