Langit Teheran Menghitam, Hujan Beracun Turun Usai Kilang Diserang AS
Minggu, 8 Maret 2026 | 21:37 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Warga Teheran, Iran dilaporkan News 18, Minggu (8/3/2026) mengawali hari dengan pemandangan yang mencekam saat awan hitam pekat menyelimuti langit kota, disusul dengan turunnya hujan yang bersifat toksik. Fenomena ini terjadi setelah serangan udara yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel menghantam kilang-kilang minyak serta fasilitas penyimpanan bahan bakar di ibu kota Iran tersebut. Ledakan hebat di depot minyak ini melepaskan polutan berbahaya dalam jumlah masif ke atmosfer.
Bulan Sabit Merah Iran segera mengeluarkan peringatan darurat kepada seluruh penduduk mengenai bahaya "hujan asam tingkat tinggi" yang sedang melanda. Menurut laporan resmi, ledakan tersebut melepaskan senyawa hidrokarbon beracun, sulfur dioksida, dan nitrogen oksida ke udara.
“Zat-zat ini kemudian bercampur dengan uap air di awan dan jatuh kembali ke bumi dalam bentuk presipitasi yang sangat korosif dan berbahaya bagi kesehatan,” tulis News 18.
Pihak berwenang Teheran telah menginstruksikan warga untuk tetap berada di dalam rumah dan menutup rapat jendela. Selain itu, masyarakat dilarang keras menggunakan pendingin ruangan (AC) untuk sementara waktu. Hal ini dilakukan guna mencegah partikel beracun dan jelaga halus terhisap ke dalam sistem sirkulasi udara di dalam ruangan yang dapat membahayakan pernapasan.
Secara ilmiah, fenomena ini dikenal sebagai hujan asam ekstrem yang dipicu oleh perang. Berbeda dengan hujan asam industri yang terjadi secara perlahan dalam jangka panjang, hujan asam akibat serangan militer adalah bencana lingkungan yang bersifat akut dan berintensitas tinggi. Pembakaran bahan bakar roket serta terbakarnya jutaan liter minyak mentah menciptakan reaksi kimia cepat yang mengubah air hujan menjadi larutan asam sulfat dan asam nitrat yang pekat.
Dampak dari "hujan hitam" ini tidak hanya merusak bangunan fisik atau kendaraan, tetapi juga mengancam rantai makanan dan pasokan air bersih. Hujan ini membawa logam berat dan hidrokarbon berbahaya yang dapat meresap ke dalam tanah dan mencemari sumber air tanah warga. Bagi kesehatan manusia, menghirup polutan ini dapat menyebabkan kerusakan paru-paru permanen, asma akut, hingga bronkitis berat.
Sejarah mencatat bahwa insiden serupa pernah terjadi pada Perang Teluk tahun 1991, ketika pembakaran sumur minyak di Kuwait menyebabkan hujan jelaga yang dampaknya terasa hingga ribuan kilometer ke negara-negara tetangga. Saat ini, Teheran menghadapi risiko serupa di mana ekosistem perkotaan terancam mengalami kerusakan parah akibat tingkat keasaman yang jauh di atas ambang batas normal.
Kondisi lingkungan di Teheran kini berada dalam status siaga satu. Para ahli lingkungan memperingatkan bahwa tanpa adanya langkah penanganan cepat, residu beracun dari hujan ini akan menetap di permukaan tanah dan tanaman untuk waktu yang lama. Hal ini menambah beban penderitaan warga sipil yang sudah terjepit di tengah eskalasi konflik militer yang semakin memanas.
Hingga berita ini diturunkan, langit Teheran masih terpantau gelap meski waktu sudah menunjukkan siang hari. Komunitas internasional terus memantau dampak ekologis dari serangan ini, sementara warga hanya bisa menunggu di dalam rumah dengan harapan udara akan segera bersih kembali. Namun, selama api di fasilitas minyak belum sepenuhnya padam, ancaman hujan beracun ini masih akan terus menghantui ibu kota.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




