ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Muhammadiyah Salat Idulfitri 20 Maret 2026, Ini Pesan Haedar Nashir

Senin, 16 Maret 2026 | 20:19 WIB
CN
HH
Penulis: Chandra Adi Nurwidya | Editor: HP
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir di Yogyakarta, Senin 16 Maret 2026.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir di Yogyakarta, Senin 16 Maret 2026. (Beritasatu.com/Chandra Adi Nurwidya)

Yogyakarta, Beritasatu.com - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idulfitri jatuh pada Jumat (20/3/2026). Penetapan tersebut disampaikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir di Yogyakarta, Senin (16/3/2026).

Haedar mengatakan keputusan tersebut diharapkan dapat menjadi pedoman bagi warga Muhammadiyah serta umat Islam lainnya dalam mempersiapkan pelaksanaan salat Idulfitri 1447 H.

“Atas nama Pimpinan Pusat Muhammadiyah, kami menyampaikan, khususnya kepada seluruh keluarga besar dan simpatisan Muhammadiyah dan mudah-mudahan juga bermanfaat untuk kaum Muslimin bahwa Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah akan jatuh pada hari Jumat (20/3/2026),” ujar Haedar.

ADVERTISEMENT

Haedar menjelaskan pelaksanaan salat Idulfitri dianjurkan dilakukan di lapangan atau tempat terbuka agar dapat menampung jemaah dalam jumlah besar.

Namun demikian, jika kondisi tidak memungkinkan, pelaksanaan salat Idulfitri tetap dapat dilakukan di masjid maupun tempat lain yang memadai.

“Kami persilakan untuk melakukan salat Idulfitri di lapangan atau apabila kondisi tidak memungkinkan, di suatu tempat, di masjid, atau tempat-tempat yang memang bisa untuk melaksanakan salat,” katanya.

Secara khusus, Haedar juga menyampaikan imbauan kepada warga Muhammadiyah serta takmir masjid Muhammadiyah di Bali agar menjaga semangat toleransi dalam pelaksanaan takbiran menjelang Hari Raya Idulfitri.

Ia meminta agar kegiatan takbir tidak dilakukan secara terbuka menggunakan pengeras suara demi menghormati masyarakat sekitar yang memiliki latar belakang berbeda.

“Khusus untuk warga Muhammadiyah dan takmir-takmir masjid Muhammadiyah di Bali, dengan dan atas nama toleransi tidak melakukan takbir sendiri atau takbir yang menggunakan pengeras suara. Bolehlah untuk kali ini takbir di rumah atau di masjid-masjid,” ujar Haedar.

Haedar juga menekankan pentingnya sikap saling menghormati apabila terjadi perbedaan waktu pelaksanaan Idulfitri di tengah masyarakat.

Menurutnya, perbedaan penentuan awal Syawal merupakan hal yang kerap terjadi dalam praktik keagamaan umat Islam, sehingga perlu disikapi dengan bijak dan penuh toleransi.

“Apabila ada perbedaan dalam pelaksanaan Idulfitri, kami menghargai dan memohon untuk saling menghargai,” kata dia.

Ia juga berharap fasilitas dan tempat-tempat publik dapat dimanfaatkan secara bersama untuk pelaksanaan salat Idulfitri oleh berbagai kelompok umat Islam, termasuk yang memiliki perbedaan dalam penentuan hari raya.

Dengan sikap saling menghormati tersebut, Haedar berharap momentum Idulfitri dapat menjadi ajang memperkuat persatuan dan kerukunan umat Islam di Indonesia.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Gubernur Pramono Makin Erat Gandeng Muhammadiyah demi Bangun Jakarta

Gubernur Pramono Makin Erat Gandeng Muhammadiyah demi Bangun Jakarta

JAKARTA
Berapa Kali NU dan Muhammadiyah Rayakan Lebaran Berbeda Hari?

Berapa Kali NU dan Muhammadiyah Rayakan Lebaran Berbeda Hari?

NASIONAL
Salat Idulfitri Muhammadiyah

Salat Idulfitri Muhammadiyah

MULTIMEDIA
Idulfitri di Tengah Luka, Warga Hutagodang Tetap Khusyuk Beribadah

Idulfitri di Tengah Luka, Warga Hutagodang Tetap Khusyuk Beribadah

SUMATERA UTARA
Khutbah Idulfitri di Kaki Gunung Slamet Ajak Umat Hadapi Tantangan Global

Khutbah Idulfitri di Kaki Gunung Slamet Ajak Umat Hadapi Tantangan Global

NASIONAL
Warga Muhammadiyah Tunda Tradisi Unjung-unjung demi Harmoni

Warga Muhammadiyah Tunda Tradisi Unjung-unjung demi Harmoni

JAWA TIMUR

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon