Chile Jadi Korban Konsumerisme Industri Pakaian
Jumat, 12 November 2021 | 10:22 WIB
Santiago, Beritasatu.com- Limbah pakaian menjadi masalah lingkungan di Atacama, Chile, gurun terkering di dunia. Segunung pakaian bekas, termasuk sweater Natal dan sepatu ski, menimbulkan polusi yang diciptakan oleh pergantian mode yang cepat.
Seperti dilaporkan AP, Selasa (9/11/2021), dampak sosial dari konsumerisme yang merajalela di industri pakaian, seperti pekerja anak di pabrik atau upah yang tidak pantas, tentu sudah dikenal luas. Tetapi dampak buruk konsumerisme terhadap lingkungan kurang dipublikasikan.
Chile telah lama menjadi pusat pakaian bekas dan tidak terjual, dibuat di Tiongkok atau Bangladesh dan melewati Eropa, Asia atau Amerika Serikat sebelum tiba di Chile. Di wilayah ini, pakaian bekas dijual kembali di sekitar Amerika Latin.
Sekitar 59.000 ton pakaian bekas tiba setiap tahun di pelabuhan Iquique di zona bebas Alto Hospicio di Chiei utara.
Pedagang pakaian dari ibu kota Santiago membeli sebagian pakaian bekas itu, sementara sebagian lagi diselundupkan ke negara-negara Amerika Latin lainnya.
Tetapi setidaknya 39.000 ton yang tidak dapat dijual berakhir di tempat pembuangan sampah di padang pasir.
"Pakaian ini datang dari seluruh dunia," kata Alex Carreno, mantan karyawan di area impor pelabuhan, kepada AFP.
"Apa yang tidak dijual ke Santiago atau dikirim ke negara lain tetap berada di zona bebas"karena tidak ada yang membayar tarif yang diperlukan untuk mengambilnya," keluhnya.
Menurut Franklin Zepeda, pendiri EcoFibra, satu perusahaan yang membuat panel insulasi menggunakan pakaian bekas mengatakan masalah muncul karena adalah pakaian tersebut tidak dapat terurai secara hayati dan memiliki produk kimia, sehingga tidak diterima di tempat pembuangan sampah kota.
"
Baik sintetis atau diolah dengan bahan kimia, pakaian membutuhkan waktu 200 tahun untuk terurai dan sama beracunnya dengan ban atau plastik bekas.
"
"Saya ingin berhenti menjadi masalah dan mulai menjadi solusi," kata Zepeda kepada AFP tentang perusahaan yang dibuatnya pada 2018.
Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 2019, produksi pakaian global berlipat ganda antara tahun 2000 dan 2014. Industri pakaian ini "bertanggung jawab atas 20% total limbah air di tingkat global". Setidaknya, untuk membuat satu pasang celana jeans dibutuhkan 7.500 liter air.
Laporan yang sama menyatakan bahwa manufaktur pakaian dan alas kaki menyumbang 8% dari gas rumah kaca global, dan bahwa "setiap detik, sejumlah tekstil yang setara dengan truk sampah dikubur atau dibakar".
Baik sintetis atau diolah dengan bahan kimia, pakaian membutuhkan waktu 200 tahun untuk terurai dan sama beracunnya dengan ban atau plastik bekas.
Namun tidak semua pakaian terbuang sia-sia. Beberapa orang termiskin dari wilayah berpenduduk 300.000 jiwa ini memilah limbah pakaian di tempat pembuangan sampah untuk menemukan barang-barang yang mereka butuhkan atau dapat dijual di lingkungan sekitar.
Migran asal Venezuela, Sofia dan Jenny bahkan rela menyeberang ke Chile dan beberapa hari perjalanan sejauh 350 km. Mereka mencari sesuatu yang berharga di tumpukan limbah pakaian dan bayi mereka merangkak di atasnya.
Para wanita mencari "barang-barang untuk cuaca dingin", mengingat suhu malam hari gurun turun ke tingkat yang belum pernah terjadi di tanah air tropis mereka.
Chile, negara terkaya di Amerika Selatan, dikenal dengan tingkat konsumerisme penduduknya yang tinggi.
"Iklan mode cepat telah membantu meyakinkan kami bahwa pakaian membuat kami lebih menarik, membuat kami bergaya dan bahkan menyembuhkan kecemasan kami," keluh Monica Zarini, yang membuat kap lampu, buku catatan, wadah, dan tas dari pakaian daur ulang.
Namun, segalanya berubah, menurut Rosario Hevia, yang membuka toko untuk mendaur ulang pakaian anak-anak sebelum mendirikan Ecocitex pada 2019, satu perusahaan yang membuat benang dari potongan tekstil dan pakaian bekas di negara miskin. Proses produksi Ecocitex tidak menggunakan air atau bahan kimia.
"Selama bertahun-tahun kami mengonsumsi, dan sepertinya tidak ada yang peduli bahwa semakin banyak limbah tekstil yang dihasilkan. Tapi sekarang, orang-orang mulai mempertanyakan diri mereka sendiri," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




