Kualitas Pendidikan Indonesia Masih Belum Merata

Rabu, 9 September 2015 | 21:35 WIB
FB
B
Penulis: Fatima Bona | Editor: B1
Seorang guru olah raga sedang memberikan arahan gerakan kepada anak didiknya yang duduk di kelas satu sekolah dasar (SD) di halaman SDN 11,12,13,15,16,17 Pagi dan Petang di Jalan B Raya, RT03/RW09, Kelurahan Rawa Badak Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, 6 Agustus 2015
Seorang guru olah raga sedang memberikan arahan gerakan kepada anak didiknya yang duduk di kelas satu sekolah dasar (SD) di halaman SDN 11,12,13,15,16,17 Pagi dan Petang di Jalan B Raya, RT03/RW09, Kelurahan Rawa Badak Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, 6 Agustus 2015 (Suara Pembaruan / Carlos Barus)

Jakarta - Kualitas pendidikan Indonesia sampai saat ini belum merata. Banyak sekolah di tanah air yang masih terkendala dengan fasilitas-fasilitas utama dan sumber daya pengajaran. 

Hal ini dikatakan Lead Adviser on Skills Development Higher Education and Education Governance Analytical and Capacity Devolopment Partnership (ACDP) Indonesia Abdul Malik pada acara Kopi Darat ACDP di Jakarta, Rabu (9/9). 

Berdasarkan studi ACDP, kata Abdul, tidak meratanya pendidikan di Indonesia karena dipengaruhi infrastruktur sekolah dan rendahnya kepedulian masyarakat yang menyebabkan sekolah di Indonesia tidak memiliki standar yang sama.

Abdul menegaskan, perlu ditanamkan standar pelayanan minimal (SPM) pendidikan karena SPM merupakan dasar layanan pendidikan yang perlu disediakan di seluruh kabupaten /kota. SPM bertujuan untuk memastikan sekolah memenuhi atau mewujudkan kondisi minimal yang dibutuhkan bagi proses belajar dan mengajar yang berkualitas.

"Untuk menentukan kualitas pendidikan kita perlu adanya SPM," kata Abdul.

Sementara itu, Perwakilan Program Pengembangan Kapasitas SPM dari Uni Eropa-Asian Development Bank, John Strain mengatakan, untuk pengembangan mutu pendidikan dengan SPM makak pihaknya telah menjalin kerja sama dengan 108 kabupaten/kota dari 16 provinsi terpilih.

Dia menyebutkan, kegiatan tersebut telah berjalan sejak 2014 lalu. Pihaknya telah menyumbangkan dana yang disalurkan kepada setiap kabupaten/kota masing-masing senilai Rp 2,5 miliar.

Dia menjelaskan, dana yang disalurkan tersebut untuk melatih 50 ribu orang dari kalangan pemerintah daerah (pemda), kepala sekolah, komite sekolah, dan guru. Tujuannya untuk dapat membuat SPM seperti menyusun kurikulum dan rencana pembelajaran.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon