SMS Komodo
Penipuan, Tarif SMS Vote Komodo
Minggu, 6 November 2011 | 18:27 WIB
Ini adalah kesalahan baik dari content provider dan juga providernya sendiri.
Menanggapi adanya dugaan penipuan tarif SMS vote Komodo yang katanya bernilai Rp 1 ternyata bertarif Rp 450, David Tobing, salah pengacara menyarankan siapapun konsumen yang merasa dirugikan diminta segera lapor kepada pihak yang berwajib.
"Awalnya itu digembor-gemborkan Rp 1, namun mengapa menjadi Rp 450, itu yang patut dipermasalahkan. Dan ini sudah masuk kedalam penipuan" ungkapnya saat dihubungi beritasatu.com, hari ini.
Dugaan penipuan ini berawal dari seorang konsumen provider Matrix [Indosat] yang mempermasalahkan tarif SMS Komodo yang ia kirimkan ternyata dicharge dengan harga Rp. 450.
Hal tersebut terungkap setelah @jengtera [nama akun twitter konsumen tersebut] mencetak billing telfonnya dan menemukan bahwa SMS dukungan kepada Komodo yang telah ia kirim pada 10, 13, 15, 16, 17, 21 Oktober 2011 dikenakan tarif sebesar Rp 450.
Mendengar kejadian ini, David menegaskan bahwa ini adalah kesalahan baik dari content provider dan juga providernya itu sendiri.
"Kita tidak mempermasalahkan penyelenggaranya, namun kita harus mempermasalahkan pihak yang bekerja sama dengan content provider SMS Komodo tersebut" jelasnya.
Ia menambahkan, seharusnya ada kerjasama yang jelas antara content provider dengan provider dalam masalah kejelasan tarif. "Ini merupakan jenis layanan yang tidak diminta, tetapi layanan yang sifatnya partisipatif, namun ternyata apa yang diinformasikan salah," ungkap dia.
Oleh karena itu, David menegaskan kepada pihak yang berwenang untuk mempertanggunjawabkan permasalahan ini, karena hal ini sudah masuk kedalam skala nasional.
"Makanya ini harus diperjelas dari berbagai sisi, sudah melibatkan seluruh warga untuk berpartisipasi, jangan sampai niatan baik malah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu apalagi sampai melibatkan beberapa tokoh-tokoh penting juga," tambahnya.
Menanggapi adanya dugaan penipuan tarif SMS vote Komodo yang katanya bernilai Rp 1 ternyata bertarif Rp 450, David Tobing, salah pengacara menyarankan siapapun konsumen yang merasa dirugikan diminta segera lapor kepada pihak yang berwajib.
"Awalnya itu digembor-gemborkan Rp 1, namun mengapa menjadi Rp 450, itu yang patut dipermasalahkan. Dan ini sudah masuk kedalam penipuan" ungkapnya saat dihubungi beritasatu.com, hari ini.
Dugaan penipuan ini berawal dari seorang konsumen provider Matrix [Indosat] yang mempermasalahkan tarif SMS Komodo yang ia kirimkan ternyata dicharge dengan harga Rp. 450.
Hal tersebut terungkap setelah @jengtera [nama akun twitter konsumen tersebut] mencetak billing telfonnya dan menemukan bahwa SMS dukungan kepada Komodo yang telah ia kirim pada 10, 13, 15, 16, 17, 21 Oktober 2011 dikenakan tarif sebesar Rp 450.
Mendengar kejadian ini, David menegaskan bahwa ini adalah kesalahan baik dari content provider dan juga providernya itu sendiri.
"Kita tidak mempermasalahkan penyelenggaranya, namun kita harus mempermasalahkan pihak yang bekerja sama dengan content provider SMS Komodo tersebut" jelasnya.
Ia menambahkan, seharusnya ada kerjasama yang jelas antara content provider dengan provider dalam masalah kejelasan tarif. "Ini merupakan jenis layanan yang tidak diminta, tetapi layanan yang sifatnya partisipatif, namun ternyata apa yang diinformasikan salah," ungkap dia.
Oleh karena itu, David menegaskan kepada pihak yang berwenang untuk mempertanggunjawabkan permasalahan ini, karena hal ini sudah masuk kedalam skala nasional.
"Makanya ini harus diperjelas dari berbagai sisi, sudah melibatkan seluruh warga untuk berpartisipasi, jangan sampai niatan baik malah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu apalagi sampai melibatkan beberapa tokoh-tokoh penting juga," tambahnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
HUKUM & HANKAM
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




