Diterimakah Amal Ibadah Kita? (1)
Jumat, 5 Juli 2013 | 17:47 WIB
"Berbuatlah kebaikan di setiap kesempatan. Jika tidak menemukan kesempatan, cukup temui saudaramu dengan wajah ceria. Tidak harus menunggu kaya raya untuk jadi dermawan. Jika belum bisa membangun masjid, bisa bantu sapu lantainya." (nasihat seorang sahabat)
Suatu saat nabi Muhammad SAW didatangi oleh istri seorang sahabat yang baru saja meninggal dunia. Istri sahabat tadi menceritakan penggalan-penggalan kalimat yang diucapkan oleh suaminya menjelang sakratulmaut. Suaminya mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak lengkap dan sukar dimengerti oleh yang mendengarnya.
Ia mengucapkan,"Seandainya lebih panjang..., seandainya lebih panjang..." Kemudian terdiam. Tak lama kemudian suaminya berucap lagi,"Seandainya yang baru..., seandainya yang baru..." Kemudian terdiam lagi. Tak lama berucap lagi ,"Seandainya semuanya..., seandainya semuanya..." Tak lama setelah itu, suaminya meninggal.
Sang istri yang resah dengan kalimat-kalimat yang tidak dimengertinya itu datang dan mengadu kepada nabi Muhammad SAW. Mendengar cerita dari sang istri itu nabi tersenyum. Lalu menceritakan maksud dari penggalan kalimat-kalimat suaminya itu.
Kemudian Rasulullah Muhammad SAW menjelaskan kepada istri tersebut.
"Seandainya lebih panjang...,seandainya lebih panjang..."
Suaminya pada suatu subuh, ketika sedang berjalan menuju masjid, ia mendapati seorang tua yang buta sedang berjalan tertatih-tatih menuju masjid. Melihat orangtua yang buta itu, hatinya tersentuh. Kemudian dengan sabar ia menuntun orangtua itu sampai ke masjid untuk salat subuh berjemaah. Pahala atau ganjaran dari perbuatan baiknya itu ditampakkan di depan matanya saat sakratulmaut. Karena begitu indahnya ganjaran itu, ia berucap,"Seandainya lebih panjang..., seandainya lebih panjang..."
Maksudnya adalah seandainya lebih panjang lagi ia menuntun orangtua yang buta itu menuju masjid, maka tentu ganjaran yang ia lihat saat sakratulmaut itu tentu lebih indah lagi.
"Seandainya yang baru..., seandainya yang baru..,"
Pada suatu hari, ketika suaminya pulang dari membeli baju di pasar, ia bertemu dengan seorang miskin yang tidak memakai baju. Orang miskin itu berteriak-teriak untuk diberikan baju, namun tidak ada orang yang memperhatikannya. Melihat hal itu tersentuhlah hatinya untuk memberikan bajunya. Maka si suami itu segera menukar bajunya yang lama dengan yang baru, kemudian bajunya yang lama itu diberikan kepada orang miskin itu.
Pahala atau ganjaran dari perbuatan baik itu ditampakkan di depan matanya saat sakratulmaut. Karena begitu indahnya ganjaran itu, maka ia berucap,"Seandainya yang baru..., seandainya yang baru..."
Maksudnya adalah seandainya pakaian yang baru yang ia berikan kepada orang yang miskin itu, tentu ganjaran yang diperlihatkan padanya saat sakratulmaut itu lebih indah lagi.
"Seandainya semuanya...,seandainya semuanya..."
Pada suatu hari, suaminya telah siap duduk untuk menyantap hidangan makannya. Saat ia hendak makan datanglah seorang pengemis yang menceritakan padanya bahwa ia belum makan dan merasa sangat lapar. Maka, ia merasa iba kepada pengemis itu dan dibagi dualah makanan yang hendak ia santap itu bersama si pengemis.
Pahala atau ganjaran dari perbuatan baiknya itu ditampakkan di depan matanya saat sakratulmaut. Karena begitu indahnya ganjaran itu maka ia berucap,"Seandainya semuanya..., seandainya semuanya..."
Maksudnya adalah seandainya ia memberikan semua makanannya kepada pengemis itu, tentu ganjaran yang diperlihatkan kepadanya saat sakratulmaut itu lebih indah lagi.
Mendengar penjelasan dari nabi, hilanglah kegelisahan hati sang istri itu. Bahkan, ia bergembira karena ternyata suaminya banyak mendapat kabar gembira saat menghadapi sakratulmaut.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online





