ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Sebulan Perang dengan AS, Iran Balik Unggul lewat Selat Hormuz

Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:01 WIB
SL
SL
Penulis: Surya Lesmana | Editor: LES
Bendera Iran.
Bendera Iran. (NW Flags/NW Flags)

Washington, Beritasatu.com -  Konflik dalam perang Iran memasuki babak baru setelah Iran memanfaatkan kendali atas Selat Hormuz untuk menekan Amerika Serikat, membalik situasi setelah sebulan pertempuran.

Awalnya, AS mendominasi secara militer sejak serangan dilancarkan pada akhir Februari 2026. Namun, Iran secara bertahap menggunakan pengaruh ekonomi melalui jalur minyak global untuk mengubah arah konflik.

Presiden AS Donald Trump kini mencoba meredakan ketegangan dengan menawarkan gencatan senjata selama 30 hari. Proposal tersebut mencakup pembahasan penghentian perang yang telah mengguncang Timur Tengah dan ekonomi global.

Rencana perdamaian 15 poin yang diajukan AS mencakup pelonggaran sanksi, pembatasan program nuklir, hingga pengawasan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Selain itu, AS juga menuntut pembatasan program rudal Iran dan akses bebas di Selat Hormuz.

ADVERTISEMENT

Namun, Iran menolak proposal tersebut dan menyebutnya tidak realistis. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan Teheran tidak berniat bernegosiasi dalam kondisi saat ini.

“Kami ingin mengakhiri perang dengan cara kami sendiri,” ujarnya dalam pernyataan resmi.

Penolakan itu membuat Trump dihadapkan pada dua pilihan sulit, mengakhiri kampanye militer atau meningkatkan eskalasi dengan risiko konflik berkepanjangan.

Sejak awal konflik, kampanye militer AS dan Israel telah menimbulkan kerusakan besar di Iran. Sejumlah infrastruktur militer hancur, dan banyak pejabat tinggi dilaporkan tewas.

Meski demikian, Iran tidak menyerah. Negara itu justru meningkatkan serangan rudal dan drone serta mengambil langkah strategis dengan menguasai Selat Hormuz.

Selat ini merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Penguasaan jalur tersebut menjadi kartu truf Iran untuk menekan ekonomi global dan posisi AS.

Iran bahkan mulai mengatur lalu lintas kapal, hanya mengizinkan kapal “nonmusuh” melintas dengan syarat tertentu. Teheran juga mempertimbangkan pungutan biaya bagi kapal yang menggunakan jalur tersebut.

Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk mengendalikan aliran energi global sekaligus meningkatkan daya tawar dalam negosiasi.

Analis menilai AS gagal mengantisipasi dampak jangka panjang dari konflik, terutama terkait Selat Hormuz. Risiko pembalasan Iran sebenarnya telah lama diperingatkan oleh para ahli pertahanan.

“AS tampaknya tidak sepenuhnya memahami konsekuensi strategis dari konflik ini,” kata Jonathan Eyal, analis internasional.

Bahkan, Trump sempat mengaku terkejut dengan respons Iran yang menyerang berbagai target di kawasan. Ia menyebut tindakan tersebut tidak terduga.

Di sisi lain, para pengamat menilai perhitungan awal AS dan Israel terlalu optimistis. Mereka mengira Iran dapat dilumpuhkan hanya dengan serangan udara terbatas.

Secara militer, AS memang berhasil menghancurkan banyak target dan menguasai wilayah udara Iran dalam waktu singkat. Namun, Iran tetap bertahan dan menunjukkan ketahanan strategis.

“Iran menang dengan tidak kalah,” kata analis Karim Sadjadpour, menggambarkan situasi konflik saat ini.

Memasuki bulan kedua, Iran dinilai mulai memegang kendali. Jika AS mundur, Teheran berpotensi keluar sebagai pemenang sekaligus memperkuat pengaruhnya di Selat Hormuz.

Sebaliknya, jika AS meningkatkan eskalasi, Iran diperkirakan akan merespons dengan tekanan ekonomi yang lebih besar, termasuk terhadap infrastruktur energi kawasan.

Di dalam negeri, tekanan terhadap Trump juga meningkat. Sejumlah survei menunjukkan mayoritas warga Amerika menolak perang ini.

Jajak pendapat Pew Research Center mencatat 61 persen responden tidak setuju dengan penanganan konflik oleh Trump. Survei lain dari AP-NORC dan Reuters/Ipsos menunjukkan tren penolakan serupa.

Kekhawatiran juga muncul di kalangan Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu. Konflik ini dinilai berpotensi merugikan posisi politik mereka di Kongres.

Meski mendapat kritik, Gedung Putih tetap membela operasi militer tersebut. Mereka menyebut kampanye berjalan efektif dan sesuai target.

Komando Pusat AS (Centcom) melaporkan lebih dari 10.000 target telah dihantam sejak konflik dimulai.

Konflik ini telah menewaskan lebih dari 3.000 orang di seluruh kawasan. Di Iran saja, korban jiwa mencapai lebih dari 1.900 orang.

Di tengah situasi tersebut, warga sipil menjadi pihak yang paling terdampak. “Kami hanya ingin perang ini berakhir,” kata seorang warga Iran.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Trump Sesumbar AS Mudah Buka Selat Hormuz dan Ambil Minyak Iran

Trump Sesumbar AS Mudah Buka Selat Hormuz dan Ambil Minyak Iran

INTERNASIONAL
5 Poin Penting Pidato Trump Soal Perang Iran, Dunia Masih Perlu Cemas?

5 Poin Penting Pidato Trump Soal Perang Iran, Dunia Masih Perlu Cemas?

INTERNASIONAL
Kapal dari 3 Negara Melintas Hormuz, Sinyal Jalur Mulai Dibuka?

Kapal dari 3 Negara Melintas Hormuz, Sinyal Jalur Mulai Dibuka?

INTERNASIONAL
Bicara Diplomasi, Kenapa Trump Masih Serang Iran?

Bicara Diplomasi, Kenapa Trump Masih Serang Iran?

INTERNASIONAL
Trump Tutupi Kegagalan Serangan ke Iran

Trump Tutupi Kegagalan Serangan ke Iran

INTERNASIONAL
Perang Iran vs AS-Israel, Komandan Unit Khusus IRGC Tewas

Perang Iran vs AS-Israel, Komandan Unit Khusus IRGC Tewas

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT