KKB Anjlok, Laba BCA Turun 4,8% Jadi Rp 12,2 Triliun

KKB Anjlok, Laba BCA Turun 4,8% Jadi Rp 12,2 Triliun
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja berbagi pengalaman dengan para mahasiswa dan alumni Universitas Indonesia pada acara Seminar Persiapan Memasuki Dunia Kerja dan Komunikatif Efektif yang diadakan di Kampus UI Depok, Jawa Barat, Sabtu, 1 Oktober 2016. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal (Foto: BeritaSatu Photo / mohammad defrizal)
Lona Olavia / FER Senin, 27 Juli 2020 | 18:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi Covid-19 menggerus laba bersih konsolidasi PT Bank Central Asia Tbk (BCA) pada semester I 2020, yang turun 4,8 persen year on year (YoY) menjadi Rp 12,2 triliun, dibandingkan Rp 12,9 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: GK Plug and Play dan BCA Dukung Ekosistem Startup

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk Jahja Setiaatmadja mengatakan, pandemi berdampak pada perlambatan berbagai aktivitas bisnis di beragam industri, sehingga mengakibatkan lebih rendahnya permintaan kredit khususnya pada bulan Maret hingga Juni 2020.

"Penurunan laba ada dua, komponen laba dari yang sebelum dipotong provisi dan pajak, dan itu masih bagus. Kredit baru yang ekstrem (turunnya, Red) dalam kredit kendaraan bermotor (KKB). Kalau normalnya Rp 2,5-3 triliun per bulan, new booking, kemarin betul-betul drop sampai titik nadir terdalam Rp 200-300 miliar per bulannya. Tapi, kedepan dengan adanya masa transisi dari tadinya PSBB cukup ketat, paling tidak 50 persen hingga 60 persen dari kondisi yang normal dulu, maka kredit harapnya bisa tumbuh positif 1 persen hingga 2 persen tahun ini," ujar Jahja Setiatmadja dalam konferensi pers secara virtual, Senin (27/7/2020).

Namun, secara enam bulan, kredit masih bisa tumbuh sebesar 5,3 persen YoY menjadi Rp 595,1 triliun pada Juni 2020 ditopang oleh pertumbuhan kredit korporasi. BCA membukukan kredit korporasi sebesar Rp 257,9 triliun, meningkat 17,7 persen YoY, sementara kredit komersial dan UKM turun 0,9 persen YoY menjadi Rp184,6 triliun.

Baca Juga: Pandemi Covid-19 Percepat Adopsi Perbankan Digital di BCA

Pada portofolio kredit konsumer, KPR tumbuh flat 0,3 persen YoY menjadi Rp 91,0 triliun dan KKB turun 11,9 persen YoY menjadi Rp 42,5 triliun. Saldo outstanding kartu kredit turun 18,6 persen YoY menjadi Rp 10,6 triliun akibat penurunan konsumsi domestik. Total portofolio kredit konsumer turun 5,1 persen YoY menjadi Rp 146,9 triliun.

Di masa pandemi, jelas Jahja Setiatmadja, BCA mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang cukup tinggi. Dana giro dan tabungan (CASA) tumbuh 12,8 persen YoY, mencapai Rp 575,9 triliun dan berkontribusi sebesar 75,6 persen dari total DPK pada Juni 2020. BCA pun terus berinvestasi pada platform layanan transaksi perbankan, khususnya pada digital channels. Sehingga, jumlah rekening tumbuh 11,9 persen YoY mencapai 22,5 juta rekening hingga Juni 2020 didukung oleh layanan pembukaan rekening online.

"Di masa pendemi COVID-19 ini, kami bekerja sama dengan para pemangku kepentingan untuk mencari solusi guna mencapai pemulihan. Dalam memenuhi kebutuhan nasabah bertransaksi perbankan dari rumah (#BankingFromHome), kami terus melakukan berbagai inisiatif pengembangan digital channels yang kami miliki. Kami mengoptimalkan penggunaan teknologi untuk mendukung aktivitas operasional harian, baik untuk internal maupun ekternal,” tuturnya.

Baca Juga: BCA Dorong Sektor Riil untuk Cegah Resesi

Sementara itu, deposito berjangka tumbuh 13,6 persen YoY mencapai Rp 185,6 triliun. Secara keseluruhan total dana pihak meningkat 13,0 persen YoY menjadi Rp 761,6 triliun. Posisi likuiditas tetap kokoh dengan LDR sebesar 73,3 persen. "Likuiditas berada pada tingkat yang sehat untuk mengantisipasi berbagai kebutuhan yang tidak terduga, khususnya selama masa pandemi," imbuh Jahja.

Pada periode tersebut, BCA mencatatkan pendapatan bunga bersih naik 10,6 persen YoY menjadi Rp 27,2 triliun. Pencapaian
ini mendukung bank untuk membukukan total pendapatan operasional sebesar Rp 37,8 triliun, tumbuh 10,3 persen YoY. Di lain sisi, beban operasional tumbuh lebih rendah, sebesar 3,8 persen YoY menjadi Rp 16,2 triliun.

Dengan demikian, laba sebelum provisi dan pajak BCA mencapai Rp 21,5 triliun, tumbuh 15,8 persen YoY. Di mana pertumbuhan tersebut telah memberikan ruang untuk mengantisipasi kenaikan biaya pencadangan kredit yang sebesar Rp 6,5 triliun pada semester I, sejalan dengan peningkatan risiko potensi penurunan kualitas kredit. "Di semester II akan ada penambahan jumlah CKPN, itu bagian dari pembentukan resiko cadangan kredit," katanya.

Adapun, rasio kecukupan modal (CAR) berada pada level 22,9 persen, jauh diatas rasio yang ditetapkan oleh regulator. Rasio kredit bermasalah atau NPL sebesar 2,1 persen dibandingkan 1,4 persen pada Juni 2019. Bank membukukan rasio pengembalian terhadap aset (ROA) 3,1 persen dan pengembalian terhadap ekuitas (ROE) 15,6 persen pada semester I 2020.



Sumber: BeritaSatu.com