Fakta IRIS Shahid Bagheri, Kapal Induk Drone Iran yang Diserang AS
Senin, 9 Maret 2026 | 16:41 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Dunia militer internasional baru-baru ini dihebohkan oleh kabar lumpuhnya IRIS Shahid Bagheri, sebuah kapal induk drone yang menjadi simbol kekuatan asimetris Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Berdasarkan laporan terbaru dari United States Central Command (Centcom), kapal tersebut menjadi salah satu target utama dalam serangan udara besar-besaran yang dikenal sebagai Operation Epic Fury pada awal Maret 2026.
Dalam operasi itu, pasukan Amerika Serikat dilaporkan berhasil menyerang dan melumpuhkan IRIS Shahid Bagheri saat kapal tersebut berada di pangkalan.
Berbeda dengan kapal induk konvensional yang membawa jet tempur berat, kapal ini dirancang sebagai pangkalan terapung untuk berbagai jenis pesawat tanpa awak atau drone.
Kehadirannya menandai babak baru dalam strategi pertahanan Iran yang berfokus pada kemampuan serangan jarak jauh dengan biaya operasional yang relatif lebih efisien.
Transformasi Radikal dari Kapal Komersial Menjadi Kapal Perang
Salah satu hal paling menarik dari IRIS Shahid Bagheri adalah asal-usulnya yang tidak berasal dari desain kapal perang sejak awal. Kapal ini sebelumnya merupakan kapal peti kemas bernama Perarin yang dibuat di Korea Selatan.
Melalui proses konversi besar-besaran yang berlangsung selama dua tahun, dari 2022 hingga 2024, kapal tersebut diubah menjadi kapal induk drone di galangan kapal Bandar Abbas, Iran.
Transformasi ini menjadi salah satu proyek rekayasa militer paling ambisius yang dilakukan Iran dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu modifikasi paling mencolok adalah penambahan flight deck miring dengan sistem ski-jump.
Struktur ini memungkinkan drone sayap tetap untuk lepas landas meskipun panjang landasan jauh lebih pendek dibandingkan kapal induk konvensional milik Amerika Serikat.
Langkah inovatif tersebut memperlihatkan bagaimana Iran berusaha mengoptimalkan sumber daya yang ada untuk menciptakan ancaman maritim baru yang lebih fleksibel.
Spesifikasi Teknis dan Kapasitas Operasional
Sebagai kapal induk drone hasil konversi, IRIS Shahid Bagheri memiliki ukuran yang cukup besar. Kapal ini memiliki panjang sekitar 240,2 meter, lebar 32,2 meter, dan draft 12 meter, dengan bobot perpindahan (displacement) lebih dari 40.000 ton.
Dengan dimensi tersebut, kapal ini mampu membawa berbagai jenis persenjataan sekaligus unit pendukung operasi udara di geladaknya yang luas. Keunggulan utama kapal ini terletak pada daya jelajahnya. Komandan Angkatan Laut IRGC Alireza Tangsiri, menyatakan IRIS Shahid Bagheri memiliki jangkauan operasional hingga 22.000 mil laut.
Kemampuan ini memungkinkan kapal tersebut beroperasi di laut lepas selama satu tahun penuh tanpa perlu kembali ke pelabuhan untuk pengisian bahan bakar.
Dengan jangkauan sejauh itu, radius operasi drone Iran dapat meluas jauh melampaui kawasan Teluk Persia hingga ke wilayah Samudra Hindia.
Persenjataan dan Teknologi Pertahanan Udara
Walaupun fungsi utamanya adalah sebagai kapal induk drone, IRIS Shahid Bagheri juga dilengkapi dengan sistem pertahanan mandiri yang cukup kuat. Kapal ini dipersenjatai dengan delapan rudal jelajah antikapal jenis Noor missile atau Qader missile.
Selain itu, kapal ini juga membawa delapan rudal permukaan-ke-udara (SAM) jenis Kowsar-222 yang memiliki jangkauan sekitar 17 kilometer untuk menghadapi ancaman dari udara.
Untuk pertahanan jarak dekat, kapal ini dilengkapi dengan meriam otomatis 30 mm serta dua meriam Gatling 20 mm yang dipasang di bagian haluan. Dari sisi teknologi militer, kapal ini juga berfungsi sebagai pusat intelijen bergerak.
Di dalamnya terdapat sistem signals intelligence (Signit) untuk pengumpulan data elektronik serta electronic support measures (ESM) untuk peperangan elektronik.
Fasilitas di atas kapal bahkan mencakup berbagai sarana pendukung seperti menara kontrol penerbangan, rumah sakit mini, hingga lapangan sepak bola untuk kru. Hal ini menjadikan kapal tersebut sebagai pangkalan militer mandiri yang dapat beroperasi lama di tengah laut.
Armada Drone dan Kekuatan Udara di Atas Geladak
Sebagai kapal induk drone, kekuatan utama IRIS Shahid Bagheri terletak pada armada pesawat tanpa awak yang dapat dioperasikan dari geladaknya. Beberapa jenis drone Iran yang diketahui dapat beroperasi dari kapal ini, antara lain JAS-313, Ababil-3, dan Mohajer-6.
Selain drone, kapal ini juga mampu mengoperasikan helikopter, seperti Bell 206 dan Mil Mi-171. Helikopter tersebut biasanya digunakan untuk misi logistik, pengintaian, serta operasi penyelamatan.
Tidak hanya itu, kapal ini juga dilaporkan mampu meluncurkan kapal cepat bersenjata rudal (missile boats) serta kendaraan bawah laut tanpa awak (UUV).
Integrasi antara kekuatan udara, laut, dan bawah laut ini menjadikan IRIS Shahid Bagheri sebagai ancaman asimetris yang sangat diperhitungkan dalam konflik maritim modern.
Dampak dan Nasib IRIS Shahid Bagheri dalam Operasi Epic Fury
Kehadiran IRIS Shahid Bagheri pada awalnya diproyeksikan untuk meningkatkan daya tawar Iran dalam diplomasi maritim sekaligus memperluas jangkauan operasi militernya.
Namun situasi berubah drastis pada akhir Februari 2026 ketika ketegangan di kawasan meningkat tajam. Menurut laporan US Centcom, dalam hitungan jam setelah dimulainya Operation Epic Fury, kapal tersebut terkena serangan udara saat sedang bersandar di Bandar Abbas.
Laporan internasional menyebutkan bahwa kapal tersebut mengalami kerusakan kritis yang melumpuhkan kemampuan operasionalnya secara total. Kehilangan atau kerusakan besar pada kapal ini dianggap sebagai pukulan telak bagi ambisi Iran dalam memproyeksikan kekuatan lautnya.
Sebelumnya Iran sempat mengeklaim telah menenggelamkan kapal induk Amerika sebagai balasan. Namun CENTCOM membantah klaim tersebut.
“Mesin penyebar pesan palsu rezim Iran terus mengklaim secara keliru bahwa mereka telah menenggelamkan kapal induk AS. Kebenarannya, satu-satunya kapal induk yang terkena adalah Shahid Bagheri, yang merupakan kapal induk drone Iran,” ujar Centcom melalui unggahan akun X resmi pada Senin (2/3/2026).
IRIS Shahid Bagheri merupakan bukti nyata ambisi Iran dalam mengembangkan teknologi peperangan drone di ranah maritim. Melalui konversi kreatif dari kapal kontainer menjadi kapal induk drone, Teheran berhasil menciptakan simbol kekuatan baru yang mampu menjangkau perairan internasional.
Namun keterlibatan kapal tersebut dalam konflik bersenjata terbaru juga menunjukkan sisi lain dari strategi tersebut, aset strategis seperti IRIS Shahid Bagheri tetap rentan terhadap kekuatan militer konvensional yang lebih besar dan berteknologi tinggi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PSEL di Makassar Dipercepat untuk Atasi Praktik Open Dumping
Iran: Radiasi Nuklir Bisa Hancurkan Negara Teluk
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Situasi Lebanon Memanas, KSAD Maruli: Prajurit TNI Sudah Paham SOP!




