BI Proyeksi The Federal Reserve Naikkan Suku Bunga 7 Kali
Kamis, 17 Maret 2022 | 16:25 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia memproyeksi Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve akan menaikan suku bunga acuan sebanyak tujuh kali di tahun ini dari semula perkiraannya hanya lima kali.
Proyeksi terbaru ini menyusul kebijakan The Federal Reserve pada hari Rabu (16/3/2022) yang resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 0,25% hingga 0,5%.
Gubernur Bank Indonesia,Perry Warjiyo mengatakan Bank Sentral AS akan menaikkan suku bunga sebanyak 7 kali secara berturut setiap bulannya. Namun proyeksi ini sudah memasukan kebijakan The Fed terbaru yang menaikkan suku bunganya sebesar 25 bps.
Meski demikian, Perry enggan menjelaskan berapa tingkat kenaikan suku bunga The Fed pada bulan berikutnya.
"Pembahasan kami tunjukan, Fed Fund Rate semula kami perkirakan lima kali tahun ini, dengan statement The Fed dan respon pasar menujukan ada kemungkinan Fed Fund Rate alami kenaikan tujuh kali termasuk yang sudah ada. Jadi kemungkinan Fed Fund Rate akan naik (suku bunga) setiap FOMC (Federal Open Market Committee) sisa tahun ini," tuturnya dalam Konferensi Pers RDG BI Kamis (17/3/2022).
Baca Juga: Pertama Sejak 2018, Akhirnya Fed Naikkan Suku Bunga Acuan
Kenaikan tersebut, lanjut Perry, dilakukan untuk merespons percepatan pemulihan ekonomi AS dan melonjaknya tingkat inflasi akibat kenaikan harga energi.
Alhasil kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps turut berimplikasi pada kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dari yang semula 1,3% hingga saat ini di posisi 2,13%. Bahkan lonjakan yield dinilainya masih berpotensi terjadi di tahun depan.
"Sekarang yield US Treasury juga sudah mengalami kenaikan. Dulunya 1,3% kemudian naik 1,9% kemungkinan bisa naik 2,1% mungkin setahun lagi bisa naik di posisi 2,3%" tuturnya.
Baca Juga: Bank Indonesia Masih Tahan BI Rate di 3,5%
Selain kenaikan yield US Treasury, kenaikan suku bunga The Fed juga akan ditransmisikan pada tingkat imbal hasil surat utang pemerintah tenor 10 tahun yang saat ini sudah berada di level 6,7%.
Oleh karena itu ia memastikan akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan terkait yield SBN.
"Kami terus koordinasi dengan Kementerian Keuangan, terkait yield SBN. Karena jika US Treasury naik, maka secara natural yield SBN akan alami kenaikan sebab mekanisme pasar dalam lelang pasar perdana bawa ke situ. Ini respon yang telah dan sedang akan dilakukan," tegasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




