Turis Terjebak di Dubai Tak Bisa Pulang, Duit Ratusan Juta Habis
Selasa, 10 Maret 2026 | 08:14 WIB
Dubai, Beritasatu.com – Liburan romantis yang direncanakan sebagai pelarian mewah di Dubai berubah menjadi mimpi buruk bagi pasangan asal Inggris, Lily Mann (25) dan James Shires (33). Akibat eskalasi konflik di wilayah Teluk, keduanya kini terjebak di tengah situasi perang dengan kerugian finansial yang terus membengkak hingga ribuan poundsterling.
Pasangan ini tiba di Dubai pada 26 Februari 2026. Namun, rencana kepulangan mereka berantakan setelah maskapai Etihad Airways membatalkan seluruh penerbangan menuju Manchester karena alasan keamanan udara.
Lily dan James dihadapkan pada pilihan yang mustahil, membeli tiket sekali jalan kelas bisnis seharga lebih dari £ 10.000 (sekitar Rp 200 juta) per orang, atau menunggu tanpa batas waktu. Karena keterbatasan dana, mereka terpaksa tetap tinggal di hotel.
Hingga saat ini, biaya tambahan untuk perpanjangan hotel, biaya hidup, hingga biaya penitipan hewan peliharaan di Inggris telah menelan biaya lebih dari £ 3.000 (sekitar Rp 60 juta).
"Asap hitam tebal dan ledakan keras menerobos langit tepat saat kami sedang sarapan," kenang Lily menceritakan suasana mencekam di Dubai.
Bagi pasangan yang sudah 10 kali mengunjungi Dubai ini, kunjungan kali ini sangat berbeda. Sirene serangan udara kini menjadi suara latar yang konstan menggantikan musik resor. Pengalaman mencari perlindungan di lantai kaca pusat perbelanjaan saat alarm meraung-raung meninggalkan trauma mendalam bagi mereka.
Kini, rutinitas sederhana seperti minum kopi pun dilakukan dengan rasa waswas. Mereka harus terus memantau tempat berlindung terdekat dan sebisa mungkin menghindari posisi di dekat jendela kaca yang rentan pecah akibat gelombang ledakan.
Untuk mencukupi kebutuhan harian yang tak terduga, Lily dan James harus melakukan penghematan drastis. Akses ke bandara pun tertutup rapat bagi siapa pun yang tidak memegang tiket valid, membuat koordinasi dengan agen perjalanan menjadi semakin sulit.
Meskipun Etihad menjadwalkan penerbangan pengganti pada 14 Maret 2026 mendatang, jadwal tersebut masih dianggap tidak pasti mengingat dinamika konflik yang terus berubah.
"Saya hanya ingin segera pulang untuk bertemu kembali dengan dua anjing kesayangan saya," pungkas Lily dengan penuh harap.
Kisah Lily dan James menjadi potret nyata bagaimana krisis keamanan di Timur Tengah berdampak langsung pada sektor pariwisata global, mengubah kemewahan menjadi perjuangan untuk bertahan hidup dan kembali ke tanah air.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PSEL di Makassar Dipercepat untuk Atasi Praktik Open Dumping
Iran: Radiasi Nuklir Bisa Hancurkan Negara Teluk
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Situasi Lebanon Memanas, KSAD Maruli: Prajurit TNI Sudah Paham SOP!




