Asap Masih Tebal, ISPA di Jambi Tembus 60.000 Kasus

Selasa, 6 Oktober 2015 | 08:04 WIB
RS
B
Penulis: Radesman Saragih | Editor: B1
Perawat memberi pengobatan dengan menggunakan alat nebulizer kepada Adam bocah berusia 2,5 tahun yang sesak nafas akibat polusi asap kebakaran di RSUD Petala Bumi, Pekanbaru, Jumat (14/3).
Perawat memberi pengobatan dengan menggunakan alat nebulizer kepada Adam bocah berusia 2,5 tahun yang sesak nafas akibat polusi asap kebakaran di RSUD Petala Bumi, Pekanbaru, Jumat (14/3). (Antara/FB Anggoro)

Jambi - Warga Jambi yang terserang penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) terus meningkat, akibat asap kebakaran hutan dan lahan. Jumlah penderita hingga pekan pertama Oktober sudah menembus angka 60.000 orang, naik drastis dibandingkan Agustus, sekitar 29.000 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, Andi Pada, menjelaskan, berdasarkan pendataan dari rumah sakit dan puskesmas-puskesmas di daerah itu, kasus ISPA di Jambi sudah mencapai 60.000 kasus hingga akhir September. Satu balita tercatat meninggal akibat penyakit itu.

"Drastisnya peningkatan kasus ISPA di Jambi disebabkan oleh kualitas udara yang terus memburuk, akibat tebalnya asap kebakaran hutan dan lahan. Asap tebal yang menyelimuti daerah itu sudah berlangsung lebih dari tiga bulan, Juli-awal Oktober. Asap tebal paling parah, yang terjadi selama sebulan penuh terjadi September," ujar Andi, Jambi, Senin (6/10).

"Asap tebal yang menyelimuti Jambi setiap hari, selama 24 jam selama September membuat kualitas udara memburuk dan masuk level berbahaya. Akibatnya, jumlah kasus ISPA meningkat drastis," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLHD) Provinsi Jambi, Rosmeli mengatakan, kualitas udara di Jambi, khususnya Kota Jambi masih buruk hingga pekan pertama Oktober. Angka indeks standar pencemaran udara (ISPU) akibat asap di Jambi selama pekan pertama Oktober berkisar 400 - 900 partikel per million (ppm).

"Asap tebal bercampur debu kebakaran hutan yang menyelimuti Kota Jambi, Kamis (1/10) sempat membuat angka ISPU mencapai 974 ppm atau level sangat berbahaya. Sedangkan pada Senin (5/10), angka ISPU mulai turun ke angka 405 ppm atau level berbahaya. Angka ISPU tersebut kami perkirakan masih bertahan hingga sepekan ini, karena asap masih tebal," katanya.

Sementara itu, pantauan di lapangan hari ini, Bandara Sultan Thaha Syaifuddin (STS) Jambi masih lumpuh. Tidak ada kegiatan penerbangan di bandara tersebut selama tiga pekan terakhir, akibat asap tebal. Pesawat tidak bisa mendarat di bandara, jarak pandang di bawah 500 meter (m).

Di tempat terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi, Arief Munandar mengatakan, bencana asap dan kebakaran hutan dan lahan di Jambi masih sulit ditanggulangi, akibat hujan buatan yang sulit dilakukan. Hujan buatan di daerah itu belum bisa dilakukan, karena kondisi awan yang sangat tipis.

"Solusi yang dilakukan hingga saat ini hanya pemadaman melalui jalur darat. Kemudian, diusahakan juga pembuatan kanal-kanal di lahan gambut untuk melokalisir kebakaran,"katanya.

Manajer Komunikasi dan Publikasi Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warung Informasi Konservasi (Warsi) Jambi, Rudi Syaf mengatakan, kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan di Jambi tahun ini menimbulkan kerugian sekitar Rp 2,6 triliun. Kerugian tersebut disebabkan oleh lumpuhnya penerbangan, pelayaran, kacaunya dunia pendidikan, tingginya kasus ISPA, kerusakan lingkungan, dan terpuruknya kegiatan ekonomi rakyat, khususnya petani, nelayan dan pedagang.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon