Ukraina Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Korea Utara
Sabtu, 16 Juli 2022 | 07:19 WIB
Kyiv, Beritasatu.com- Ukraina memutuskan hubungan diplomatik dengan Korea Utara karena pengakuan wilayah separatis. Seperti dilaporkan Reuters, Kamis (14/7/2022), Korea Utara menjadi satu-satunya negara ketiga yang mengakui kemerdekaan separatis Donetsk dan Republik Rakyat Luhansk di wilayah Donbas Ukraina.
Keputusan Kyiv untuk memutuskan hubungan dengan Korea Utara pada Rabu (13/7) menyusul tidak lama setelah berita bahwa Pyongyang telah mengakui kemerdekaan dua wilayah separatis yang didukung Rusia di Ukraina timur.
"Kami menganggap keputusan ini sebagai upaya Pyongyang untuk merusak kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina," kata Kementerian Luar Negeri Ukraina.
Baca Juga: Warga Inggris Meninggal di tahanan Separatis Pro-Rusia di Ukraina timur
Langkah Korea Utara untuk secara resmi mengakui dua kelompok yang memisahkan diri – Republik Rakyat Donetsk (DPR) dan Republik Rakyat Luhansk (LPR), keduanya terletak di wilayah Donbas Ukraina – menjadikannya satu-satunya negara ketiga di dunia yang mengakui kedua entitas tersebut setelah Rusia dan Suriah.
Kedutaan Besar DPR di Moskwa telah memposting foto di saluran Telegram tentang upacara saat duta besar Korea Utara untuk Moskwa, Sin Hong-chol, menyerahkan sertifikat pengakuan kepada utusan DPR Olga Makeyeva.
Dalam satu posting di saluran Telegramnya, pemimpin DPR Denis Pushilin mengatakan sebelumnya bahwa dia mengharapkan "kerja sama yang bermanfaat" dan meningkatkan perdagangan dengan Korea Utara, satu negara bersenjata nuklir yang terisolasi lebih dari 6.500 km jauhnya.
Baca Juga: Invasi Rusia: Sedikitnya Dua Anak Ukraina Tewas Setiap Hari
Kantor berita Rusia TASS melaporkan Kedutaan Korea Utara di Moskwa mengonfirmasi telah mengakui kemerdekaan kedua entitas pada Rabu. Rusia, yang telah mendukung dua wilayah separatis sejak 2014, mengakui kemerdekaan mereka pada malam invasi 24 Februari ke Ukraina dalam satu langkah yang dikutuk oleh Kyiv dan Barat sebagai tindakan ilegal.
Kremlin membenarkan keputusannya untuk melancarkan perang, yang disebutnya "operasi militer khusus", dengan mengatakan bahwa itu melindungi penutur bahasa Rusia yang tinggal di wilayah Donbas dari "genosida".
Kyiv dan Barat telah menolak pernyataan ini sebagai dalih untuk mengobarkan perang dan merebut sebagian besar wilayah Ukraina. Korea Utara sebelumnya juga menyatakan dukungan untuk pencaplokan Krimea oleh Rusia pada tahun 2014.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




