ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Depresiasi Rupiah Diprediksi Hambat Pertumbuhan Kredit

Selasa, 2 Agustus 2022 | 16:34 WIB
H
FH
Penulis: Herman | Editor: FER
Chief Economist BRI Anton Hendranata.
Chief Economist BRI Anton Hendranata. (Beritasatu Photo)

Jakarta, Beritasatu.com - Chief Economist BRI yang juga Direktur Utama BRI Research Institute Anton Hendranata mengungkapkan, berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh BRI Research Institute, depresiasi rupiah diperkirakan dapat menghambat pertumbuhan kredit industri, serta meningkatkan risiko kredit atau non-performing loan (NPL).

Pasalnya, kata Anton, ketika rupiah mengalami pelemahan, harga bahan baku impor lebih mahal bagi produsen nasional, sehingga biaya yang dikeluarkan perusahaan akan relatif lebih besar.

"Dengan kondisi tersebut dan ceteris paribus, maka profit perusahaan akan cenderung menurun karena biaya produksi yang naik, sehingga ruang perusahaan untuk ekspansi akan relatif terbatas. Kondisi depresiasi rupiah tersebut, menyebabkan kredit perbankan akan mengalami penurunan, dan di sisi yang lain meningkatkan risiko kredit perbankan lewat kenaikan NPL," kata Anton dalam acara Mid Year 2022 Economic Outlook secara daring, Selasa (2/8/2022).

Baca Juga: IHSG di Bawah Tekanan Depresiasi Rupiah

ADVERTISEMENT

Anton juga memprediksi Bank Indonesia (BI) akan segera menaikkan suku bunga acuannya. Prediksi tersebut didasarkan pada kondisi saat ini, di mana tingkat inflasi inti mulai meningkat dan nilai tukar rupiah yang terdepresiasi.

"Ada kemungkinan BI dalam waktu dekat akan menaikkan suku bunga acuannya. Sebelumnya, BI sudah melakukan normalisasi likuiditasnya melalui kenaikan GWM (giro wajib minimum) sampai September 9%. Ke depan, mungkin tidak lama lagi, BI akan menaikkan suku bunganya," kata Anton.

Apabila nanti BI menaikkan suku bunga acuannya, hal tersebut menurut Anton tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Menurutnya, suku bunga pinjaman bukan faktor utama pendorong pertumbuhan kredit industri, namun konsumsi dan daya beli yang menjadi faktor utama.

Baca Juga: Business Round Up: Cerita Muram Depresiasi Rupiah

"Secara umum memang terbukti bahwa pertumbuhan kredit dipengaruhi oleh beberapa variabel. Yang pertama adalah variabel konsumsi rumah tangga, yang kedua variabel daya beli masyarakat, dan yang ketiga adalah suku bunga pinjaman, kemudian yang berikutnya adalah NPL dan penjualan eceran," jelasnya

Anton menambahkan, variabel yang paling sensitif atau elastisitasnya paling tinggi adalah pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat. "Jadi, walaupun BI menaikan suku bunga, pertumbuhan kredit akan tetap terakselerasi, asalkan daya beli masyarakat bisa dijaga dengan baik," kata Anton.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon