Kesalehan Sosial
Minggu, 29 Juni 2014 | 10:32 WIB
Oleh: Kiai Maman Imanulhaq
Apakah engkau tahu orang yang mendustakan agama? Yaitu, orang yang menyia-nyiakan anak yatim. Dan, tidak menyeru manusia untuk memberi makan orang miskin. Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat, yaitu mereka yang lalai dari salatnya. Mereka yang ingin dilihat orang. Dan enggan memberi pertolongan. (QS Al-Mâ‘ûn [107]: 1-7)
Beberapa fenomena sosial menciutkan nyali kita. Kekerasan, korupsi, penyalahgunaan wewenang dan teror atas nama agama hadir di depan mata. Agama sebagai pembawa misi Tuhan ke jalan perubahan dan perdamaian berubah jadi alat yang menghancurkan nilai kemanusiaan.
Seorang yang melakukan ibadah ritual seharusnya memiliki moralitas dan jiwa yang baik dan bersih. Di satu sisi, Ia akan menjauhi sifat-sifat tercela seperti korup, kikir dan zalim. Di sisi lain, kepedulian terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan semakin terasah tajam. Ia tidak pasif. Ia aktif menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan, kerusakan lingkungan, narkoba, pornografi, kezaliman (kekuasaan), dan ketimpangan sosial-politik lainnya.
Para pendusta agama adalah orang yang ibadahnya tidak punya implikasi nyata bagi moralitas dan tindakan sosialnya. Mereka beragama hanya bersifat simbolik dan formalistik. Ibadahnya kering. Jangan heran kalau kita temukan seorang yang berkali-kali menunaikan ibadah haji ternyata jadi tersangka korupsi dana haji. Agama hanya dijadikan kedok untuk menghaluskan, menyamarkan, dan menutupi keburukan dan kejahatan yang dilakukannya.
Para koruptor yang tiba-tiba memakai baju kesalehan, kerudung kesucian, bahkan mengadakan zikir, untuk menutupi kezaliman politik dan penyalahgunaan jabatan yang dilakukannya. Ibadah yang khusyuk, indah, dan berkah adalah ibadah yang menggerakkan spirit transformatif, perdamaian, dan menghindarkan diri dari perilaku korup, zalim, dan nista.
Menurut surah Al-Mâ‘ûn di atas, orang yang mendustakan agama adalah orang yang tidak punya kepedulian sosial (enggan memberi pertolongan kepada sesama manusia yang sengsara), serta melakukan ibadah ritual, tetapi tidak berpengaruh bagi moralitas pribadi dan perilaku sosialnya.
Orang-orang yang (seakan-akan) rajin melakukan ibadah, tetapi hanya untuk "pamer", bahkan "mengelabui" orang lain. Abu Madyan al-Magribi mengatakan,"Berhati-hatilah pada orang yang mengaku dekat dengan Allah, tapi perilakunya tidak menunjukkan bukti kesalehan yang nyata."
Anak yatim adalah mereka yang kehilangan kasih sayang orangtua dan membutuhkan pertolongan orang lain. Merekalah kelompok masyarakat yang harus mendapat perhatian lebih. Eksploitasi mereka yang dilakukan oleh seseorang dan/atau institusi berlabel agama adalah bentuk penistaan terhadap agama itu sendiri. Pendirian panti asuhan dengan tujuan memperkaya diri serta tindak kekerasan terhadap para pekerja anak merupakan kesewenang-wenangan yang dikecam Alquran. "Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu melakukan sewenang-wenangnya" (QS Adh-Dhuha: Ayat 9). Bahkan Asy-Syafii mengatakan,"Si yatim bukan sekadar anak yang ditinggal mati oleh ayahnya, Si yatim itu mereka yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan dan tidak mendapatkan contoh keteladaan dalam kehidupannya."
Ciri lain dari seorang pendusta agama adalah ketidakpedulian pada fenomena kemiskinan. Kemiskinan tidak hanya sebatas dimensi ekonomi. Ia bersifat multidimensi. Selain kekurangan pendapatan, kaum miskin juga menderita kekurangan atau ketiadaan pelayanan (transportasi, kesehatan, pendidikan dan kredit) dan kekurangan partisipasi dalam pengambilan keputusan dan kebijakan publik. Karena itu, si miskin sering merasa terisolasi, dan tidak berdaya ketika hak-hak mereka dilanggar dan dimanfaatkan oleh mereka yang kaya dan berkuasa.
Di sinilah tugas utama keberagamaan kita. Mengentaskan kemiskinan, bukan menyuburkan praktik pemiskinan, memberdayakan kaum miskin, memperbaiki kapasitas mereka melalui perbaikan pelayanan dasar, menyediakan kesempatan ekonomi dengan meningkatkan akses pasar dan menyediakan pelayanan, perlindungan, keselamatan, dari tekanan ekonomi dan dari korupsi, kejahatan, dan kekerasan, adalah misi utama agama yang harus dilakukan umat beragama.
Terakhir, salat yang merupakan tiang pancang keberagamaan harus menjadi sesuatu yang mendorong kita berbuat kebaikan pada sesama. Dalam konteks ini, orang yang mendirikan salat harus mempunyai empati dan kepedulian sosial terhadap rakyat miskin, sengsara, dan tertindas, yang jumlahnya sangat banyak di negeri ini.
Sangat mengherankan, di tengah banyaknya jumlah masyarakat miskin dan sengsara di negeri ini, ternyata masih sering kita temui "orang-orang saleh" yang pamer kekayaan dan kesalehan. Daripada umrah berkali-kali atau membangun majelis-majelis yang megah, bukankah akan lebih fungsional dan berkah jika kekayaan yang kita miliki digunakan untuk memberdayakan rakyat miskin? Bukankah menolong orang yang sengsara merupakan ibadah yang nyata dan mulia? Kepedulian sosial dan empati kemanusiaan dalam kehidupan ini merupakan pesan mulia dari surah Al-Mâ‘ûn di atas.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Perbaiki Tanggul Irigasi Makam, Warga Palopo Temukan Granat Nanas
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Mallorca vs Real Madrid 2-1, Muriqi Beri Pil Pahit ke Los Blancos




