Daging Kurban Diminta Jangan Dikemas Kantong Plastik Hitam

Selasa, 30 September 2014 | 19:36 WIB
B
YD
Penulis: BeritaSatu | Editor: YUD
Pedagang kambing kurban menjual dagangannya di sepanjang trotoar jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta, Senin (29/9). Menjelang Hari Raya Idul Adha, pedagang hewan kurban di kawasan tersebut tetap akan bertahan berjualan meski sudah ada larangan berjualan di trotoar dengan alasan sudah menjadi tradisi turun temurun jika menjelang hari raya kurban.
Pedagang kambing kurban menjual dagangannya di sepanjang trotoar jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta, Senin (29/9). Menjelang Hari Raya Idul Adha, pedagang hewan kurban di kawasan tersebut tetap akan bertahan berjualan meski sudah ada larangan berjualan di trotoar dengan alasan sudah menjadi tradisi turun temurun jika menjelang hari raya kurban. (Antara/Muhammad Adimaja)

Samarinda - Kepala Seksi Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Jumiyanti meminta agar daging hewan kurban tidak dikemas dalam kantong plastik berwarna hitam.

"Kami meminta agar daging kurban nanti tidak dibungkus kantong plastik hitam sebab kemasan plastik dengan warna yang dimaksud tadi rentan terkontaminasi zat kimia," kata Jumiyanti di Samarinda, Selasa (30/9).

Hal yang juga patut diperhatikan saat mendistribusikan daging kurban tersebut kata Jumiyanti yakni, kemasan daging kurban harus menggunakan kantong plastik putih serta tidak mencampur daging dengan organ dalam.

"Hal ini penting untuk menghindarkan agar tidak sampai tercemar. Jadi, kalau memang ada bagian organ dalam yang ikut didistribusikan, sebaiknya dipisahkan dalam kantong plastik lain," katanya.

Setelah dipotong, hewan kurban tersebut tambah Jumiyanti harus segera didistribusikan.

"Jangan sampai lewat empat jam sebab jika lewat dari masa tersebut, maka daging kurban sudah masuk dalam tahap proses pembusukan. Jadi, jika panitia kekurangan petugas khusus untuk membagikan hewan kurban sebaiknya penyembelihan dilakukan secara bertahap," katanya.

"Atau jika mungkin panitia bisa memanfaatkan atau menggunakan boks berisi es batu sebagai pendingin untuk menjaga keawetan dari daging kurban tersebut," ucapnya.

Dinas Peternakan dan Perikanan Kota Samarinda, tambah dia, telah melakukan pemantauan ke sejumlah lokasi penjualan untuk memastikan kesehatan dan kelayakan hewan kurban yang dijual tersebut.

"Pemantauan dan pengecekan ini untuk memastikan apakah ada indikasi serangan antrax terhadap hewan kurban yang ada di Kota Samarinda. Hasilnya memang nihil namun kami tetap mengimbau masyarakat jika ingin membeli hewan kurban agar bisa memilih penjual yang memiliki surat keterangan kesehatan hewan (SKKH)," ujarnya.

Dinas Peternakan dan Perikanan Kota Samarinda, lanjutnya, akan tetap memantau beberapa titik lokasi pemotongan pada hari "tasyrik" atau tiga hari setelah Idul Adha untuk melihat kondisi kesehatan hewan, khususnya pada bagian organ dalam.

"Tujuannya untuk memastikan kesehatan hewan kurban," kata Jumiyanti.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon