Polri Sita Uang Rp 200 Juta di Lokasi Penangkapan Terduga Teroris

Rabu, 1 Januari 2014 | 15:47 WIB
FA
B
Penulis: Farouk Arnaz | Editor: B1
Ilustrasi densus 88 sergap teroris
Ilustrasi densus 88 sergap teroris (Istimewa)

Jakarta - Mabes Polri merilis proses penyergapan delapan terduga teroris, dimana enam tertembak mati, dalam operasi antiteror yang berlangsung selama sembilan jam di sebuah rumah kontrakan di Jalan KH Dewantoro, Kampung Sawah, Ciputat mulai Selasa malam (31/12) hingga Rabu (1/1) pagi.

"Jadi (bermula) dari penangkapan Anton alias Septi di depan warnet di Kemranjen, Banyumas, Jawa Tengah pukul 14.00 kemarin. Dia ini kelompok Abu Roban dan beberapa DPO terkait peledakan Wihara Ekayana dan fai yang terjadi di Tambora dan perampokan bank juga penembakan anggota Polri," kata Karo Penmas Polri Brigjen Boy Rafli Amar di Mabes Polri Rabu (1/1) siang.

Saat ditangkap, Anton pun "bernyanyi" jika dia tinggal di rumah kontrakan di Kampung Sawah, Ciputat dimana kemudian Densus 88/Antiteror langsung mengajak penyidik Polda Metro Jaya.

Tepat sekitar pukul 20.00 WIB dilakukan upaya penagkapan terhadap Daeng alias Hidayat alias Dayat sesaat setelah dia keluar rumah dengan mengendarai sepeda motor.

"Saat dihentikan, dia melawan dengan senpi rakitan kaliber 38 dan sebuah pisau. Ada aksi saling tembak hingga kemudian Dayat dibawa ke RS Polri dan akhirnya meninggal dunia," tambah Boy.

Petugas pun bergerak menuju ke rumah kontrakan yang mereka kontrak sekitar setahun yang lalu. Awalnya diperkirakan ada 3 sampai 4 orang di dalamnya yang menguasai senjata api dan bahan peledak.

"Mereka kita minta menyerahkan diri tapi diabaikan dan malah balas menembak. Akhirnya ada proses tembak menembak. Hingga tak ada balasan tembakan pada pukul 03.30 WIB tadi. Saat agak terang, jam 05.00 tadi, petugas masuk ke dalam rumah dan ternyata mereka semua sudah kena tembakan," papar Boy.

Mereka semua terbukti melawan sampai akhir karena ditemukan dalam satu ruangan di bagian paling depan di rumah kontrakan itu.

"Ternyata ada lima orang (tertembak mati) dalam rumah itu dengan enam senjata api. Yakni 1 revolver kaliber 38 dengan nomer senpi yang dihapus, 5 pistol rakitan dan 34 peluru 9mm. Korban telah di evakuasi di RS Polri," sambung Boy.

Mereka adalah Nurul Haq dan Hendi, serta tiga orang--yang sementara ini dikenali--sebagai Rizal, Oji, dan Amril.

"Kami tak menjamin namanya tidak berubah. Di dalam rumah banyak barang bukti seperti 6 sepeda motor dimana satu sepeda motor adalah hasil rampasan dari satpam saat mereka menembak Aiptu Kus di Pondok Aren," imbuh Boy.

Motor itu diganti pelat nomornya dari B6620SPS jadi B6516VGE. Lima motor lainnya juga duga kuat hasil rampasan. Polisi juga menemukan 5 golok panjang, bahan kimia, arang, klirit, potasium kloride, rangkaian switch, rangkaian eletronik, dan 6 buah bom pipa dimana 3 paralon dan 3 besi.

"Sepertinya belum lama diselesaikan. Ada kemiripan bom itu dengan sebungkus bom di Warteg (di Panongan).
Ada uang Rp 200 juta dalam pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu dalam tas besar. Ini kita duga hasil merampok BRI Panongan," urainya.

Bukti lainnya, tambah Boy, adalah daftar 50 wihara di seputar Jakarta yang diduga akan dijadikan target sasaran bom dalam bentuk print out. Juga ada tulisan tangan cara merangkai bom rakitan.

Lalu juga ada barang untuk membuat rangkaian elektronik seperti solder dan buku-buku dalam ruangan.

"Rumah itu kami perkirakan sebagai tempat perencanaan aksi dan konsolidasi. Belum banyak masyarakat dan pemilik kontrakan yang tidak peduli. Mereka lebih banyak beraktivitas di malam hari," sambung Boy.

Saat ini tim Inafis Polri dan Puslabfor tengah melakukan olah di TKP yang diharapkan bisa tuntas dalam 1-2 hari ini. Polisi juga akan menggeledah sebuah tempat di daerah Situ Gintung, Ciputat yang diduga sebagai tempat perakitan bom.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon