Setelah Senapan, Polisi Cari FN dari Mulyadi
Kamis, 9 Februari 2012 | 21:53 WIB
”Kami persuasif saja karena toh Mulyadi kooperatif dengan datang dan menyerah.”
Upaya penyidik Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror Mabes Polri menggiring Mulyadi, buron teroris jaringan Abu Umar yang menyerahkan diri, ke sejumlah lokasi di Depok, Jawa Barat, tak sia-sia.
Mulyadi yang sudah dicari sejak Juli tahun lalu itu menunjukan lokasi penguburan senjata api jenis jungle di hutan Universitas Indonesia.
”Ahamdullilah hari ini kita sudah menemukan senjata api laras panjang jenis jungle yang dia kubur. Meski kini kita masih berupaya menyakinkan dia untuk mau menunjukkan dimana dirinya mengubur atau menyimpan senjata api jenis FN, maganize, dan amunisinya,” kata seorang perwira di lingkungan Densus 88/Antiteror kepada Beritasatu.com, hari ini.
Perwira yang meminta tak disebut namanya itu mengatakan jika informasi soal senjata api, amunisi, serta magazine yang disimpan Mulyadi itu didapatkan polisi dari tersangka yang telah ditangkap sebelumnya.
”Kami persuasif saja karena toh Mulyadi kooperatif dengan datang dan menyerah,” lanjutnya.
November lalu polisi sebenarnya telah menyisir lokasi hutan UI, namun saat itu mereka tak menemukan senjata, amunisi, dan magazine yang dimaksud.
”Yang tahu yang memang Mulyadi ini, karena dia yang mengubur. Makanya saat kini kami bawa dia ke UI, dia bisa menunjukkan dengan tepat,” tambah sumber itu.
Jaringan Abu Umar
Pimpinan jaringan Mulyadi, Muhammad Ichwan (41) alias Zulfikar alias Abdullah Omar alias Abu Umar alias Indra Kusuma alias Andi Yunus alias Nico Salman ditangkap Juli lalu, saat hendak menyelundupkan senjata ke Indonesia dari Filipina Selatan via Tawau, Malaysia.
Setelah itu polisi berhasil meringkus tujuh orang kaki tangan Umar di sejumlah lokasi berbeda.
Umar juga dituduh merencanakan penyerangan di Kedutaan Singapura di Jakarta.
Sebelumnya, Polri menyatakan dana operasional aktivitas kelompok Umar dalam upayanya untuk melancarkan aksi teror dihasilkan dari jual beli senjata api dan dana pribadi.
Mereka juga berencana menculik dan membunuh kelompok Syiah dengan sebutan operasi Ightilat.
Namun operasi ini belum terencana karena keburu terbongkar oleh polisi.
Umar sudah dicari polisi sejak 1999 karena terlibat percobaan pembunuhan terhadap bekas Menteri Pertahanan, Matori Abdul Jalil.
Dia juga terlibat dalam penyediaan senjata api yang digunakan di dalam menyerang anggota Brimob di Loki, Ambon pada 2005, yang menewaskan lima orang anggota Brimob.
Penyerangan ini dimotori oleh Djaja alias Asep Dahlan yang kini mendekam di Lapas Porong, Jawa Timur.
Asep dikenal sebagai anggota Mujahidin Ambon yang berafiliasi dengan Jamaah Islamiah.
Upaya penyidik Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror Mabes Polri menggiring Mulyadi, buron teroris jaringan Abu Umar yang menyerahkan diri, ke sejumlah lokasi di Depok, Jawa Barat, tak sia-sia.
Mulyadi yang sudah dicari sejak Juli tahun lalu itu menunjukan lokasi penguburan senjata api jenis jungle di hutan Universitas Indonesia.
”Ahamdullilah hari ini kita sudah menemukan senjata api laras panjang jenis jungle yang dia kubur. Meski kini kita masih berupaya menyakinkan dia untuk mau menunjukkan dimana dirinya mengubur atau menyimpan senjata api jenis FN, maganize, dan amunisinya,” kata seorang perwira di lingkungan Densus 88/Antiteror kepada Beritasatu.com, hari ini.
Perwira yang meminta tak disebut namanya itu mengatakan jika informasi soal senjata api, amunisi, serta magazine yang disimpan Mulyadi itu didapatkan polisi dari tersangka yang telah ditangkap sebelumnya.
”Kami persuasif saja karena toh Mulyadi kooperatif dengan datang dan menyerah,” lanjutnya.
November lalu polisi sebenarnya telah menyisir lokasi hutan UI, namun saat itu mereka tak menemukan senjata, amunisi, dan magazine yang dimaksud.
”Yang tahu yang memang Mulyadi ini, karena dia yang mengubur. Makanya saat kini kami bawa dia ke UI, dia bisa menunjukkan dengan tepat,” tambah sumber itu.
Jaringan Abu Umar
Pimpinan jaringan Mulyadi, Muhammad Ichwan (41) alias Zulfikar alias Abdullah Omar alias Abu Umar alias Indra Kusuma alias Andi Yunus alias Nico Salman ditangkap Juli lalu, saat hendak menyelundupkan senjata ke Indonesia dari Filipina Selatan via Tawau, Malaysia.
Setelah itu polisi berhasil meringkus tujuh orang kaki tangan Umar di sejumlah lokasi berbeda.
Umar juga dituduh merencanakan penyerangan di Kedutaan Singapura di Jakarta.
Sebelumnya, Polri menyatakan dana operasional aktivitas kelompok Umar dalam upayanya untuk melancarkan aksi teror dihasilkan dari jual beli senjata api dan dana pribadi.
Mereka juga berencana menculik dan membunuh kelompok Syiah dengan sebutan operasi Ightilat.
Namun operasi ini belum terencana karena keburu terbongkar oleh polisi.
Umar sudah dicari polisi sejak 1999 karena terlibat percobaan pembunuhan terhadap bekas Menteri Pertahanan, Matori Abdul Jalil.
Dia juga terlibat dalam penyediaan senjata api yang digunakan di dalam menyerang anggota Brimob di Loki, Ambon pada 2005, yang menewaskan lima orang anggota Brimob.
Penyerangan ini dimotori oleh Djaja alias Asep Dahlan yang kini mendekam di Lapas Porong, Jawa Timur.
Asep dikenal sebagai anggota Mujahidin Ambon yang berafiliasi dengan Jamaah Islamiah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




