Ukraina Tawarkan Bantuan Lawan Drone Iran
Sabtu, 7 Maret 2026 | 11:02 WIB
Washington, Beritasatu.com - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Amerika Serikat dan sejumlah negara di Timur Tengah tertarik memanfaatkan pengalaman Ukraina dalam menghadapi serangan drone Iran jenis Shahed. Hal itu terkait semakin meluasnya konflik di Timur Tengah.
Drone tersebut sebelumnya banyak digunakan Rusia dalam serangan terhadap kota-kota Ukraina dan kini dilaporkan digunakan Iran dalam serangan balasan di kawasan Teluk.
Menurut Zelenskyy, Ukraina telah berdiskusi dengan beberapa negara di Timur Tengah, termasuk Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Yordania, dan Kuwait terkait potensi kerja sama pertahanan.
“Ukraina tahu bagaimana menghadapi serangan drone Shahed karena kota-kota kami hampir setiap malam menghadapi serangan tersebut,” kata Duta Besar Ukraina untuk AS, Olga Stefanishyna, seperti dilansir Associated Press, Jumat (6/3/2026).
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump juga menyoroti kondisi persediaan senjata Amerika di tengah meningkatnya konflik global. Trump mengkritik kebijakan pemerintahan sebelumnya di bawah Joe Biden yang memberikan miliaran dolar bantuan senjata canggih kepada Ukraina tanpa diimbangi pengisian kembali cadangan militer AS.
Sebelumnya, Intelijen Amerika Serikat (AS) menduga Rusia telah memberikan informasi kepada Iran yang berpotensi membantu Teheran menargetkan kapal perang, pesawat, serta aset militer Negeri Paman Sam di kawasan Timur Tengah.
Informasi tersebut disampaikan oleh dua pejabat yang mengetahui laporan intelijen AS, seperti dilansir Associated Press. Namun, mereka meminta identitasnya dirahasiakan karena tidak memiliki kewenangan untuk mengungkapkan informasi sensitif secara publik.
Meski demikian, para pejabat tersebut menegaskan intelijen Amerika belum menemukan bukti Rusia secara langsung mengarahkan Iran untuk menggunakan informasi tersebut. Dugaan ini muncul di tengah meningkatnya konflik setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran sekitar sepekan lalu.
Sejak saat itu, Iran disebut telah melancarkan serangan balasan yang menargetkan aset Amerika serta sekutunya di kawasan Teluk Persia. Jika benar, laporan intelijen tersebut menjadi indikasi pertama Moskwa berupaya terlibat dalam konflik yang sedang berlangsung antara AS, Israel, dan Iran.
Rusia termasuk salah satu negara yang mempertahankan hubungan dekat dengan Iran, meskipun Teheran selama bertahun-tahun menghadapi isolasi internasional terkait program nuklirnya serta dukungan terhadap kelompok-kelompok proksi di Timur Tengah.
Beberapa kelompok tersebut, antara lain Hezbollah di Lebanon, Hamas di Palestina, dan Houthi Movement di Yaman. Menanggapi laporan tersebut, Gedung Putih berupaya meredam kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap operasi militer Amerika.
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan laporan tersebut tidak memengaruhi jalannya operasi militer AS di Iran. “Hal itu jelas tidak membuat perbedaan terhadap operasi militer di Iran karena kami benar-benar melumpuhkan mereka,” tegasnya kepada wartawan.
Sementara itu, Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan tidak ada permintaan dari Iran untuk bantuan militer tambahan dari Rusia. “Kami terus berdialog dengan pihak Iran dan akan melanjutkan dialog tersebut,” katanya.
Namun, ketika ditanya apakah Rusia telah memberikan bantuan militer atau intelijen kepada Iran sejak perang dimulai, Peskov menolak memberikan komentar lebih lanjut. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan Rusia dan Iran semakin menguat, terutama sejak Moskwa menghadapi tekanan internasional akibat perang melawan Ukraina.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




