Diduga Dipaksa Mengaku Mencuri, Murid SD Trauma Kembali Sekolah
Selasa, 24 September 2013 | 07:25 WIB
Jakarta - IPS, murid kelas 2A sekolah dasar di daerah Klender Duren Sawit, Jakarta Timur, ketakutan untuk kembali belajar di sekolah. IPS diduga dipaksa oleh seorang guru untuk mengaku mencuri sebuah buku tulis milik teman sekelasnya.
Tety (38), Ibu dari IPS menuturkan, pada Kamis (19/9) lalu, di kelas anaknya, seorang murid berinisial M ditugaskan membagikan buku tulis garis tiga hasil penilaian guru kelas pengganti, TP (28). Tetapi, saat itu, buku yang diberikan kepada IPS ternyata milik murid berinisial T.
Murid T tersebut langsung meneriaki IPS mencuri karena melihat buku tersebut berada di tangannya. "Karena kejadian itu, gurunya bicara di depan kelas 'wah murid ibu ada yang maling nih.' Teman-temannya jadi ikut bilang, ada yang maling. Memang yang tertulis disampul buku itu bukan nama anak saya, mungkin temannya yang membagikan salah membaca lalu menyerahkan pada anak saya. Tapi reaksi ibu gurunya itu berlebihan. Seharusnya dia paham tentang psikologi anak," kata Tety, saat ditemui di rumahnya, Senin (23/9).
Seusai jam pelajaran, IPS pun dipanggil oleh TP. Anak berusia tujuh tahun itu diinterogasi TP di ruang guru terkait peristiwa tersebut. "Saya mendapat laporan dari anak saya kalau dia merasa dituduh maling, akhirnya saya tanyakan ke pihak sekolah dengan rasa emosional. Setelah dibicarakan bersama Kepala Sekolah bahwa terjadi kesalahpahaman, akhirnya kami berdamai," tuturnya.
Persoalan ternyata belum selesai, pada Jumat (20/9), IPS dipindahkan oleh sang guru dari tempat duduknya semula. Sang guru meminta teman sekelas IPS untuk menjauh dan mengancam akan mengadukan kepada orangtua masing-masing jika mendekati IPS.
Bahkan, keesokan harinya, di sekolah anaknya, dengan jarak tertentu, Tety yang mengantar anaknya bersekolah melihat guru kelas pengganti itu masuk ke kelas anaknya bersama kepala sekolah. Tak lama, IPS keluar kelas sambil menangis karena dipaksa mengaku telah mencuri buku.
"Dia bilang habis dipaksa gurunya untuk mengaku bahwa dia yang bersalah mencuri buku. Langsung dia minta pulang dan tidak mau sekolah lagi. Kami sebagai orangtua menyesalkan tindakan guru tersebut, anak kami merasa dituduh maling. Malah orangtua teman anak saya juga menelepon dan menanyakan kebenaran informasi yang menyebutkan IPS dikeluarkan dari sekolah karena mencuri," katanya.
Tety berharap pihak sekolah bertanggungjawab merehabilitasi nama anaknya. Pihak sekolah harus mengumumkan di sekolah bahwa anakya bukanlah seorang pencuri, serta dapat mencarikan sekolah baru bagi IPS sebagai solusi.
Ketika dikonfirmasi mengenai hal ini, sang guru mengaku tak bermaksud menuduh muridnya tersebut. Menurutnya, pernyataannya tersebut tidak hanya ditujukan kepada IPS, namun kepada seluruh murid.
Dituturkan TP, setelah salah seorang muridnya T mengaku kehilangan buku, dan menuding IPS yang mencuri, ia berbicara di muka kelas bahwa muridnya tidak boleh ada yang mencuri. "Mungkin hanya salah paham, karena setelah kejadian saya cuma bilang di depan kelas, 'Dengerin Ibu Guru yaa, Ibu nggak mau ada murid yang mengambil yang bukan miliknya, mencuri, dan menjadi maling," kata Tri ditemui di ruangan Kepala Sekolah SDN 24, Senin (23/9).
Ia menambahkan, buku milik T tersebut memang berada di dalam tas IPS. Karena itu, murid-muridnya mencurigai IPS sebagai pencuri. "Tapi saya minta maaf, karena ini hanya kesalahpahaman. Apalagi, IPS tergolong anak yang pintar matematika," katanya.
Kepala Sekolah SD tersebut, Eunika Sugiyati, mengatakan, agar permasalahan itu diselesaikan secara kekeluargaan. Ia pun berharap agar IPS bisa kembali sekolah lagi. "Kami harap, ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Jika memang ada kesalahan dari sistem pengajaran kami, kami mohon maaf. Kami harap IPS bisa sekolah lagi," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




