Pilpres 2014, Pertaruhan Popularitas Jokowi
Rabu, 21 Agustus 2013 | 16:16 WIB
Berbagai survei mengenai elektabilitas calon presiden (capres) semakin sering dilakukan menjelang pemilihan umum (pemilu) 2014. Hasilnya, dari sejumlah tokoh yang digadang-gadang menjadi calon presiden (capres) pada Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2014, nama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi, makin berkibar.
Entah hasil survei itu merupakan pesanan atau merupakan skenario parpol untuk mengetahui elektabilitas bakal capres yang diajukan, nama Jokowi tetap saja membubung. Namun, sepertinya berbagai hasil survei tersebut tak digubris oleh PDIP, partai tempat bernaung Jokowi. Menjadi teka-teki menarik tatkala parpol lain telah mendeklarasikan bakal capres dan cawapresnya, PDIP bergeming dengan skenario internalnya. Meski kadernya menempati peringkat atas survei, PDIP belum memberi sinyal untuk mengusung Jokowi sebagai capres atau cawapres.
Menurut pakar politik dari LIPI, Siti Zuhro, parpol mana pun kalau kadernya dielu-elukan akan gembira. Apalagi bila korelasinya positif terhadap elektabilitas partai karena kader seperti Jokowi dianggap sebagai pendongkrak peningkatan perolehan suara PDI-P. Masalahnya, kata Siti, apakah dengan dukungan tersebut, lantas PDIP serta merta mendeklarasikan Jokowi sebagai capres 2014?
Hal ini masih menjadi teka-teki, mengingat sejauh ini Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri belum merespons hasil survei yang mengunggulkan Jokowi. "Tampaknya PDIP masih melakukan kalkulasi politik secara hati-hati sambil membaca perkembangan dan kecenderungan calon-calon yang bakal ikut berlaga di Pilpres 2014. Kalau PDIP sampai saat ini belum mengumumkan capresnya, ini karena PDIP menghitung secara cermat dan membuat alternatif-alternatif yang menguntungkan partai," katanya.
Bagi PDIP, Siti menerangkan, bila memenangi pemilu legislatif 2014, tak tertutup kemungkinan partai itu akan mengusung pasangan capres-cawapres dari kadernya sendiri. PDIP tampaknya cukup yakin mengusung kadernya sendiri dan hal ini ditunjukkan dalam beberapa kali pilkada sepanjang 2012-2013 di beberapa daerah.
"Bisa jadi, skenario pertama Megawati-Jokowi dan skenario kedua, Jokowi-Puan," katanya.
Kalau pemilu diadakan hari ini dan salah satu calonnya adalah Jokowi, maka Jokowi akan menang. Namun itulah ujian sesungguhnya. Apakah Jokowi seorang politisi biasa atau seorang politisi yang tahu benar memanfaatkan momentum dan memandang politik hanya masalah berkuasa atau tidak. Menurutnya, Jokowi adalah negarawan yang melihat politik adalah pengabdian dan amanah yang berat yang perlu dibuktikan dengan kinerja bukan jargon dan pencitraan media.
Momentum adalah faktor penting dalam dunia politik. Banyak tokoh yang berhasil meraih kursi kekuasaan karena momentum itu. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) salah satunya. Sebagai figur, posisi SBY pada tahun 2004 sama persis seperti Jokowi saat ini, yakni banyak diliput media sebagai kandidat terkuat alias media darling. Jadi sekarang bola ada di tangan Jokowi, apakah ingin menunggu pembuktian dahulu atas janjinya dan terus memelihara momentum atau sebaliknya bergerak cepat seperti pendahulunya dengan mengandalkan media dan meninggalkan Jakarta sebagai ladang pembuktian kinerja.
Bola juga ada di tangan PDIP, khusunya Megawati. Apakah ingin melebarkan peluang pemilu dengan mengapitalisasi Jokowi atau tidak. PDIP saat ini sudah punya figur pengganti Megawati yang ada pada diri Jokowi. "Jokowi adalah magnet suara jika PDI-P mampu mengapitalisasinya. Ini sudah dilakukan di beberapa pilkada, di mana Jokowi aktif berkampanye," ujar Siti.
Jika Jokowi tidak maju pada Pilpres 2014, kandidat yang paling berpeluang memenangi pilpres adalah Prabowo. "Masalahnya apakah kita yakin pada 2019, saat Jokowi sudah punya pembuktian, akan ada pemilu. Jangan-jangan kita kembali ke era strong leader ala Orde Baru. Rakyat berharap cemas antara ingin Jokowi segera tampil atau menunggu dulu," ujarnya.
Alih Generasi
Sedangkan, Board of Advisor Center for Strategic and International Studies (CSIS) Jeffrie Geovanie mengatakan Pemilu 2014 merupakan momentum terjadinya peralihan generasi. ''Dan faktanya, saat ini hanya PDIP dan Demokrat, partai yang memberikan ruang yang luas untuk munculnya pemimpin muda pada 2014,'' ujarnya.
Saat ditanya soal kemungkinan PDIP dan Demokrat membangun koalisi pada 2014, Jeffrie menuturkan masih terlalu dini bagi kedua partai itu untuk membangun koalisi.
'"Biarkan saja berjalan natural. Biarkan juga Megawati meneruskan tradisi positif baru di PDIP agar makin banyak lahir pemimpin-pemimpin muda, seperti Jokowi dan Ganjar Pranowo. Biarkan juga SBY menyiapkan dan menjalankan konvensi capres di Partai Demokrat agar lahir pemimpin-pemimpin muda baru, seperti Gita Wirjawan dan Mahfud MD,'' ungkapnya.
Jefrrie juga menilai sah-sah saja bila muncul pendapat yang mengatakan bahwa semakin mustahil rekonsiliasi PDIP dan Demokrat, karena Taufiq Kiemas telah tiada. "Kenegarawanan Megawati dan SBY, juga kebesaran hati mereka berdua yang sama-sama tulus menyiapkan pemimpin muda pada 2014 yang justru menjadi modal kedua partai tersebut berkoalisi. Kita lihat saja, tidak lama lagi," tutur Jeffrie.
Ia menambahkan, saat ini juga belum waktunya untuk membicarakan siapa yang menjadi capres-cawapres jika PDIP dan Demokrat berkoalisi. ''Cara yang elegan adalah dengan melihat hasil Pemilu 2014. Kalau PDI-P mengungguli Demokrat sangat wajar capresnya dari PDIP dan cawapresnya dari Demokrat. Begitu pun sebaliknya," katanya.
Jeffrie memprediksi PDIP bakal mengusung Jokowi, mengingat melesatnya elektabilitasnya dalam tiga bulan terakhir ini. ''Kalau dari Demokrat dugaan saya masih terpecah pada tiga figur, Gita Wirjawan, Mahfud MD, dan Marzuki Alie,'' katanya.
Peneliti pada Maarif Institute, Endang Tirtana menambahkan sejauh ini hanya PDIP dan Demokrat saja yang terlihat mulai melakukan berbagai persiapan menghadapi Pemilu 2014. Kedua partai itu juga begitu terbuka menerima kelompok muda. ''Hal itu menyebabkan partai ini meningkat popularitasnya di mata pemilih,'' ucap Endang.
Lalu akankah PDIP tetap akan mengusung anak muda sepeninggal Taufiq Kiemas? Endang menegaskan, hal itu harus dijawab dengan aksi konkret oleh PDIP. Menurut Endang, saat ini ada 70 persen kelompok usia produktif (18-40 tahun) yang menjadi potensi pemilih. Representasi kelompok muda menjadi penting, baik bagi elektabilitas partai maupun bagi keberlangsungan partai itu sendiri.
"Saya kira jika kandidat yang maju adalah kelompok muda, maka mereka bisa menjadi corong aspirasi yang tepat. Ini semacam testing theory of presence, melakukan tes atas teori kehadiran/representasi," ujarnya.
Detik-detik Terakhir
Menanggapi hal itu, Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristianto menyatakan partainya belum menentukan capres dan cawapres untuk Pilpres 2014. Penentuan pasangan capres-cawapres diserahkan sepenuhnya kepada Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.
Mega masih berpeluang maju menjadi capres dan Jokowi disebut-sebut akan menjadi cawapres mendampingi Mega. Namun, Hasto enggan berkomentar banyak terkait isu Mega-Jokowi. "Mega-Jokowi itu biar rakyat yang tentukan. Ini kan pemilu rakyat bukan pemilu PDIP," katanya.
Menurutnya, memimpin Indonesia tidaklah mudah. Apalagi menyangkut politik luar negeri. "Ketegangan di kawasan pasifik ke depan makin besar. Diperlukan posisi Indonesia yang kuat seperti zaman Bung Karno," ucapnya.
Karena itu, seluruh pihak tidak boleh sembarangan menentukan pemimpin. "Perlu perpaduan antara pemimpin yang memegang teguh prinsip dan yang mengimplementasikan masalah rakyat," tegasnya.
Sekretaris Jenderal PDIP Tjahjo Kumolo mengatakan dirinya mengapresiasi berbagai survei yang menyatakan bahwa Jokowi lebih populer dibanding Megawati yang notabene adalah ketua umum PDIP. "Pertama, kami mengapresiasi lembaga survei. Setiap lembaga survei kita cermati step by step, sampai pada satu titik nanti PDIP akan mendeklarasikan nama calon presiden (capres). Soal namanya masih nanti. Kedua, survei bukan menjadi satu-satunya alat untuk pengambilan keputusan politik partai. Tapi nama Jokowi tetap jadi pertimbangan partai," ujarnya.
Tjahjo menambahkan, PDIP masih akan terus melihat perkembangan, bagaimana kondisi riilnya sampai awal tahun depan. Pihaknya cukup berbangga atas kehadiran Jokowi di tubuh PDIP, karena sering diberitakan di media, sehingga tidak bisa dimungkiri ikut menaikkan popularitas partai dan ketua umum. "Kalau dikatakan karena faktor media, iklan ya kami cukup berbangga ada Jokowi. Jadi, Bu Mega masih masuk dalam ranking. Kan Bu Mega jarang iklan," tuturnya.
Alasan PDIP belum mendeklarasikan capres karena kesengajaan serta masih menunggu waktu yang tepat, sambil mencermati aspirasi rakyat terkait pemberitaan di media massa tentang hasil survei tersebut.
Ketika ditanya apakah Megawati merestui Jokowi untuk maju di bursa capres pada Pilpres 2014, Tjahjo mengaku belum dapat berkomentar. Namun, ia mengisyaratkan bahwa kemungkinan itu sangat besar.
"Saya belum bisa komentar, karena hasil survei bukan tolok ukur untuk menentukan keputusan politik. Saya kira partai yang cerdas tidak akan meninggalkan apa yang menjadi aspirasi masyarakat. Partai juga mempunyai komitmen. Jadi, memimpin Indonesia lho ini, bukan memimpin negara yang kecil," katanya.
Sementara terkait posisi PDIP yang menjadi partai terpopuler di tahun 2013, menurutnya, hal itu terjadi karena konsistensi PDIP. Di sisi lain, dia masih menganggap wajar apabila partai masih memiliki kelemahan, sehingga elektabilitasnya masih mungkin berubah.
"Tapi kami konsisten 10 tahun di luar pemerintahan dan mengkritisi (pemerintahan, Red) secara konstutisional lewat DPR. Di daerah kami berebut lewat pilkada yang demokratis. Kami berharap pada Pemilu 2014, KPU tetap netral dan transparan. Intelijen negara juga netral dan tidak ada kepentingan negara yang ikut. Sebagai pimpinan parpol, kami harus terus optimistis," imbuhnya.
Sedangkan, pengamat politik dari Soegeng Sarjadi School of Goverment (SSSG) Fadjroel Rachman menilai keunggulan Jokowi dalam survei tak lepas dari sifat rendah hati dan kedekatan dengan rakyat yang konsisten.
Selain itu, yang menjadikan Jokowi tokoh paling populer di masyarakat adalah prestasinya memimpin Solo dan Jakarta, yang meskipun baru sebentar tetapi sudah memperlihatkan keberhasilan dan terbukti.
"Tapi publik suka sama dia karena komunikasinya yang suka menyapa dan berani tampil beda, keluar dari kostum birokrat," ujarnya..
Fadjroel juga menilai jika Jokowi maju dalam bursa capres 2014, maka sudah bisa dipastikan bahwa Jokowi akan menang telak. Sebab, lawan-lawan politiknya adalah karakter-karakter lama yang birokratis. Kehadiran Jokowi, adalah penanda regenerasi. Namun, jika tidak dikawal, Pilpres 2014 nantinya akan melahirkan pemimpin seangkatan Presiden SBY.
"Jokowi juga bisa buktikan bahwa pemimpin lokal bisa menjadi pemimpin nasional. Itu bagus, karena ada 500 kabupaten-kota di Indonesia. Jadi rakyat punya banyak harapan akan munculnya tokoh-tokoh seperti Jokowi," katanya.
Jajak pendapat yang dilakukan Pusat Data Bersatu (PDB) menunjukkan bila Jokowi tidak mendapatkan tiket untuk maju pada pilpres nanti, maka Prabowo Subianto yang akan menjadi presiden. Chairman PDB, Didik J Rachbini mengatakan elektabilitas Jokowi dan Prabowo memang selalu berkejaran. Elektabilitas Jokowi terus meningkat dan Prabowo juga memiliki pemilih setia. "Kalau Jokowi tak dapat tiket capres, perpindahan suara Jokowi paling banyak ke Prabowo," katanya.
Didik menilai pencapresan Jokowi memang akan menjadi dilema besar bagi PDI Perjuangan. Survei menunjukkan, kekuatan Jokowi terbesar bukan berasal dari PDI Perjuangan. Dengan dukungan 29,57 persen dari responden, Jokowi ternyata hanya dipilih oleh 5,6 persen warga PDIP. Sedangkan sisanya, Jokowi dipilih kader non-PDIP dan swing voters.
Namun, saat PDB melakukan survei mengenai pertarungan Jokowi dan Megawati di kandang banteng. Kekuatan keduanya cukup berimbang. Sebanyak 5,6 persen suara internal diberikan untuk Jokowi. Sedangkan Megawati mendapatkan suara 6 persen. "Di internal PDIP, suara Mega dan Jokowi relatif seimbang. Membingungkan bagi PDI-P, mau pilih suara partai atau suara rakyat," jelasnya.
Animo kuatnya dukungan masyarakat arus bawah dan menengah terhadap pencapresan Jokowi ini pasti juga dibaca oleh PDIP. Partai ini tidak mungkin menutup mata. Dalam dunia politik, adalah halal jika PDIP menggunakan atau memanfaatkan ketenaran Jokowi untuk mendulang suara pada Pemilu 2014. Bukan tidak mungkin PDIP benar-benar mencapreskan Jokowi pada detik-detik terakhir, sama seperti ketika Jokowi diikutkan dalam bursa pilkada DKI Jakarta atau ketika Ganjar Pranowo maju sebagai calon gubernur Jawa Tengah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




