ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Sejak Juni 2012

Indonesia Hentikan Impor Benih Sawit dari Malaysia

Senin, 16 Juli 2012 | 10:38 WIB
B
B
Penulis: BeritaSatu | Editor: B1
Ilustrasi
Ilustrasi (Istimewa)
Mutu benih sawit Indonesia lebih baik dengan penemuan benih-benih baru melalui rekayasa genetik

Pemerintah menghentikan sementara impor benih sawit dari Malaysia, hingga negeri jiran itu memenuhi janjinya membuka keran impor benih sawit dari Indonesia.

Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Gamal Nasir menjelaskan, Indonesia menghentikan sementara impor benih sawit dari Malaysia sejak Juni 2012.

Sebelumnya, Malaysia berjanji membuka pasar benih sawit asal Indonesia.

“Tapi sampai sekarang belum juga kasih izin. Kalau mereka bisa kenapa kita tidak?” kata dia di Jakarta, Minggu (15/7).

Pemerintah akan kembali membuka pintu impor benih sawit, hingga pemerintah Malaysia memberi persetujuan ekspor benih dari Indonesia. Apalagi, kualitas benih sawit Indonesia tidak kalah dengan Malaysia.

Selama ini, Malaysia ekspor benih sawit untuk menyuplai kebutuhan perusahaan kelapa sawit Malaysia, yang beroperasi di Indonesia.

Meski demikian, tidak sepenuhnya kebutuhan benih dipasok dari impor, karena pemerintah mewajibkan mereka untuk menggunakan 50 persen benih sawit produksi Indonesia.

Direktur Tanaman Tahunan Ditjen Perkebunan Kementan Rismansyah Danasaputra menuturkan, pemerintah Indonesia tidak pernah mengajukan permohonan untuk mengekspor benih ke Malaysia.

Pemerintah Malaysia yang telah menjanjikan sendiri sejak Mei 2011.

“Penghentian ini sudah masuk agenda bilateral Indonesia-Malaysia,” ucap dia.

Rismansyah menilai, tidak ada alasan Malaysia untuk tidak membuka pintu ekspor benih sawit dari Indonesia, mengingat investasi sawit Malaysia sangat besar di Tanah Air.

Saat ini, sudah ada permohonan izin impor tujuh juta kecambah sawit dari negara produsen terbesar kedua di dunia itu.

Menurut Rismansyah, perusahaan sawit Malaysia masih impor benih karena ada perusahaan yang berinvestasi pembibitan di negara asal mereka.

Dia mengklaim, mutu benih sawit Indonesia lebih baik dengan penemuan benih-benih baru melalui rekayasa genetik.

Berdasarkan data Ditjen Perkebunan Kementan, impor benih sawit dari Malaysia tahun lalu sebanyak 400 ribu kecambah, dan tahun ini melonjak menjadi 6-7 juta kecambah.

Hal itu, kata dia, menunjukkan investasi sawit Malaysia di Indonesia naik signifikan. Salah satunya adalah Sime Darby yang menambah investasi di dalam negeri.

Dia memaparkan, investasi sawit tahun ini diramalkan tumbuh dengan baik. Hingga perte- ngahan Juli 2012, penyerapan benih sawit dalam negeri sudah lebih dari 50 persen dari total benih yang dipersiapkan sebanyak 160 juta kecambah.

Tahun ini, pemerintah telah memperktat impor benih sawit menjadi 5-6 persen sebanyak 10-12 juta kecambah dari total produksi dalam negeri.

“Tahun lalu impor benih 10 persen. Pemerintah tetap membuka benih karena Indonesia juga ekspor benih,” papar dia.

Selain Malaysia, Indonesia juga impor benih sawit dari Papua Nugini, Kostarika, dan sedikit dari Thailand. Saat ini, benih sawit diproduksi oleh sembilan perusahaan dalam negeri dengan kapasitas produksi terpasang 210 juta kecambah.

Produsen benih itu di antaranya, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Socfindo, London Sumatera Plantation Indonesia, Bina Sawit Makmur, Tunggal Yunus Estate, Dami Mas Sejahtera, Tania Selatan, dan Bakti Tani Nusantara. Beberapa di antaranya telah mengekspor produknya ke Afrika.

Ketua Forum Pengembangan Perkebunan Strategis Berkelanjutan (FP2SB) Achmad Mangga Barani menilai, langkah pemerintah menghentikan sementara impor benih sawit dari Malaysia tersebut adalah wajar dan menjadi politik kesepadanan.

“Sebab, jika Malaysia bisa mengekspor benihnya ke Indonesia, semestinya Indonesia juga bisa,” ucap dia.

Namun, kemungkinan adanya permintaan benih dari Malaysia diperkirakan kecil karena negeri jiran itu sudah tidak memiliki lahan untuk ekspansi perkebunan sawit.

“Soal ada atau tidak (permintaan benih dari Malaysia) soal lain, ini politik kesepadanan saja,” tutur Mangga.

Menurut dia, sebenarnya kedua negara bisa tetap mengekspor benih sawitnya jika ada permintaan dari masing-masing negara.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon