Terbitkan 1,38 Miliar Saham Baru, Solusi Bangun Indonesia Siap Rights Issue
Selasa, 30 Maret 2021 | 15:01 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) menyetujui penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issuedengan mengeluarkan sebanyak-banyaknya 1.380.000.000 saham baru dengan nilai nominal Rp 500 setiap saham.
Aksi korporasi ini sebagai kelanjutan dari perjanjian partnership agreement (PA) dengan investor asal Jepang, Taiheiyo Cement Corporation (TCC) dan emiten semen pelat merah PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) yang diteken belum lama ini.
"Aksi korporasi HMETD akan selesai tahun ini dalam rangka rights issue. Ini merupakan bagian perjanjian dengan Semen Indonesia dan Taiheiyo di awal Januari tahun ini," ujar Presiden Direktur Solusi Bangun Indonesia Aulia Mulki Oemar usai RUPST Solusi Bangun Indonesia, Selasa (30/3/2021).
Kemitraan antara TCC, SMGR, dan SMCB ini meliputi berbagai bidang usaha seperti produksi semen dan produk turunannya, sumber daya alam termasuk batu kapur, lingkungan hidup, bahan bangunan, perdagangan semen, serta penelitian dan pengembangan.
Sementara itu, perusahaan semen asal Jepang, Taiheiyo Cement Corporation, diketahui akan mengakuisisi saham milik Solusi Bangun Indonesia lewat rights issue senilai US$ 220 juta atau sekitar Rp 3 triliun. Aksi korporasi yang merupakan kelanjutan kerja sama antara Taiheiyo Cement dan Grup Semen Indonesia itu rencananya dilakukan pada Juli 2021.
Pada saat bersamaan, anak usaha Semen Indonesia juga menandatangani perjanjian induk jual beli (offtake) semen antara perseroan dengan TCC. Dengan penambahan modal itu, SMCB berharap bisa memperkuat struktur permodalan dan mengembangkan kegiatan usaha.
President and Representative Director Taiheiyo Cement Corporation Masafumi Fushihara menjelaskan bahwa HMETD akan dilakukan setidaknya pada Juli 2021 sesuai dengan aturan yang berlaku di Indonesia dan ketentuan rights issue di Jepang. "Harga pembelian saham ditetapkan Rp 2.300 per saham atau maksimal US$ 220 juta. Akan disesuaikan dengan kurs saat transaksi dengan minimum akuisisi saham sebesar 15%," tulis Fushihara dalam keterangan resminya.
Terkait kinerja tahun ini, Aulia mengharapkan akan terjadi kenaikan seiring program vaksinasi Covid-19, namun dengan mempertimbangkan tantangan bisnis berupa peningkatan kasus positif Covid-19, pembatasan sosial berskala besar, dan perang harga. "Kami optimistis kinerja akan baik dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan kami paling tidak sama dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia (4,5%-5,5%)," pungkasnya seraya menargetkan ekspor akan lebih dari 1,5 juta ton dengan tujuan Australia, Bangladesh, Filipina, dan Tiongkok.
Untuk mendukung target tersebut, perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) Rp 500 miliar. Di mana, dananya berasal dari kas internal. Adapun, penggunaan capex, sebagian besar untuk biaya pemeliharaan dan penguatan infrastruktur logistik perseroan.
Lebih lanjut, RUPST perseroan, jelas Aulia menyetujui pembagian dividen dari laba bersih 2020. Dividen akan dibagikan sebesar 30% dari laba perseroan, yakni Rp 195,2 miliar atau Rp 25,49 per lembar saham. Sedangkan 70% sisanya atau sekitar Rp 455,6 miliar akan digunakan untuk mendanai kegiatan operasional perseroan.
Adapun laba bersih yang diperoleh perseroan sepanjang 2020 sebesar Rp 650,98 miliar, naik dari periode sama tahun sebelumnya Rp 499,05 miliar. Namun, pendapatan turun menjadi Rp 10,10 triliun pada 2020 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 11,05 triliun.
Sementra, laba per saham dasar dan dilusi naik menjadi Rp 85 pada 2020 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 65. Perseroan pun mengantongi kas dan setara kas Rp 526,81 miliar pada 2020 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 386,75 miliar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




