Batan dan Komunitas Muda Nuklir Gelar "Nuclear Youth Summit"

Sabtu, 22 November 2014 | 14:03 WIB
AR
B
Penulis: Ari Supriyanti Rikin | Editor: B1
Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan)
Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) (Istimewa)

JakartaAnak-anak muda dan perempuan dipandang sebagai media sosialisasi nuklir yang paling potensial. Oleh karena itu, untuk kedua kalinya sejak tahun 2013 lalu, International Atomic Energy Agency (IAEA) menggelar Nuclear Youth Summit (NYS).

NYS merupakan wadah yang diperuntukkan bagi kaum muda, yang mempunyai kepedulian dan ketertarikan terhadap perkembangan iptek nuklir, baik nasional maupun internasional. Wadah ini dibimbing oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan).

Kali ini NYS digelar di Jakarta dan diikuti sekitar 120 peserta dari dalam dan luar negeri. Peserta yang rata-rata mahasiswa ini akan menggelar NYS mulai Sabtu (22/11) hingga Senin (24/11). Peserta dari luar negeri antara lain berasal dari Malaysia, Thailand, Vietnam, Philipina, Australia, Bangladesh dan Uni Emirat Arab.

Sebelumnya pada 2013, NYS digelar di Daerah Istimewa Yogyakarta dan dihadiri 200 peserta. Kegiatan ini diprakarsai Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) dan Komunitas Muda Nuklir (Kommun).

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional, Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan, nuklir seperti ilmu lainnya, perlu keberlanjutan dari generasi ke generasi, sehingga mereka harus diberi pengetahuan tentang nuklir sedini mungkin.

"Membangun pembangkit listrik tenaga nuklir butuh waktu 8 - 10 tahun. Jika presiden menyatakan go nuclear tahun ini, maka yang mengelolanya nanti adalah generasi-generasi yang saat ini masih menjadi mahasiswa," katanya di sela-sela NYS, di Jakarta, Sabtu (22/11).

Patut dipahami, lanjut Djarot bahwa nuklir, selain untuk energi juga dimanfaatkan untuk pertanian, pangan dan kesehatan.

Ketertarikan orang-orang muda sangat penting untuk menjaga kepakaran. Semakin banyak orang yang paham, tidak ada lagi orang yang takut terhadap nuklir. Orang-orang muda pun diharapkan menjadi ambassador bagi komunitasnya.

Di samping itu ada kekhawatiran bahwa karyawan Batan, yang bergelut di nuklir, 40 persennya berusia 51-55 tahun dan sisanya berusia 30-50 tahun. Djarot khawatir, adanya moratorium pegawai negeri sipil (PNS) berimbas pada Batan yang akan kehilangan 600 pegawai per tahun di berbagai bidang kepakaran.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon