Pekerja Seni Sepi Job Manggung, Biduan Dangdut Ini Banting Setir Jualan Kopi di TPU Jombang
Jumat, 30 Juli 2021 | 16:39 WIB
Tangerang Selatan, Beritasatu.com – Para pekerja seni merupakan salah satu profesi yang terdampak besar akibat pandemi Covid-19. Hal itu yang dialami Putri Mayang atau yang akrab disapa Puput yang kini harus rela banting setir dari sebelumnya seorang penyanyi dangdut jadi pedagang kopi disebuah warung kecil yang terletak di TPU Jombang Ciputat yang menjadi TPU bagi jenazah Covid-19 di Kota Tangerang Selatan (Tangsel).
Biduan berusia 25 tahun itu mengaku, kerap nyanyi dari panggung ke panggung saat masyarakat menggelar hajatan dan kini dia harus rela menjual kopi dan juga gorengan lantaran tawaran manggung sudah tidak ada karena aturan ketat penyelenggaraan hiburan saat pandemi Covid-19. Hal itu diungkapkannya saat ditemui media, Kamis (29/7/2021).
"Saya menjalani profesi ini lantaran sekarang sudah enggak ada job karena memang hiburan banyak yang enggak dibolehin selama pandemi Covid-19. Padahal saya nyanyi dari panggung ke panggung dari tahun 2013 enggak cuma di Tangsel saja, tapi juga di luar wilayah Tangsel," ceritanya.
Sebelum memutuskan jadi berdagang kopi dan gorengan di TPU Jombang, Puput mengaku sempat bekerja di sebuah Bank milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di wilayah Tangerang Selatan berbekal ilmu yang didapatnya. Namun lagi-lagi karena pandemi Puput harus mengundurkan diri lantaran pekerjaannya yang begitu menguras waktu , tenaga meski hasil tak memuaskan.
"Tidak kuat kerja di bank sebagai marketing, terlebih situasi PPKM begini. Saya resign dan hanya sekitar 5 bulan saja. Dan ketika ada yang nawarin buka warung di TPU Jombang baru ya saya ambil saja karena pastinya enggak ada tekanan ketimbang kerja di Bank," lanjutnya.
Meski baru seminggu dan tak sebesar penghasilan kala menjadi seorang biduan, namun Puput tetap bersyukur masih diberikan kesempatan untuk mencari nafkah. Terlebih dirinya merupakan tulang punggung bagi keluarga dan demi membiayai kuliahnya yang masih berjalan di semester akhir.
"Waktu jadi penyanyi bisa saya mengantongi Rp 40 juta. Bahkan kadang hampir setiap hari manggung dari satu lokasi ke lokasi lain, malah pernah dalam satu bulan di 27 titik baik di Tangsel atau diluar Tangsel. Dan uangnya sendiri saya tabung buat kebutuhan sehari-hari sama buat biaya kuliah," lanjutnya.
"Kalau sekarang, penghasilannya jauh berkurang. Menjadi penjual kopi di sini awal-awal itu Rp 2 juta sehari. Itu pendapatan kotor, belum buat keuntungannya. Makanya saya sama teman-teman lain dan juga kru musiknya berharap cepat berakhir dan aktivitas bisa cepat normal lagi," tandasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




