KSPI: Buruh Kecewa Bila UMP DKI 2015 Ditetapkan Rp 2,6 Juta

Jumat, 14 November 2014 | 06:39 WIB
LT
FH
Penulis: Lenny Tristia Tambun | Editor: FER
Massa gabungan organisasi buruh berunjuk rasa di silang Monas, Jakarta, Selasa (11/11).
Massa gabungan organisasi buruh berunjuk rasa di silang Monas, Jakarta, Selasa (11/11). (Antara/Adimas Raditya)

Jakarta - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyatakan sangat kecewa terhadap rencana Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang akan menaikkan nilai Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI 2015 di kisaran Rp 2,6 juta hingga Rp 2,7 juta per bulan untuk pekerja lajang.

Sekjen KSPI, Muhammad Rusdy mengatakan, sejak dua tahun lalu, sudah ada kesepakatan formula penetapan UMP antara KSPI dengan Basuki.

"Pertama dihitung KHL ditambah inflasi ditambah pertumbuhan ekonomi. Nah, Dewan Pengupahan unsur pemerintahan yang sekarang menghitung formulanya menghilangkan inflasi," kata Rusdi seusai sidang Dewan Pengupahan DKI di Balai Kota DKI, Jakarta, Kamis (13/11) malam.

Kedua, lanjutnya, kesepakatan memperhatikan upah di wilayah penyangga sekitar DKI Jakarta. Rusdi mengungkapkan UMP Cirebon sudah ditetapkan sebesar Rp 2,76 juta. Kemudian Bekasi diusulkan Rp 2,95 juta.

Karena itu, para buruh dan pekerja di Jakarta mengharapkan besaran UMP di Jakarta setara dengan di Bekasi atau diatas Cirebon. Sehingga, KSPI dari awal mencari angka kompromi diatas Rp 3 juta.

Namun sayangnya, lanjut Rusdi, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DKI, sejak dari awal mau memasukkan angka inflasi dan melakukan banyak penyimpangan dari komponen Kebutuhan Hidup Layak (KHL) 2014.

"Konversi komponen KHL kita protes baru diperbaiki. Jadi memang kita menyayangkan unsur pemerintah yang kelihatan tidak mau musyawarah. Minggu lalu, penetapan KHL, brau 2 kali berunding langsung diputuskan masing-masing mengeluarkan angka," ujarnya.

Rusdi sendiri mengharapkan dalam penetapan UMP 2015, Basuki memperhatikan aspirasi buruh dan besaran UMP yang ditetapkan di daerah penyangga.

"Saya harap, memperhatikan aspirasi buruh dan wilayah penyangga. Kalau ditetapkan hanya Rp 2,6 juta, buruh sangat kecewa sekali. Makanya diluar dugaan, aksi buruh di Pulomas sampai menutup jalan. Itu tanpa arahan dari kami. Mereka lakukan itu sebagai bentuk kekecewaan," ungkapnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon