Logo BeritaSatu

Depresiasi Rupiah Diprediksi Hambat Pertumbuhan Kredit

Selasa, 2 Agustus 2022 | 16:35 WIB
Oleh : Herman / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Chief Economist BRI yang juga Direktur Utama BRI Research Institute Anton Hendranata mengungkapkan, berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh BRI Research Institute, depresiasi rupiah diperkirakan dapat menghambat pertumbuhan kredit industri, serta meningkatkan risiko kredit atau non-performing loan (NPL).

Pasalnya, kata Anton, ketika rupiah mengalami pelemahan, harga bahan baku impor lebih mahal bagi produsen nasional, sehingga biaya yang dikeluarkan perusahaan akan relatif lebih besar.

"Dengan kondisi tersebut dan ceteris paribus, maka profit perusahaan akan cenderung menurun karena biaya produksi yang naik, sehingga ruang perusahaan untuk ekspansi akan relatif terbatas. Kondisi depresiasi rupiah tersebut, menyebabkan kredit perbankan akan mengalami penurunan, dan di sisi yang lain meningkatkan risiko kredit perbankan lewat kenaikan NPL," kata Anton dalam acara Mid Year 2022 Economic Outlook secara daring, Selasa (2/8/2022).

Anton juga memprediksi Bank Indonesia (BI) akan segera menaikkan suku bunga acuannya. Prediksi tersebut didasarkan pada kondisi saat ini, di mana tingkat inflasi inti mulai meningkat dan nilai tukar rupiah yang terdepresiasi.

"Ada kemungkinan BI dalam waktu dekat akan menaikkan suku bunga acuannya. Sebelumnya, BI sudah melakukan normalisasi likuiditasnya melalui kenaikan GWM (giro wajib minimum) sampai September 9%. Ke depan, mungkin tidak lama lagi, BI akan menaikkan suku bunganya," kata Anton.

Apabila nanti BI menaikkan suku bunga acuannya, hal tersebut menurut Anton tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Menurutnya, suku bunga pinjaman bukan faktor utama pendorong pertumbuhan kredit industri, namun konsumsi dan daya beli yang menjadi faktor utama.

"Secara umum memang terbukti bahwa pertumbuhan kredit dipengaruhi oleh beberapa variabel. Yang pertama adalah variabel konsumsi rumah tangga, yang kedua variabel daya beli masyarakat, dan yang ketiga adalah suku bunga pinjaman, kemudian yang berikutnya adalah NPL dan penjualan eceran," jelasnya

Anton menambahkan, variabel yang paling sensitif atau elastisitasnya paling tinggi adalah pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat. "Jadi, walaupun BI menaikan suku bunga, pertumbuhan kredit akan tetap terakselerasi, asalkan daya beli masyarakat bisa dijaga dengan baik," kata Anton.

Baca selanjutnya
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati sekalgus Ketua KSSK mengatakan, ...


hal 1 dari 2 halaman

Halaman: 12selengkapnya

Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Brand Dituntut Kreatif di Tengah Ketatnya Kompetisi Digital

Peningkatan jumlah pengguna internet dari tahun ke tahun memberikan peluang bagi pelaku bisnis dalam meningkatkan brand awareness.

EKONOMI | 30 September 2022

Asabri Serahkan Santunan Program JKM Prajurit TNI AU

Asabri menyerahkan santunan dari manfaat program JKM (Jaminan Kematian) kepada ahli waris Serda Khodir yang meninggal dunia saat aktif berdinas.

EKONOMI | 30 September 2022

Jasa Raharja Dukung Pengembangan Ekowisata di Wakatobi

Kontribusi Jasa Raharja untuk mendukung pengembangan ekowisata di Wakatobi tersebut diberikan melalui sejumlah kegiatan.

EKONOMI | 30 September 2022

Kawasan TOD Dukung Mobilitas dan Hemat Biaya Transportasi

Konsep TOD mengintegrasikan desain ruang kota untuk menyatukan orang, kegiatan, bangunan, dan ruang publik melalui konektivitas.

EKONOMI | 30 September 2022

Bank Muamalat Bukukan Pembiayaan Rp 18,93 Triliun

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk membukukan total pembiayaan mencapai Rp 18,93 triliun pada semester I 2022, turun signifikan 32,12%.

EKONOMI | 30 September 2022

Majukan SDM Pertanian, Petrokimia Gresik Resmikan Program Sekolah Makmur

Petrokimia Gresik meresmikan program “Sekolah Makmur” untuk memajukan SDM pertanian dengan pemberangkatan 30 Taruna Makmur ke berbagai daerah

EKONOMI | 30 September 2022

Xurya Bantu Perusahan Beralih ke Energi Ramah Lingkungan

Xurya, penyedia solusi energi bersih dan terbarukan menawarkan skema sewa tanpa investasi pada perusahaan di Indonesia.

EKONOMI | 30 September 2022

Menperin: Indonesia Jangan Hanya Jadi Konsumen Produk Halal

Indonesia seharusnya tidak sekedar menjadi konsumen produk halal, tetapi menjadi produsen produk halal terbesar di dunia.

EKONOMI | 30 September 2022

Kepemilikan Asing di SBN Turun, Ternyata Ada Untungnya

Menurunnya porsi kepemilikan asing terhadap SBN Indonesia saat ini justru memberikan keuntungan bagi Indonesia karena tidak mudah terguncang.

EKONOMI | 30 September 2022

500 Pakar dan Praktisi Diajak Majukan Ekonomi Digital Indonesia

Dentsu Indonesia menyebut potensi ekonomi digital Indonesia sangat besar dan diprediksi bisa tumbuh secara eksponensial

EKONOMI | 30 September 2022


TAG POPULER

# Kevin Sanjaya


# Es Teh Indonesia


# Anies Baswedan


# Pertalite Boros


# Ketiak Basah


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Legislator: RUU Sisdiknas Tak Ikuti Peta Jalan Pendidikan

Legislator: RUU Sisdiknas Tak Ikuti Peta Jalan Pendidikan

NEWS | 6 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings