ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Harga Rumah Sekunder Tetap Naik meski Rupiah Masih Melemah

Kamis, 14 Mei 2026 | 13:14 WIB
AD
AD
Penulis: Alfi Dinilhaq | Editor: AD
ILustrasi rumah sekunder.
ILustrasi rumah sekunder. (Feriawan Hidayat/Beritasatu)

Jakarta, Beritasatu.com - Marketplace properti Rumah123 mencatat harga rumah sekunder di Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan meski nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami tekanan.

Head of Research Rumah123 Marisa Jaya mengatakan, Flash Report Mei 2026 by Rumah123 menunjukkan harga rumah sekunder nasional naik 0,1% secara bulanan (month to month/mom) dan tumbuh 0,8% secara tahunan (year on year/yoy) pada April 2026.

Sebanyak 11 kota tercatat masih membukukan pertumbuhan harga tahunan positif. Kenaikan tertinggi terjadi di Denpasar sebesar 2,0%, disusul Bogor 1,8%, dan Surakarta 1,5%.

ADVERTISEMENT

“Pasar properti saat ini tidak sedang melemah sepenuhnya, tetapi sedang mengalami reposisi perilaku konsumen. Aktivitas transaksi memang lebih selektif dibanding periode ekspansif sebelumnya, tetapi fundamental kebutuhan hunian dan permintaan konsumen yang ingin menghuni (end user) masih tetap terjaga,” ujar Marisa dikutip dari Antara, Kamis (14/5/2026).

Menurut dia, pasar rumah sekunder masih ditopang kebutuhan end user, fleksibilitas harga, kesiapan unit untuk ditempati, serta preferensi konsumen terhadap kawasan dengan harga yang lebih kompetitif.

Secara spasial, pencarian properti masih terkonsentrasi di kawasan penyangga Jabodetabek. Tangerang menjadi wilayah dengan proporsi listing enquiries terbesar secara nasional sebesar 15,1%, diikuti Jakarta Selatan 11,0% dan Jakarta Barat 9,3%.

Rumah123 menilai kawasan suburban kini berkembang menjadi pusat pertumbuhan baru bagi pasar hunian end user, bukan sekadar alternatif dari pusat kota.

Marisa menyebut kawasan, seperti Tangerang, Bekasi, dan Bogor masih menjadi incaran utama konsumen karena menawarkan harga yang relatif lebih terjangkau, ditopang pengembangan infrastruktur dan tumbuhnya pusat ekonomi baru.

Di tengah tekanan ekonomi dan meningkatnya sensitivitas terhadap cicilan kredit pemilikan rumah (KPR), konsumen kini lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian properti.

Rumah123 melihat adanya perubahan perilaku pembeli dalam beberapa kuartal terakhir. Konsumen kini lebih memprioritaskan keterjangkauan harga, konektivitas kawasan, kesiapan hunian, serta potensi kenaikan nilai jangka panjang dibanding sekadar lokasi premium.

Selain itu, Rumah123 mencatat rumah dengan luas bangunan hingga 60 meter persegi menjadi segmen dengan pertumbuhan median harga tertinggi secara tahunan.

Surakarta mencatat lonjakan median harga mencapai 23,5% pada segmen tersebut. Hal itu menunjukkan rumah terjangkau masih menjadi penopang utama kebutuhan masyarakat di tengah tekanan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi.

“Yang berubah saat ini bukan kebutuhan masyarakat untuk memiliki rumah, melainkan cara konsumen mengambil keputusan. Di tengah tekanan ekonomi dan pelemahan Rupiah, konsumen menjadi jauh lebih rasional,” kata Marisa.

“Mereka lebih sensitif terhadap cicilan, lebih mempertimbangkan kesiapan unit, serta lebih fokus pada kawasan yang menawarkan keseimbangan antara harga, aksesibilitas, dan potensi kenaikan nilai jangka panjang,” pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon