ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Soal Sampah Makanan, Pengamat Sosial Ajak Masyarakat Hidup Minimalis

Selasa, 21 Maret 2023 | 05:19 WIB
MB
JS
Penulis: Maria Fatima Bona | Editor: JAS
Kompos kolektif merupakan bagian dari kampanye #MakanTanpaSisa yang mengolah sampah makanan menjadi pupuk kompos.
Kompos kolektif merupakan bagian dari kampanye #MakanTanpaSisa yang mengolah sampah makanan menjadi pupuk kompos. (BeritaSatu Photo/Ruht Semiono)

Jakarta, Beritasatu.com – Guna mengurangi sampah makanan di Tanah Air, pengamat sosial dari Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati mengajak masyarakat untuk hidup minimalis, sehingga memastikan setiap makanan tidak mubazir.

"Ini memang perlu dilakukan kampanye gaya hidup minimalis bukan dalam konteks pelit, tetapi bagaimana memastikan setiap makanan itu tidak mubazir," kata Devie saat dihubungi Beritasatu.com secara virtual di Jakarta, Senin (20/3/2023).

Devie menyebutkan Indonesia menjadi salah satu negara penghasil sampah makanan tertinggi di dunia karena ada kearifan sosial terkait makanan. Sebagaimana diketahui, Program Lingkungan PBB (UNEP) yang diperbarui pada 2021 merilis data bahwa jumlah sampah makanan Indonesia menempati posisi ketiga di dunia, setelah Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS).

ADVERTISEMENT

Ada pun kearifan sosial yang dimaksud, kata Devie segala sesuatu baik itu pertemuan maupun konflik semua diselesaikan dengan makanan. Sayangnya, masyarakat Indonesia tidak mampu mengontrol makanan yang harus disediakan, sehingga sering terjadi mubazir.

"Artinya, apakah cukup segini dalam rangka misalnya menghargai orang lain bentuk hospitality (keramahan) kita terhadap tamu, terhadap siapapun pasti makanan. Bahkan kita rela sampai meminjam uang," ucapnya.

Menurut Devie, kearifan sosial ini menunjukkan masyarakat Indonesia memiliki tingkat solidaritas yang sangat tinggi. Hal ini terbukti ketika pandemi Covid-19, masyarakat saling bergotong royong satu sama lain.

Untuk mengatasi sampah makanan, Devie menyarankan perlu sistem untuk membagikan makanan sisa, karena belum semua masyarakat Indonesia mengetahui cara membagikan atau menyalurkan makanan sisa. Meski di Indonesia, kata Devie sudah memiliki Foodbank of Indonesia yang telah bergerak selama 8 tahun untuk mengumpulkan makanan berlebihan atau sisa.

"Ini masalah pengetahuan. Masyarakat kita enggak paham bahwa dampak makanan yang berlebihan itu seperti apa. Lalu memiliki makanan yang berlebihan, harus distribusikan ke mana," ucapnya.

Menurutnya, situasi terjadi saat ini membutuhkan inisiatif dari berbagai pihak untuk mengurangi sampah makanan. Pasalnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan sampah makanan mendominasi sampah lainnya.

"Artinya, kalau sekarang media mengangkat hal ini membantu menyiarkan apa yang dilakukan oleh LSM, ini menjadi cara agar masyarakat kita yang memang hatinya sangat mulia tahu ini makanan harus diberikan kepada siapa dan bagaimana prosesnya," ucapnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon