Benarkah Agama Membuat Hidup Lebih Bahagia?
Kamis, 26 Januari 2012 | 18:35 WIB
Hanya di negara tempat agama masih banyak dianut
Orang yang taat beragama cenderung merasa hidupnya lebih baik, tetapi sebuah studi menemukan bahwa mereka hanya akan merasa demikian jika orang disekitarnya juga taat beragama.
Menurut sebuah penelitian yang melibatkan hampir 200.000 orang di 11 negara Eropa dtemukan bahwa orang yang taat beragama memang memiliki rasa percaya diri lebih tinggi dan kondisi psikologi yang bagus ketimbang mereka yang tidak religius.
Tetapi hal itu hanya berlaku di negeri tempat kepercayaan akan agama masih dianggap penting. Di negeri yang sekuler, baik yang religius maupun tidak mempunyai kondisi psikologi yang sama.
"Hasil penelitian itu menunjukan bahwa religiositas, meskipun mempunyai kekuatan potensial, bermanfaat karena menumpang pada nilai-nilai budaya," kata peneliti Jochen Gebauer dari Humboldt University, Berlin, Jerman.
Penelitian mereka diterbitkan dalam jurnal Psychological Science edisi 5 Januari 2012.
Sebelumnya banyak penelitian yang menunjukan manfaat dari agama, mulai dari meningkatnya pengendalian diri hingga ke rasa bahagia. Tetapi sumber dari manfaat-manfaat itu masih terus dipertanyakan, apakah itu dari ajaran-ajaran agamanya atau justru dari efek samping sosialnya.
Contohnya dalam sebuah studi yang dipublikasikan pada jurnal American Sociological Review edisi Desember 2010 ditunjukan bahwa orang yang rajin menghadiri upacara keagamaan merasa lebih puas dalam hidupnya, bukan karena ajaran agama yang diterima tetapi karena jaringan sosial yang terbentuk dalam interaksi di dalamnya.
Dalam pengetahuan itu Gebauer dan rekan-rekannya ingin mengetahui apakah budaya berpengaruh pada kondisi spiritual seseorang. Untuk itu mereka menggunakan situs perkencanan online untuk bertanya pada responden mereka.
Menggunakan situs-situs itu mereka bertanya kepada respondennya seberapa pentingkah agama bagi mereka, terutama ketika melengkapi profil mereka dalam situs itu. Mereka juga ditanyai seberapa gembira, puas, dan tenang hidup mereka.
Para peneliti itu kemudian menganalisis data dari 187.957 responden, membandingkan kadar keagamaannya dan kebahagiaanya dengan latar belakang kondisi keagamaan di negeri asalnya.
Hasilnya, agama memang berpengaruh positif terhadap kebahagiaan, tetapi hanya di tempat agama benar-benar diakui. Misalnya di Turki, orang yang beragama merasa sangat bahagia dalam hidupnya, tetapi begitu dia ke Swedia maka agama tidak lagi berkontribusi bagi kebahagiaanya karena di negeri itu hanya sedikit orang yang peduli dengan agama.
Meksipun demikian studi itu tidak fokus pada agama tertentu, tetapi hanya pada kepercayaan agama secara umum.
Orang yang taat beragama cenderung merasa hidupnya lebih baik, tetapi sebuah studi menemukan bahwa mereka hanya akan merasa demikian jika orang disekitarnya juga taat beragama.
Menurut sebuah penelitian yang melibatkan hampir 200.000 orang di 11 negara Eropa dtemukan bahwa orang yang taat beragama memang memiliki rasa percaya diri lebih tinggi dan kondisi psikologi yang bagus ketimbang mereka yang tidak religius.
Tetapi hal itu hanya berlaku di negeri tempat kepercayaan akan agama masih dianggap penting. Di negeri yang sekuler, baik yang religius maupun tidak mempunyai kondisi psikologi yang sama.
"Hasil penelitian itu menunjukan bahwa religiositas, meskipun mempunyai kekuatan potensial, bermanfaat karena menumpang pada nilai-nilai budaya," kata peneliti Jochen Gebauer dari Humboldt University, Berlin, Jerman.
Penelitian mereka diterbitkan dalam jurnal Psychological Science edisi 5 Januari 2012.
Sebelumnya banyak penelitian yang menunjukan manfaat dari agama, mulai dari meningkatnya pengendalian diri hingga ke rasa bahagia. Tetapi sumber dari manfaat-manfaat itu masih terus dipertanyakan, apakah itu dari ajaran-ajaran agamanya atau justru dari efek samping sosialnya.
Contohnya dalam sebuah studi yang dipublikasikan pada jurnal American Sociological Review edisi Desember 2010 ditunjukan bahwa orang yang rajin menghadiri upacara keagamaan merasa lebih puas dalam hidupnya, bukan karena ajaran agama yang diterima tetapi karena jaringan sosial yang terbentuk dalam interaksi di dalamnya.
Dalam pengetahuan itu Gebauer dan rekan-rekannya ingin mengetahui apakah budaya berpengaruh pada kondisi spiritual seseorang. Untuk itu mereka menggunakan situs perkencanan online untuk bertanya pada responden mereka.
Menggunakan situs-situs itu mereka bertanya kepada respondennya seberapa pentingkah agama bagi mereka, terutama ketika melengkapi profil mereka dalam situs itu. Mereka juga ditanyai seberapa gembira, puas, dan tenang hidup mereka.
Para peneliti itu kemudian menganalisis data dari 187.957 responden, membandingkan kadar keagamaannya dan kebahagiaanya dengan latar belakang kondisi keagamaan di negeri asalnya.
Hasilnya, agama memang berpengaruh positif terhadap kebahagiaan, tetapi hanya di tempat agama benar-benar diakui. Misalnya di Turki, orang yang beragama merasa sangat bahagia dalam hidupnya, tetapi begitu dia ke Swedia maka agama tidak lagi berkontribusi bagi kebahagiaanya karena di negeri itu hanya sedikit orang yang peduli dengan agama.
Meksipun demikian studi itu tidak fokus pada agama tertentu, tetapi hanya pada kepercayaan agama secara umum.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




