Penyiar Radio Kontroversial Rush Limbaugh Meninggal
Kamis, 18 Februari 2021 | 02:53 WIB
Beritasatu.com - Rush Limbaugh, pelopor bincang-bincang politik di radio Amerika Serikat yang kerap memicu kontroversi dan belakangan menjadi pendukung setia Donald Trump, meninggal karena kanker pada usia 70 tahun, Rabu (17/2/2021) waktu setempat.
Kematiannya diumumkan oleh sang istri, Kathryn.
"Seperti yang banyak dari Anda ketahui, sangat sulit kehilangan seseorang yang dicintai, terlebih lagi jika ia lebih besar dari hidup itu sendiri," ujarnya. "Rush akan selamanya dikenang sebagai yang paling hebat sepanjang masa."
Namun, mungkin tidak bagi sebagian orang, terutama mereka yang anti-Trump, terlebih lagi mereka yang pernah menjadi sasaran hinaan atau kalimat pedasnya.
Misalnya pada awal 1993 ia membandingkan putri pasangan Bill dan Hillary Clinton, Chelsea, yang ketika itu masih bocah kecil, dengan anjing piaraan George HW Bush yang baru saja lengser dari Gedung Putih.
Ia juga menuduh mantan aktor Michael J. Fox yang menderita Parkinson hanya berakting ketika badannya banyak bergerak dalam sebuah wawancara.
Limbaugh juga ikut menyebarkan isu bahwa Barack Obama tidak dilahirkan di Amerika ketika yang bersangkutan mencalonkan diri sebagai presiden.
Ia merupakan pionir bincang-bincang radio AM dan selama 32 memandu acara memakai namanya, "The Rush Limbaugh Show", yang disiarkan juga oleh banyak stasiun lain secara nasional dengan jutaan pendengar setia.
Tak pelak lagi Limbaugh menjadi tokoh panutan di kelompok konservatif dan Partai Republik karena serangannya yang gencar kepada kubu liberal dan Partai Demokrat.
Acara dia juga ikut memopulerkan bincang politik di radio.
Pujaan Trump
Dalam beberapa tahun terakhir, ia memposisikan diri sebagai "teman" Presiden Trump dan membelanya habis-habisan.
Pada Februari 2020, Limbaugh mengumumkan bahwa ia didiagnosa menderita kanker paru akut. Sehari kemudian, Trump mengganjarnya dengan Presidential Medal of Freedom, penghargaan tertinggi presiden terhadap warga sipil. Limbaugh juga terus mengudara.
Usai kerusuhan di gedung Capitol pada 6 Januari, Limbaugh menyuarakan dukungan bagi para perusuh. Seperti Trump, ia menyebut virus corona sebagai wabah flu biasa dan menuduh adanya upaya menjadikan pandemik ini sebagai alat untuk menjatuhkan Trump dan menghalanginya terpilih lagi.
Ketika Trump dimakzulkan pertama kali pada 2019, Limbaugh membelanya setiap hari sambil terus menyerang Joe Biden.
Limbaugh mengatakan ke para pendengarnya bahwa satu-satunya kesalahan Trump adalah dia "terlalu sukses".
"Ia dimakzulkan karena kesuksesannya bisa merusak Partai Demokrat," kata Limbaugh saat itu.
Ketika Trump kembali dimakzulkan, Limbaugh menuduh Demokrat menyebarkan kebohongan bahwa Trump terlibat dalam kerusuhan itu agar tidak bisa mencalonkan diri lagi.
Menurut Limbaugh, Demokrat "ketakutan setengah mati" Trump akan terus menguasai Partai Republik sehingga mereka ingin menyingkirkannya.
Trump, saat mendengar kabar kematiannya, langsung menelepon stasiun televisi Fox News untuk berkomentar.
"Ia pria yang fantastis, penuh bakat, dan banyak orang -- terlepas apakah mereka mencintainya atau tidak -- mereka menghormati dia, sangat menghormati," ujar Trump.
Benci Sekolah
Limbaugh lahir di Cape Girardeau, Missouri, dari orang tua aktivis Partai Republik. Adiknya, David Limbaugh, adalah seorang pengacara.
Sejak remaja, Limbaugh sudah tertarik dengan dunia radio. Di usia 16 tahun ia lulus kursus teknik radio dan mendapat lisensi siaran. Ia lalu mendapat pekerjaan di sebuah stasiun lokal.
Ayahnya ingin ia kuliah, tetapi Limbaugh tidak tertarik sedikit pun.
"Ayah saya ingin saya jadi profesional. Masalahnya adalah, saya benci sekolah. Saya tidak mau di sana. Saya ingin tetap di radio," ujarnya dalam wawancara dengan the New York Times pada 2008.
Ia memang sempat kuliah di Southeast Missouri State University tetapi hanya tahan satu tahun. Setelah itu ia berjuang meniti karir sebagai penyiar radio di berbagai tempat.
Jalannya mulai mulus setelah pindah ke Sacramento, California, dan bekerja di stasiun radio KFBK-AM pada 1984. Dari sanalah ia menciptakan "The Rush Limbaugh Show".
Dengan tingkat pendengar yang melesat, siarannya mulai mendapat sindikasi nasional. Pada 1988, ia pindah ke radio WABC, New York.
Dengan segera, ia menjadi raja talk-radio di Amerika. Presiden Ronald Reagan menyebutnya sebagai "suara nomor satu kubu konservatif".
Ia begitu sukses sampai pernah mengatakan: "Saya tidak punya kompetitor."
Masalah Pribadi
Limbaugh tidak terlalu sukses meniti rumah tangga dan kerap kawin cerai. Kathryn adalah istrinya yang keempat.
Pada 2001, ia kehilangan pendengaran karena penyakit yang menyerang kekebalan di dalam telinganya. Ia harus menjalani implantasi untuk bisa mendengar lagi.
Pada 2003, Limbaugh mengakui kecanduan pada obat-obatan gara-gara cedera punggung yang dideritanya.
Bergelimang Harta
Limbaugh sudah jelas bukan penyiar radio kebanyakan. Ia punya lima rumah di Florida, banyak mobil mewah, dan bahkan pesawat pribadi.
"Fakta paling elementer dari karir Limbaugh mungkin sebagai berikut: di luar korupsi besar-besaran di kalangan diktator, tidak ada seorang pun yang bisa mendapatkan uang dari dunia politik lebih banyak dari yang diraup Rush Limbaugh," kata wartawan Michael Wolff, yang menulis profil Limbaugh di majalah Vanity Fair pada 2009.
Saat menikahi Kathryn Rogers pada 2010, Limbaugh dikabarkan mengeluarkan dana US$ 1 juta untuk menampilkan penyanyi Elton John di pesta pernikahan.
Namun, ia juga dikenal sebagai dermawan dengan sumbangan jutaan dolar ke berbagai lembaga. Ia juga kerap menjadikan acaranya untuk ajang pengumpulan dana dari pendengar bagi mereka yang membutuhkan.
Di abad internet dan televisi digital, jutaan orang masih mendengarlkan siaran radio Limbaugh, yang melulu berisi politik.
Ia mendirikan yayasan amal Rush and Kathryn Adams Limbaugh Family Foundation.
Seorang teman mengatakan bahwa tidak jarang Limbaugh meninggalkan tip sebesar US$ 5.000 untuk pelayan restoran.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
TNI Gelar Gladi Resik Sambut Jenazah Mayor Zulmi di Rumah Duka




