Nafsiah Mboi Ungkap Penyebab Kematian Suaminya

Rabu, 5 Agustus 2015 | 12:50 WIB
H
B
Penulis: Herman | Editor: B1
Mantan Menteri Kesehatan RI, Nafsiah Mboi
Mantan Menteri Kesehatan RI, Nafsiah Mboi (BeritaSatu.com/Herman)

Jakarta - Kepergian Aloysius Benedictus Mboi atau yang biasa disapa Ben Mboi pada 23 Juni lalu rupanya masih menyisakan luka mendalam bagi sang istri, Nafsiah Mboi.

Mantan Menteri Kesehatan itu beberapa kali terlihat menahan haru saat diminta mengisahkan penyebab meninggalnya orang yang paling dicintainya itu.

Dikatakan Nafsiah, penyebab utama kematian Ben Mboi sebetulnya dikarenakan mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) itu menderita resistensi (kebal) terhadap antibiotik.

"Suami saya meninggal diagnosanya gagal jantung. Waktu surat kematian keluar, disebutkan kalau penyebab kematiannya karena sudah lanjut usia," katanya di Jakarta, Rabu (5/8).

"Mereka tidak tahu kalau lima minggu sebelum meninggal, suami saya masuk ke rumah sakit dengan gejala sesak nafas dan keringat dingin, kemudian kesadarannya berangsur hilang," lanjutnya.

Untuk mengatasi infeksi di tubuhnya, Ben Mboi saat itu sampai harus diberikan antibiotik hingga lini kelima, namun tidak ada satu pun yang memberikan hasil.

"Antibiotik pertama gagal, kedua sampai keempat gagal, kemudian saat diberikan yang kelima, jantung dan ginjalnya sudah tidak kuat lagi. Dia menyerah," katanya.

Nafsiah sangat menyadari bahwa usia suaminya telah digariskan oleh Tuhan. Namun, sebagai orang yang berkecimpung di dunia medis, hatinya tergelitik untuk mencari tahu penyebabnya, supaya kemudian tidak menimpa orang lain.

"Kejadian ini bisa menimpa siapa pun dan di usia berapapun, pada dokter, organisasi apoteker, atau orangtua yang tidak peduli dan tidak mempertanyakan kenapa dokter memberi antibiotik ke anaknya, padahal dia hanya pilek saja dan tidak membutuhkan antibiotik," ujarnya.

Nafsiah juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama melakukan pencegahan terjadinya resistensi antibiotik.

"Kita harus bersama-sama mencegah infeksi dan juga mencegah penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Karena dalam penelitian hanya 27 persen dokter yang membuat resep antibiotik yang sebenar-benarnya untuk melawan bakteri, sementara yang lainnya hanya suka-suka saja," katanya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon