ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Partai Republik Semakin Menjauhi Trump

Jumat, 8 Januari 2021 | 04:56 WIB
NW
WP
Penulis: Natasia Christy Wahyuni | Editor: WBP
Pendukung Presiden AS Donald Trump berkumpul di dekat gedung Capitol AS di Washington, DC, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021).
Pendukung Presiden AS Donald Trump berkumpul di dekat gedung Capitol AS di Washington, DC, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021). (Xinhua/Liu Jie)

Washington, Beritasatu.com -Kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam pengesahan kemenangan Presiden AS, Rabu (6/1/2021), memicu gelombang kritik dari Republik yang mencerminkan potensi bahwa Partai Republik (Grand Old Party/GOP) akan semakin menjauhi Presiden Donald Trump setelah turun dari kekuasaan.

Senator Republik Richard Burr dari Carolina Utara menyalahkan aksi kerusuhan massa di Gedung Capitol kepada Trump. "Presiden memikul tanggung jawab atas peristiwa hari ini dengan mempromosikan teori konspirasi tidak berdasar yang mengarah ke titik ini," kata Burr dalam pernyataannya yang menegaskan bahwa pengadilan telah menolak upaya Trump membalik kekalahannya dalam pemilu November dari Joe Biden.

Senator Republik lainnya, Roy Blunt, dari Missouri, sekaligus tim kepemimpinan majelis GOP, menyatakan peristiwa Rabu sebagai hari tragis. "Dia (Trump) bagian dari itu," katanya.

Mantan gubernur New Jersey dan pendukung Trump, Chris Christie, menyatakan presiden dan putranya telah berbicara kepada kerumunan dan kekerasan adalah hasil dari kata-katanya, baik disengaja atau tidak. Menurutnya, tanggapan awal Trump yang secara singkat menyerukan pemrotes agar bersikap damai, "tidak cukup baik".

ADVERTISEMENT

Anggota DPR dari Republik urutan ketiga, Liz Cheney, menegaskan kata-kata Trump telah menghasut massa, tidak memadai, dan tidak bisa ditoleransi. "Tidak diragukan lagi, presiden membentuk massa, presiden menghasut massa, presiden mengarahkan massa, dia menyalakan api," ujar Cheney dari Wyoming.

Senada dengan itu, Senator GOP dari Nebraska, Ben Sasse, menyebut kekerasan hari Rabu di Gedung Capitol sebagai hasil dari tindakan presiden. "Kekerasan ini adalah hasil tidak terelakkan dan buruk dari kecanduan presiden untuk terus menerus memicu perpecahan," kata Sasse.

Perpecahan juga terlihat antara Trump dan wakilnya, Mike Pence, karena pernyataan bertolak belakang. Pence menyebut tidak berniat mengganggu validasi kongres atas kemenangan Biden dalam Electoral College.

Sebaliknya, Trump mengomentari Pence, menyebutnya tidak memiliki keberanian untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk melindungi negara dan konstitusi. Di pihak lain, Sasse, mengomentari pesan Trump di Twitter, mengatakan Gedung Capitol AS sebagai simbol pemerintahan mandiri terbesar di dunia, telah dilucuti tapi pemimpinnya bebas meringkuk di belakang papan tuts.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Donald Trump Dorong Partai Republik Buka Epstein Files ke Publik

Donald Trump Dorong Partai Republik Buka Epstein Files ke Publik

INTERNASIONAL
Partai Donald Trump Ancam Usir Wali Kota Zohran Mamdani dari New York

Partai Donald Trump Ancam Usir Wali Kota Zohran Mamdani dari New York

INTERNASIONAL
Shutdown Pemerintah Berlanjut, Militer AS Terancam Tak Gajian

Shutdown Pemerintah Berlanjut, Militer AS Terancam Tak Gajian

INTERNASIONAL
Konflik Donald Trump dan Elon Musk Buat Partai Republik Khawatir

Konflik Donald Trump dan Elon Musk Buat Partai Republik Khawatir

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon