Bahlil Lahadalia

Bekerja dengan Ikhlas

Selasa, 28 Juli 2015 | 11:18 WIB
AD
AB
Penulis: Alex Dungkal | Editor: AB
Bahlil Lahadalia, Direktur Utama PT Rifa Capital dan Ketua Umum Hipmi
Bahlil Lahadalia, Direktur Utama PT Rifa Capital dan Ketua Umum Hipmi (Istimewa)

Masa kecil Bahlil Lahadalia penuh dengan keterbatasan. Hidup keluarganya pun senantiasa berbalut kemiskinan. Ayahnya yang hanya berprofesi sebagai kuli bangunan membuat ibunda Bahlil ikut banting tulang membantu ekonomi keluarga sebagai tukang cuci.

Guna menyiasati hidup yang serbasusah itu, Bahlil kecil pun terdorong ikut mengais rezeki. Demi hidup, kerja apa pun dia lakukan asalkan halal, dari mulai mendorong gerobak sampai menjadi loper koran.

Ketika duduk di bangku sekolah dasar, Bahlil menjual kue buatan ibunya. Sewaktu di bangku SMP, pria kelahiran Fakfak, Papua, 39 tahun lalu, itu sudah berkeliaran dari terminal ke terminal menjadi kondektur angkot. Ia kemudian "naik pangkat" sebagai sopir angkot saat duduk di bangku SMEA.

Tempaan masa kecil yang penuh keterbatasan itulah yang membentuk Bahlil menjadi seorang petarung. Ketekunan, kerja keras, dan semangat pantang menyerah, telah membawanya mencapai kesuksesan di masa muda. Kini ia menjadi bos sebuah perusahaan ternama di Papua, Rifa Capital, yang merambah beragam jenis usaha, mulai dari perkebunan, properti, transportasi, pertambangan, dan konstruksi.

ADVERTISEMENT

Merefleksikan pengalamannya selama ini, Bahlil Lahadalia menyebut tiga konsep yang selalu menjadi pegangannya dalam berbisnis. Bagi ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) periode 2015 – 2018 ini, kerja keras dan kerja cerdas saja belum tentu menghasilkan rezeki.

"Karena itu, kita harus kerja dengan keiklasan. Ini karena rezeki bersumber dari Yang Maha Kuasa. Kita ini mencari. Kalau tidak ikhlas melakukannya, kita akan sakit hati dan terus menggerutu atau mengeluh," kata Bahlil di Jakarta, belum lama ini. Berikut wawancara dengannya.

Kegigihan dalam merintis bisnis dan latar belakang keluarga Anda yang jauh dari kata sederhana menjadi buah bibir menjelang munas Hipmi di Bandung, baru-baru ini. Apakah itu daya tarik hingga Anda terpilih sebagai ketua umum Hipmi periode 2015 – 2018?
Teman-teman di daerah tentu sudah lebih dewasa dan tahu memilih sosok mana yang layak dipilih menjadi ketua umum Hipmi. Tapi, menurut saya, dasarnya adalah soal leadership, dan itu tidak bisa dibeli. Leadership adalah kemampuan yang dimiliki seseorang melalui proses tertentu. Dia juga harus meninggalkan prestasi dan harus mendapat pengakuan dari orang lain.

Saya kira, hanya orang-orang yang berproses yang selalu mendapat rahmat lebih dibandingkan dengan orang yang tidak berproses. Kalau ada orang yang tidak berproses, tetapi mendapat rahmat, itu karena takdir dan rezeki dia.

Berproses itu pula yang Anda alami di Hipmi?
Saya ini kan dari Papua dan saya aktif di Hipmi mulai dari tingkat paling rendah, yaitu DPC tingkat kabupaten. Kemudian saya pernah menjadi bendahara di DPD Papua, lalu menjadi ketua umum daerah DPD. Setelah itu saya masuk ke pengurusan pusat, mulai dari pengurus paling rendah, yakni departemen lalu kompartemen, kemudian jadi ketua bidang infrastruktur, lalu mecalokan diri menjadi ketua umum Hipmi.

Saya berproses di Hipmi dari tingkat terendah. Ibarat tentara, kalau dari Akabri atau Akmil, pangkat saya itu dari letnan dua, kemudian saya naik pangkat menjadi letnan satu dan seterusnya. Tapi naik pangkatnya penuh dengan perjuangan. Sampai menjadi ketua umum Hipmi pun saya harus "berdarah-darah".

Tapi pada hakikatnya Hipmi adalah sekolah pemimpin bangsa yang menghasilkan dua hal. Pertama adalah bidang ekonomi dan yang kedua di bidang politik. Karena itu, agar seseorang matang di bidang ekonomi dan politik, maka ia memerlukan proses.

Saya kira Hipmi merupakan tempat berproses, sebagai kawah candradimuka untuk melahirkan tokoh-tokoh pemimpin bangsa.
Faktanya tidak perlu diragukan, Hipmi telah menghasilkan itu. Banyak konglomerat nasional kita merupakan kader Hipmi. Tokoh-tokoh politik kita juga banyak dari Hipmi. Sebut saja Agung Laksono, Surya Paloh, Aburizal Bakrie, Sutrisno Bachir, dan banyak tokoh politik yang juga konglomerat, seperti Jusuf Kalla, Fahmi Idris, Siswono Yudo Husodo, dan lain-lainnya.

Jadi, Hipmi sudah banyak melahirkan kader bangsa, baik dari politik maupun ekonomi. Ke depan, sudah menjadi tugas Hipmi, yakni bagaimana mendorong generasi muda menjadi entrepreneur-entrepreneur baru.

Hipmi mau dibawa ke mana di bawah kepemimpinan Anda?
Pertama, Hipmi harus kembali pada khitah perjuangannya. Cita-cita dasar Hipmi adalah menciptakan generasi muda untuk menjadi entrepreneur. Makanya, gagasan pertama saya adalah mendorong pemerintah untuk menciptakan berbagai regulasi yang dapat memotivasi anak-anak muda menjadi pengusaha.

Saat ini kita kekurangan jumlah pengusaha. Makanya kita harus mendorong anak muda untuk menjadi pengusaha. Anak muda atau pemuda dalam perspektif kami di Hipmi terbagi dua. Satu berbasis kampus, satu lagi tidak berbasis kampus. Yang berbasis kampus setidaknya ada lima juta.

Menurut kajian kami, 80 persen dari lima juta itu bercita-cita menjadi karyawan. Itu persoalan besar. Kalau kemudian mereka bercita-cita menjadi karyawan, kemudian Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla mengambil keputusan untuk melakukan moratorium pegawai negeri sipil (PNS), perguruan tinggi akhirnya hanya akan menjadi pabrik pengangguran intelektual yang luar biasa. Ini akan menjadi bom waktu bagi bangsa dan negara.

Oleh karena itu, Hipmi berusaha mengubah mindset mahasiswa bagaimana menjadi entrepreneur. Karena itu, Hipmi mendorong bagaimana harus ada Hipmi perguruan tinggi. Hipmi peguruan tinggi itulah yang dijadikan sebagai laboratorium bagi mahasiswa untuk menjadi entrepreneur sejati.

Pengusaha di Indonesia itu ada yang tercipta by nasab dan satunya lagi by nasib. Tapi, ke depan, kita butuh by design, yang merupakan gabungan by nasab dan by nasib. By design itu ada di kampus. Kita ajak orang muda di kampus mengambil bagian sebagai entrepreneur. Kita yakinkan para mahasiswa bahwa jika ingin kaya, jawabannya adalah menjadi pengusaha.

Selain program menciptakan pengusaha by design?
Pegembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menjadi perhatian Hipmi ke depan. Saya selalu menyampaikan bahwa kita harus dorong UMKM sebagai satu kekuatan ekonomi bangsa. Harus kita ingat, pada 1998, ketika bangsa kita didera krisis ekonomi, UMKM menjadi penyelamat. Bukan pasar modal, bukan konglomerat. Mereka semua lari, pailit.

Program lain yang hendak saya usung ke depan adalah mendorong terciptanya pemerataan ekonomi. Hipmi meminta pemerintah agar setiap investasi yang masuk ke daerah-daerah, baik penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN), wajib hukumnya untuk menggandeng pengusaha nasional di daerah, sebagai mitra. Jangan sampai pengusaha daerah menjadi penonton saat sumber daya alamnya justru diambil.

Hipmi juga meminta agar BUMN tidak boleh memonopoli bisnis di daerah. Hipmi minta kepada pemerintah, BUMN tidak boleh masuk untuk pekerjaan di bawah Rp 50 miliar.

Kapan Anda mulai berbisnis?
Setelah tamat kuliah pada 2001. Pada 2002 saya bekerja di konsultan keuangan di Papua. Pada tahun itu pula saya meninggalkan pekerjaan tersebut dengan gaji Rp 30 juta, untuk memulai usaha. Saya dirikan perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi dan kayu.

Apa yang mendorong Anda terjun ke dunia usaha?
Saya memang sejak kecil sudah terbiasa dengan perjuangan untuk bertahan hidup. Saya berjuang bukan karena untuk sebuah kesenangan, tapi karena keterpaksaan. Kondisi keluarga memaksa saya harus begitu. Kalau saya tidak bisa mencari uang, saya tidak bisa bersekolah. Kalau saya tidak bisa mencari uang, berarti saya tidak bisa makan. Saya sudah sejak SD berjualan kue, saat SMP saya menjadi kondektur angkot, ketika di SMEA saya menjadi sopir angkot. Jadi, darah untuk mencari uang sudah tertanam sejak masih belia.

Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa ketika kuliah saya juga aktif di organisasi. Dari situlah saya berkesempatan berjumpa para senior dan belajar tentang arti kehidupan. Ketika menjadi pengusaha, saya menggabungkan konsep kerja keras dengan jaringan. Sejak awal, sudah banyak yang mencemooh, merendahkan, dan pesimistis terhadap perjuangan saya. Bagi saya tak masalah. Saya sudah biasa diremehkan sejak SD. Biarlah saya jalani saja apa yang menjadi tujuan saya.

Siapa sesungguhnya sosok yang paling berjasa dalam mengarahkan perjuangan Anda?
Mohon maaf, saya tidak akan mengangkat siapa pun sebagai yang berjasa dalam karier saya. Kalau soal motivasi, ayah adalah motivator ulung. Ayah saya seorang buruh bangunan yang tidak pernah sekolah. Tapi saya sungguh kagum, dia tidak pernah menyerah. Dia penuh tanggung jawab. Sakit pun dia bekerja demi menghidupi kami, delapan anaknya.

Seperti ayah, ibu juga seorang pekerja keras. Jam tidur beliau cuma empat-lima jam, lalu memasak untuk kami, kemudian pergi lagi. Ibu juga menyiapkan kue untuk saya jual. Biar kami menderita, tapi tidak pernah meminta duit orang. Kami juga diajarkan untuk tidak boleh menyusahkan orang. Ayah-ibu pekerja keras. Itu yang sungguh saya kagumi.

Tetapi berdasarkan pengalaman, bekerja keras saja tidak cukup. Saya juga harus kerja cerdas. Itu pun belum cukup. Saya harus tambah satu lagi, yakni kerja dengan keikhlasan. Kita harus sadari bahwa rezeki itu berasal dari Yang Maha Kuasa. Kita ini mencari. Kalau tidak ikhlas untuk melakukannya, kita akan sakit hati terus, mengeluh terus.

Pencapaian saat ini sesuai cita-cita masa kecil Anda?
Saya dulu ingin menjadi polisi atau tentara. Karena saya kan kondektur angkot, sering tidur di terminal, dan suka berkelahi. Karena suka berkelahi, saya jadi sering ditahan polisi. Saya berpikir kalau menjadi tentara atau polisi, saya ingin memukul orang.

Apa momen-momen dalam hidup yang sangat memengaruhi langkah Anda?
Saat saya memutuskan terjun ke dunia usaha pada 2002, dalam perenungan, saya berpikir kok saya sudah terlalu lama menderita. Masa ketika lahir saya menderita, ketika sekolah menderita, kuliah menderita. Suatu saat saya berpikir, ah saya tak mau miskin lagi. Suatu waktu saat saya tinggal di asrama, saya berpikir saya harus mengakhiri kemiskinan. Kemiskinan itu paling tidak baik, tidak dihargai orang, cewek-cewek lari meninggalkan kita.

Bagaimana perjalanan perusahaan Anda?
Perusahaan kami sudah berbentuk holding, dengan kegiatan usaha pertambangan, perkebunan, properti, dan konstruksi. Sebagian ada di Maluku, sebagian lagi di Papua. Di Jakarta juga ada sedikit. Soal go international akan kami lihat perkembangannya nanti. Itu bisa saja dilakukan kalau kondisi ekonomi memungkinkan.

Kiat Anda memajukan perusahaan?
Manusia adalah unsur utama. Aset terbesar perusahaan adalah sumber daya manusia (SDM). Karena itu, kepada karyawan selalu saya tekankan bahwa perusahaan ini milik kita semua. Kami harus punya rasa memiliki terhadap perusahaan. Meski milik keluarga, tetap harus dikelola profesional. Sehebat apa pun perusahaan, kalau tidak dikelola dengan baik oleh SDM yang baik, pasti akan sangat merepotkan. SDM yang hebat tapi tidak punya rasa memiliki atas perusahaan itu juga tidak baik.

Jadi, kiat saya adalah membangun hubungan person to person kepada semua karyawan, tak terkecuali office boy. Saya selalu tekankan bahwa perusahaan adalah piring kita semua. Kami harus menjaganya bersama-sama. Meski posisi saya sekarang komisaris, saya masih harus turun langsung ke lapangan, melihat kondisi riil dan berdialog dengan para karyawan.

Filosofi hidup Anda?
Pertama, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak mengubahnya. Jangan pernah kita menggantungkan harapan kepada orang lain. Karena tujuan hidup kita hanya kita sendiri yang tahu. Tatkala kita menggantungkan diri pada orang lain, bisa saja kita salah menggantung. Kita anggap yang kita gantung itu pohon yang kuat, ternyata bagian dalam pohon itu sudah lapuk. Kalau bermitra, kita perlu tahu kekuatan perusahaan yang hendak menjadi mitra.

Kedua, saya tidak boleh mengambil hak orang lain. Karena sekali saya mengambil hak orang lain, dan saya berbohong kepada orang lain, terutama dalam bisnis, itu berarti saya membuka pintu kepada orang lain untuk mengambil hak saya. Suatu saat juga orang akan berbohong kepada saya.

Punya rencana terjun ke politik praktis?
Saya ingin fokus di bisnis saja, karena bangsa ini memang kekurangan pengusaha.

Sebagai putra daerah, khususnya putra Papua, peran apa yang hendak Anda lakukan?
Saya akan dengan bangga mengatakan,"Kami orang Papua tidak ketinggalan seperti yang Anda bayangkan. Secara kualitas, anak-anak Papua tak kalah dibandingkan anak-anak dari daerah lain di Indonesia."

Sebagai putra Papua, saya juga akan mempromosikan ke investor bahwa Papua sekarang sudah maju. Mari kita investasi di sana agar kita bisa membangun bersama-sama. Mari kita bangun infrastruktur dan listrik di sana. Soal riak-riak kecil yang masih terus membayangi kehidupan rakyat Papua, saya menginginkan adanya political will dari pemerintah. Riak-riak tersebut terjadi karena kesenjangan. Ini yang harus diselesaikan pemerintah.

Hidup ini singkat. Kalau tidak memberikan bagi yang lain, kita harus menjadi rahmat bagi yang lain. Karya-karyamu itulah yang menjadi ukuran. Makanya, setiap orang harus berguna bagi orang lain.

Arti keluarga bagi Anda?
Keluarga bagi saya, pertama adalah anugerah yang Tuhan kasih, sekaligus tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Kedua, mereka adalah orang-orang yang luar biasa karena rela saya tinggalkan. Mereka tidak pernah menggerutu. Support mereka luar biasa.

Saya menikahi putri Solo, Sri Suparni. Perjumpaan cinta kami terjadi di Papua, dalam sebuah acara organisasi. Kami sama-sama aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Kami dikarunia tiga putra, yaitu Muhammad Rizky Lahadahlia, Muhammad Fadli, dan Emir Ramadhan.

Harapan Anda untuk anak-anak?
Biarkan mereka memilih jalan hidupnya sendiri. Yang penting agama mereka bagus, tata krama bagus, sekolahnya bagus. Persoalan menjadi apa, itu pilihan mereka masing-masing. Tugas seorang ayah dan ibu ada tiga, yaitu melahirkan mereka dan didik, serta sekolahkan mereka. Terakhir, kami menikahkan mereka, lalu terserah pilihan mereka sendiri.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon