Kesepakatan Damai AS-Iran Bawa Harapan Baru bagi Ekonomi Indonesia
Jumat, 19 Juni 2026 | 17:05 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Selebritas sekaligus anggota Komisi I DPR Nurul Arifin menyambut baik kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU).
Menurutnya, perdamaian AS-Iran berpotensi memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia, terutama melalui kelancaran perdagangan global dan stabilitas energi.
Nurul Arifin menilai meredanya ketegangan di Timur Tengah dapat mengurangi ketidakpastian ekonomi dunia yang selama ini dipicu konflik berkepanjangan antara kedua negara.
Salah satu poin penting dalam kesepakatan tersebut adalah pembukaan kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis perdagangan energi dunia.
"Indonesia jelas akan mendapatkan dampak positif dari perdamaian Amerika Serikat dan Iran ini. Karena aktivitas impor dan ekspor yang menjadi salah satu fondasi ekonomi nasional dapat kembali berjalan lebih lancar," ungkap Nurul Arifin dikutip dari TVR Parlemen, Jumat (19/6/2026).
Menurut politisi Fraksi Partai Golkar itu, pembukaan kembali Selat Hormuz akan memberikan sentimen positif terhadap iklim ekonomi dan politik global.
Jalur tersebut selama ini menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dan energi dunia.
"Dengan ditandatanganinya MoU ini, paling tidak Selat Hormuz dapat dibuka kembali. Ini tentu positif bagi iklim politik dan ekonomi global karena distribusi energi dunia menjadi lebih lancar," tegasnya.
Nurul Arifin menambahkan, stabilitas kawasan Timur Tengah berpotensi menekan gejolak harga energi sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar mata uang global.
Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan ruang bagi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Kalau situasi di sana stabil, harga minyak berpotensi turun, nilai tukar dolar lebih stabil, dan rupiah juga bisa semakin menguat. Jadi, dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara yang berkonflik, tetapi juga negara lain termasuk Indonesia,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan proses perdamaian masih membutuhkan langkah lanjutan. Sejumlah isu strategis seperti program nuklir Iran dan pencabutan sanksi ekonomi masih memerlukan pembahasan lebih lanjut antara para pihak.
"Masih banyak hal yang harus disepakati. Saya berharap semua pihak dapat mengedepankan kebijaksanaan dan kedewasaan politik agar proses perdamaian ini tidak berhenti pada MoU semata, tetapi berkembang menjadi kesepakatan yang lebih permanen demi stabilitas dunia," tutupnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




