ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Hangat Jamu Coro, Hikayat Minuman para Raja di Pasar Takjil Demak

Selasa, 24 Februari 2026 | 04:00 WIB
SM
S
Penulis: Samsul Maarif | Editor: JTO
Jamu coro minuman para raja di takjil Ramadan
Jamu coro minuman para raja di takjil Ramadan (Beritasatu.com/Samsul)

Demak, Beritasatu.com - Di bawah jingga langit Jalan Bhayangkara, Demak, Jawa Tengah, menguar aroma jahe yang tajam berkelindan dengan harum kayu manis. Di tengah serbuan minuman boba yang warna-warni dan es kekinian yang manisnya menggigit, terselip sebuah kearifan lokal yang menolak tunduk pada zaman. Masyarakat menyebutnya jamu coro.

Ia bukan sekadar jamu dalam bayangan umum yang pahit dan getir. Jamu coro adalah wedang kental, sebuah perpaduan unik antara hangatnya rempah dan lembutnya tepung beras yang dimasak menyerupai bubur cair.

Bagi warga Demak, menyesap jamu coro saat azan Magrib berkumandang bukan sekadar membatalkan puasa, melainkan merawat sebuah tradisi yang usianya jauh lebih tua dari kemerdekaan republik ini.

ADVERTISEMENT

Secara etimologi, nama coro memicu banyak perdebatan menarik. Dalam bahasa Jawa, coro sering diasosiasikan dengan cara atau metode. Namun, literasi sejarah lokal sering menyebutkan bahwa nama ini merujuk pada cara penyajiannya yang unik atau sejarahnya sebagai cara buka atau metode berbuka puasa yang dianjurkan oleh para leluhur.

Secara filosofis, jamu coro adalah simbol keseimbangan. Menggunakan bahan utama jahe, merica, kayu manis, dan santan, minuman ini mencerminkan konsep anget (hangat) untuk memulihkan energi yang hilang.

"Ini bukan sekadar minuman. Ada doa dan kesehatan di tiap adukannya," ujar Latif, salah satu penjaga tonggak tradisi yang meneruskan resep turun-temurun dari sang nenek, Senin (23/2/2026).

Menilik sejarahnya, jamu coro bukan minuman sembarangan. Menurut beberapa catatan tutur Serat Centhini minuman ini berkaitan dengan era Kesultanan Demak Bintoro pada abad ke-15 hingga ke-16, ramuan rempah ini konon merupakan minuman favorit kalangan bangsawan dan prajurit kerajaan.

Dalam literasi sejarah Jawa, wilayah pesisir utara seperti Demak merupakan pusat pertemuan rempah-rempah dunia. Penggunaan merica dan jahe dalam jamu coro menunjukkan pengaruh kuat perdagangan rempah masa itu. Konon, para Wali dan sultan mengonsumsi ramuan ini untuk menjaga kebugaran saat harus melakukan syiar Islam dan menjaga pertahanan wilayah.

Jika menengok tradisi keraton, minuman berbahan jahe dan santan kental merupakan simbol kemakmuran hasil bumi. Jamu Coro adalah bukti bahwa apa yang dulu tersaji di meja perak istana, kini bisa dinikmati oleh siapa saja dengan harga hanya Rp 3.000 hingga Rp 4.000 per porsi.

Secara teknis, membuat jamu coro adalah kerja kesabaran. Tepung beras harus diaduk dengan air rempah hingga membentuk tekstur yang pas, tidak terlalu cair, tidak terlalu kental.

Dwi Teguh, seorang pelanggan setia mengaku rasa hangat yang menjalar di tenggorokan adalah alasan utamanya selalu memburu minuman ini.

"Rasanya jujur. Ada pedas jahe, tetapi lembut di perut. Cocok untuk mengawali buka puasa setelah seharian perut kosong," tuturnya.

Keberadaan jamu coro di Jalan Bhayangkara setiap sore menjelang Magrib adalah sebuah anomali yang indah. Di saat kuliner tradisional lain mulai terpinggirkan, jamu coro justru tetap laris manis terjual hingga ratusan porsi.

Ia menjadi pengingat bahwa di balik megahnya Masjid Agung Demak dan sejarah besar Kesultanan Demak Bintoro, ada sepiring hangat jamu coro yang terus menjaga stamina dan identitas warganya selama ratusan tahun.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Ketupat Sayur hingga Timphan, Ini 7 Kuliner Khas Lebaran di Indonesia

Ketupat Sayur hingga Timphan, Ini 7 Kuliner Khas Lebaran di Indonesia

NASIONAL
5 Permainan Ramah Anak Seru Saat Lebaran, Minim Paparan Gadget

5 Permainan Ramah Anak Seru Saat Lebaran, Minim Paparan Gadget

NASIONAL
Ucapkan Selamat Idulfitri 2026, Prabowo: Mari Kita Perkuat Kebersamaan

Ucapkan Selamat Idulfitri 2026, Prabowo: Mari Kita Perkuat Kebersamaan

NASIONAL
Momen Prabowo, Didit, dan Titiek Soeharto Kumpul Bareng Akhir Ramadan

Momen Prabowo, Didit, dan Titiek Soeharto Kumpul Bareng Akhir Ramadan

NASIONAL
Gelar Salat Id Perdana, Masjid Negara IKN Siap Tampung 7.500 Jemaah

Gelar Salat Id Perdana, Masjid Negara IKN Siap Tampung 7.500 Jemaah

NASIONAL
317.666 Personel Polri Amankan Malam Takbiran hingga Salat Id

317.666 Personel Polri Amankan Malam Takbiran hingga Salat Id

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT