Selat Hormuz Memanas, Trump Minta China Turun Tangan
Senin, 16 Maret 2026 | 13:19 WIB
Beijing, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam menunda pertemuan puncak dengan Presiden China Xi Jinping jika Beijing tidak membantu mengamankan Selat Hormuz, jalur strategis pengiriman minyak dunia yang terdampak konflik di Timur Tengah.
Ancaman tersebut disampaikan Trump di tengah meningkatnya ketegangan akibat perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Dalam wawancara dengan Financial Times, Donald Trump menekankan, China merupakan salah satu negara yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah.
"Sudah sepatutnya negara-negara yang diuntungkan dari selat itu membantu memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi di sana," kata Donald Trump dikutip dari The Japan Times, Minggu (16/3/2026).
Trump juga mengisyaratkan rencana kunjungannya ke Beijing yang dijadwalkan akhir bulan ini dapat tertunda jika tidak ada kerja sama dari China terkait keamanan jalur pelayaran tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan di kawasan ini berpotensi memicu gejolak harga energi dan berdampak pada ekonomi global.
Di sisi lain, pejabat perdagangan Amerika Serikat dan China saat ini sedang menggelar pertemuan di Paris untuk mempersiapkan agenda pertemuan puncak Donald Trump dan Xi Jinping. Pembicaraan tersebut dijadwalkan berlanjut.
Pemerintahan Trump juga disebut tengah berkoordinasi dengan sejumlah sekutu, termasuk Inggris, Jepang, dan Korea Selatan, untuk mengamankan jalur pelayaran di kawasan tersebut. Namun, banyak negara masih berhati-hati untuk mengerahkan kekuatan militer ke wilayah konflik aktif.
Hingga kini, Kementerian Luar Negeri China belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan Trump mengenai permintaan bantuan pengamanan Selat Hormuz.
Sejumlah analis menilai Beijing kemungkinan enggan terlibat langsung dalam konflik tersebut. Direktur Center for American Studies di Universitas Fudan Shanghai, Wu Xinbo mengatakan, China memiliki sedikit insentif untuk ikut dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
"Itu perang mereka, bukan perang kita. Mengapa kita harus mengirim kapal ke sana?" kata Wu Xinbo.
Menurutnya, China kemungkinan lebih memilih pendekatan diplomatik dibandingkan keterlibatan militer.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Program China di Stimson Center, Yun Sun. Ia menilai China mungkin akan berperan sebagai mediator diplomatik antara pihak-pihak yang bertikai.
"Pihak Tiongkok kemungkinan akan mendorong Iran untuk menjaga selat tetap terbuka, tetapi dengan syarat tertentu bagi AS dan Israel," ujarnya.
Ketegangan ini muncul di tengah hubungan ekonomi yang sensitif antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut. Selain isu keamanan, perundingan bilateral juga membahas tarif perdagangan, fentanyl, serta isu geopolitik seperti Taiwan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
3 Prajurit Gugur, TNI AD Berduka!
Liburan Sambil Belajar Sains Lewat Museum Iptek TMII
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
TNI Menunggu Hasil Investigasi Terkait Gugurnya 3 Prajurit di Lebanon




