Punk Aceh: Kami Ini Sangat Mencintai Dunia Kami

Jumat, 23 Desember 2011 | 17:41 WIB
B
B
Penulis: BeritaSatu | Editor: B1
Sebagian anak punk yang terdiri dari 59 lelaki dan 6 perempuan yang telah tamat
Sebagian anak punk yang terdiri dari 59 lelaki dan 6 perempuan yang telah tamat "pendidikan" di Sekolah Polisi Negara (SPN) Seulawah, Aceh Besar, Aceh akhirnya resmi dipulangkan hari ini (243/12). (Farouk/ Beritasatu.com)
Anak Punk Aceh dilepas setelah mengikuti pendidikan di Sekolah Polisi Negara (SPN). Mereka menyanyikan lagu "Darah Juang".

Sebanyak 65 anak punk yang terdiri dari 59 lelaki dan 6 perempuan yang telah tamat "pendidikan" di Sekolah Polisi Negara (SPN) Seulawah, Aceh Besar, Aceh akhirnya resmi dipulangkan hari ini.

Beberapa dari mereka mengaku akan tetap menjadi punk sebagai pilihan hidup.??"Belum tau mau jadi apa, tapi saya sudah lama jadi punk," kata Rian, 22. Remaja asal Sumbut Karo, Sumatera Utara ini mengatakan jika sejak lulus SMP dia tak meneruskan sekolah dan bekerja serabutan.

"Saya ini apes saja karena pas kemarin ke Aceh itu karena ada acara. Saya ini tinggal di Medan," imbuhnya.?? Wahyu, 20, menambahkan jika dia tidak setuju jika dirinya akan dikirimkan ke pesantren manapun usai ini. "Saya ini hanya korban salah tangkap. Saya ini bekerja sebagai kuli bangunan meski saya bergaul dengan anak punk. Saya ingin dilepaskan dan bisa bekerja lagi," kata lelaki asal Banda Aceh  ini.??

Mereka menambahkan jika mereka tak lagi mau dibina. Rian Rizki Ramadhan, 19, yang berasal dari Meuraxa, Banda Aceh, mengatakan jika dia berterimakasih telah mendapatkan pembinaan."Namun cukup sudah semua ini. Saya terimakasih sudah dibina, baca Al Quran, tapi gak usah dibina lagi," tambahnya.??

"Kami ini sangat mencintai dunia kami. Apa  kami diizinkan lagi untuk ke Aceh untuk menikmati alam? Setelah kami sebelumnya disebut melangar norma," tambah M Syukri Dinihar Sijabat dengan tutur kata yang cukup runtut. Lelaki kelahiran 24 tahun lalu ini merupakan mahasiswa semester VI Fakultas Tekhnik Kimia Industri Riau.

??Acara pelepasan yang digelar di kantor walikota itu berlangsung meriah. Punk yang mengenakan sepatu lars polisi, celana coklat, dan baju lengan panjang--serta yang perempuan megenakan jilbab itu, bahkan diberi kesempatan menyanyi.

Termasuk lagu populer  "Darah Juang". Mereka juga mencium tangan para polisi yang menjadi instruktur mereka.??Ada juga yang menyatakan ketidakpuasannya. "Katanya dijanjikan bisnis sablon, janji ini, janji itu. Mana semua? Kami semakin muak saja dengan pemerintah model begini," kata seorang punk yang tak mau disebutkan namanya.

??Walikota Banda Aceh Mawardy Nurdin mengatakan jika mereka memang akan dikembalikan ke orang tua masing-masing. "Khusus untuk yang Aceh akan kita ambil alih. Kita tak lepas. Untuk yang di luar Banda Aceh akan kita akomodir untuk pulang ke luar daerah masing-masing.

Kalian masih bisa datang ke Aceh karena ini kota terbuka tapi ada norma yang dijaga," katanya.??

Wakil Walikota Aceh Illizza Sa'adduddin Djamal menambahkan, "boleh jadi punk Aceh asal Islami. Misalnya rambut jangan dicat, kalau di cat nanti menimbulkan dosa bagi orang lain karena orang lain akan membatin."

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon