Pentagon Diduga Tutup Laporan Serangan Mematikan di Sekolah Iran
Jumat, 19 Juni 2026 | 09:31 WIB
Washington, Beritasatu.com - Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan NBC News telah menyelesaikan investigasi internal terkait serangan udara mematikan di sebuah sekolah dasar di Iran. Insiden itu menewaskan lebih dari 170 orang, sebagian besar di antaranya anak-anak. Laporan tersebut kini berada dalam tahap akhir peninjauan sebelum diserahkan kepada para anggota Kongres AS.
Namun, sejumlah sumber NBC News yang mengetahui proses tersebut menyebutkan adanya kekhawatiran bahwa hasil investigasi berpotensi diklasifikasikan oleh pemerintah AS, sehingga membatasi akses publik terhadap temuan lengkapnya. Langkah tersebut dinilai dapat mengurangi transparansi terkait salah satu insiden korban sipil terbesar dalam konflik AS dan Israel dengan Iran.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) disebut telah merampungkan investigasi atas serangan yang terjadi di sekolah Shajareh Tayyebeh, Minab, pada hari pertama konflik. Meski demikian, hingga kini Kongres belum menerima rincian hasil maupun kepastian waktu publikasi laporan tersebut.
Menanggapi pertanyaan wartawan, Presiden AS Donald Trump menyebut insiden tersebut masih dalam penyelidikan. “Kesalahan dalam perang bisa terjadi,” ujar Trump.
Ia juga menyatakan kemungkinan laporan akan dirilis dalam waktu dekat, namun mengarahkan pertanyaan lebih lanjut kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang mengawasi proses tersebut.
Sementara itu, juru bicara Pentagon menegaskan investigasi masih berlangsung dalam tahap finalisasi. Di sisi lain, sejumlah anggota Kongres, termasuk Senator Demokrat Mark Kelly, menyuarakan kekhawatiran laporan tersebut akan disembunyikan dari publik melalui klasifikasi keamanan.
Insiden serangan di Minab tersebut menjadi sorotan internasional karena menewaskan lebih dari 170 orang, mayoritas anak-anak, serta diduga melibatkan penggunaan munisi AS di sekitar area sekolah. Sejumlah laporan awal menyebutkan bahwa intelijen yang sudah usang kemungkinan menjadi faktor penyebab terjadinya serangan tersebut.
Kongres AS sebelumnya telah mendesak transparansi penuh terkait insiden itu, termasuk mempertanyakan kemungkinan penggunaan teknologi kecerdasan buatan dalam proses penentuan target militer. Hingga kini, tekanan politik terhadap Pentagon terus meningkat seiring belum dibukanya hasil investigasi kepada publik.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




