Rupiah Melemah, Segelintir Orang Diuntungkan tetapi Mayoritas Tertekan
Kamis, 14 Mei 2026 | 11:40 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak selalu membawa dampak yang sama bagi seluruh masyarakat. Pada satu sisi, kondisi ini menguntungkan kelompok yang berpenghasilan dalam dolar AS. Namun, di sisi lain, pelemahan rupiah justru menekan daya beli serta meningkatkan biaya bagi masyarakat dan pelaku usaha yang bergantung pada impor.
Fenomena tersebut dirasakan langsung oleh Fonda, seorang pelaut asal Lampung yang baru kembali dari perjalanan ke sejumlah negara, mulai dari Florida, San Francisco, Taiwan, hingga Jakarta.
Fonda mengaku memilih menahan dolar AS miliknya dalam bentuk tunai di tengah kondisi rupiah yang fluktuatif.
“Karena dolar lagi naik, saya keep cash dahulu,” ujarnya kepada Beritasatu.com saat ditemui di VIP Money Changer Menteng, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Ia kemudian menukarkan dolar AS ke rupiah karena nilai tukar saat ini dinilai lebih menguntungkan. Dana hasil penukaran tersebut akan digunakan untuk kebutuhan keluarga hingga investasi.
Meski demikian, Fonda menilai pelemahan rupiah tidak selalu menjadi kabar baik bagi masyarakat luas. Menurut dia, hanya sebagian kecil pihak yang menikmati keuntungan dari penguatan dolar AS.
“Senang mungkin bagi sebagian orang kalau dolar naik, tetapi itu ibarat satu banding sepuluh. Satu orang senang, tetapi sepuluh orang sedih,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya stabilitas nilai tukar agar dampak ekonomi tidak semakin timpang di masyarakat.
“Lebih baik stabil saja, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah,” tuturnya.
Sementara itu, Bank Indonesia optimistis nilai tukar rupiah akan kembali stabil dan cenderung menguat meski saat ini masih berada di kisaran Rp 17.500 per dolar AS. Keyakinan tersebut didasarkan pada fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai tetap solid dibandingkan banyak negara lain.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, tercermin dari pertumbuhan ekonomi, inflasi yang terjaga, pengelolaan utang luar negeri yang prudent, hingga prospek ekonomi yang tetap positif.
“Jadi tidak ada alasan untuk rupiah tidak menguat, tidak stabil,” ungkapnya saat ditemui di kantor pusat BI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Denny menjelaskan BI akan terus hadir di pasar domestik maupun global untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Bank sentral juga terus bersinergi dengan kementerian dan lembaga terkait guna memperkuat rupiah.
Adapun pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dunia lebih dari 40% sejak akhir Februari 2026, yang turut memperkuat dolar AS.
Tekanan juga datang dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Kenaikan suku bunga membuat imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun mendekati 4,5%, naik dari sekitar 4% sebelumnya, disertai penguatan indeks dolar AS.
Sementara dari dalam negeri, meningkatnya permintaan dolar AS turut menekan rupiah seiring musim repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan valuta asing untuk musim haji.
Meski sempat berada di level Rp 17.500 per dolar AS, rupiah berhasil ditutup menguat pada perdagangan Rabu (13/5/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah naik 0,30% atau 53 poin menjadi Rp 17.475 per dolar AS.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
1
B-FILES
Libur Kenaikan Isa Almasih, Penumpang Bandara Soetta Capai 131.000




