ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

800 Petani Kalteng Ikuti Program Bertani Berkelanjutan

Kamis, 30 Juni 2022 | 12:22 WIB
UW
UW
Penulis: Unggul Wirawan | Editor: WIR
Aliansyah bercocok tanam jeruk di desa Babaung, Kecamatan Pulau Hanaut, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, tanpa membakar dan tanpa memakai bahan kimia atau Tanpa Bakar Tanpa Kimia (TBTK).
Aliansyah bercocok tanam jeruk di desa Babaung, Kecamatan Pulau Hanaut, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, tanpa membakar dan tanpa memakai bahan kimia atau Tanpa Bakar Tanpa Kimia (TBTK). (RMU/Dokumentasi)

Sampit, Beritasatu.com- Sekitar 800 petani dari 16 desa telah berinisiatif untuk mempraktekkan cara membuka lahan dan bercocok tanam secara berkelanjutan, yakni tanpa membakar dan tanpa memakai bahan kimia atau Tanpa Bakar Tanpa Kimia (TBTK).

Di desa Babaung, Kecamatan Pulau Hanaut, Kotawaringin Timur, Aliansyah bercocok tanam jeruk, kacang panjang, cabai dan beberapa jenis sayuran lain, Pada Selasa (28//6/2022), dia mengungkapkan pengalamannya setelah ikut serta dalam program Sekolah Tani Agroekologi.

"Saat saya hampir menyerah, saya diperkenalkan pada program STA oleh PT RMU, dan diajak mengikuti temu lapangan di Desa Kelampan. Di sana, saya melihat sendiri hasil dari para petani yang sudah menerapkan praktek pertanian tanpa bakar dan tanpa kimia, dengan panen yang sangat memuaskan," kenang Aliansyah, seorang petani sayur dan buah dan peserta program Sekolah Tani Agroekologi.

Baca Juga: Petani Kalsel dan Kalteng Panen Padi Lokal

ADVERTISEMENT

Dengan total lahan garapan seluas sekitar 780 hektar, Aliansyah dan para petani lain tergabung dalam program Sekolah Tani Agroekologi yang digagas oleh PT Rimba Makmur Utama (RMU) melalui Katingan Mentaya Project (KMP), ssatuinisiatif restorasi dan konservasi ekosistem hutan gambut seluas 157.875 hektar di Kalimantan Tengah.

"Hasil yang saya peroleh sangat baik. Yang paling memuaskan adalah panen jeruk, dimana dalam 3 bulan saya bisa memanen 1 ton jeruk. Kini, kebun jeruk saya selalu berbuah sepanjang tahun, tanpa henti, dan tidak mengenal musim," ujarnya.

Aliansyah memaparkan, satu kunci sukses dalam teknik bertanam TBTK adalah perawatan ekstra di awal untuk mengembalikan kondisi tanah dan tanaman yang sudah rusak akibat bahan kimia yang digunakan sebelumnya. Ia juga harus lebih tekun memotong rumput, karena dalam teknik ini tidak digunakan bahan kimia apapun selama proses penanaman. Rumput yang dipotong itu kemudian menjadi pupuk organik yang baik bagi kesuburan tanah.

Baca Juga: Petani Kalsel Siap Pasok Kebutuhan Bawang Putih Nasional

Dengan mempraktekkan cara bercocok tanam yang ramah lingkungan , Aliansyah beserta banyak petani lain di Kalimantan Tengah telah menjadi bagian dari solusi mengatasi perubahan iklim.

"Ekosistem hutan rawa gambut merupakan ekosistem yang memiliki cadangan karbon tertinggi di dunia, dan sangat penting dijaga sebagai salah satu upaya untuk mengatasi masalah pemanasan global. Masyarakat yang bermukim di sekitar area hutan gambut berperan utama dalam menjaga kelestarian hutan, dan upaya konservasi seperti apapun tidak akan efektif tanpa peran serta mereka. Itulah yang menggerakkan kami di RMU untuk bekerja sama," kata General Field Manager RMU Taryono Darusman.

Menuruut Taryono, Sekolah Tani Agroekologi adalah salah satu wujud dari kerjasama tersebut. Melalui program ini, RMU bersama para mitra dan warga bahu membahu untuk memberikan solusi bagi para petani untuk dapat terus mempertahankan dan meningkatkan penghasilannya melalui cocok tanam, sambil memastikan bahwa ekosistem hutan tetap terjaga.

Baca Juga: Nilai Tukar Petani Kalsel Turun

Dalam program ini, petani diberi pelatihan mengenai cara bertani yang berkelanjutan, dan mendapat akses ke pendanaan mikro yang disiapkan oleh RMU.

Seperti diketahui, pembukaan lahan yang sering dilakukan selama ini, yakni dengan metode slash and burn (babat dan bakar), berisiko besar terhadap terjadinya kebakaran hutan yang lebih luas.

Selain itu, lahan yang dibuka dengan cara dibakar atau dengan menggunakan bahan kimia tanpa kendali akan kehilangan kesuburannya dalam jangka panjang, sehingga tidak akan efektif lagi untuk kegiatan cocok tanam, sehingga petani terpaksa membuka lahan baru.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Legislator Dorong Gudang Bulog Lebih Dekat dengan Petani

Legislator Dorong Gudang Bulog Lebih Dekat dengan Petani

EKONOMI
Pemerintah Komitmen Jaga Petani Tetap Untung dan Harga Terjangkau

Pemerintah Komitmen Jaga Petani Tetap Untung dan Harga Terjangkau

EKONOMI
Mentan Amran Sebut Program MBG Serap Hasil 165 Juta Petani

Mentan Amran Sebut Program MBG Serap Hasil 165 Juta Petani

NASIONAL
Mentan: 160 Juta Petani dan Peternak Suplai Kebutuhan Dapur MBG

Mentan: 160 Juta Petani dan Peternak Suplai Kebutuhan Dapur MBG

EKONOMI
NTP Februari Naik 1,5 Persen, Bukti Kesejahteraan Petani Meningkat

NTP Februari Naik 1,5 Persen, Bukti Kesejahteraan Petani Meningkat

EKONOMI
Kendalikan Alih Fungsi Lahan, Mentan Lindungi Sawah dan Petani Kecil

Kendalikan Alih Fungsi Lahan, Mentan Lindungi Sawah dan Petani Kecil

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon