Asap Tebal, ISPU di Jambi Lampaui Batas Toleransi

Senin, 26 Oktober 2015 | 08:26 WIB
RS
B
Penulis: Radesman Saragih | Editor: B1
Warga melintasi Jalan RTA Miilono yang masih diselimuti asap di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 1 Oktober 2015
Warga melintasi Jalan RTA Miilono yang masih diselimuti asap di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 1 Oktober 2015 (Antara/Rosa Panggabean)

Jambi - Pencemaran udara di Kota Jambi sudah melampaui batas toleransi, akibat asap tebal yang masih menyelimuti wilayah kota itu. Untuk mengurangi dampak pencemaran udara terhadap kesehatan warga masyarakat, pemerintah dan instansi terkait di kota itu merasa perlu membagikan masker. Pembagian masker itu terutama untuk para siswa yang terpaksa tetap sekolah di tengah kepungan asap tebal.

Pagi ini, indeks standar pencemar udara (ISPU) mencapai 400 partikel per million (ppm) atau masuk kategori sangat berbahaya. Angka ISPU tersebut berkurang dibandingkan Minggu (25/10) sore, sekitar 600 ppm.

"Udara di Kota Jambi saat ini sudah sangat buruk dan semakin mengancam kesehatan warga. Pencemaran udara akibat asap tebal dan debu kebakaran hutan sudah melampaui batas toleransi. Oksigen di udara saat ini sangat tipis. Udara di Jambi sudah tidak layak lagi, karena itu warga perlu menggunakan masker hingga ke dalam rumah," kata aktivis lingkungan dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warung Informasi Konservasi (Warsi) Jambi, Rudy Syaf, Kota Jambi, Senin (26/10).

Rudy sangat menyesalkan kelambanan pemerintah menanggulangi bencana asap. Pemerintah dinilai tidak bisa menemukan solusi untuk mengatasi bencana.

"Sudah lebih tiga bulan, warga Jambi terpapar asap. Korban asap sudah banyak, namun pemerintah tak bisa mengatasi masalah. Warga juga sudah frustrasi. Mereka terpaksa melakukan aktivitas di tengah tebalnya asap dan buruknya kualitas udara. Yang memprihatinkan, anak-anak tetap sekolah, walaupun asap tebal. Mereka sudah hampir satu bulan libur," katanya.

Sementara itu, pantauan di Kota Jambi pagi ini, asap membuat jarak pandang terbatas, yaitu hanya sekitar 200 meter (m). Asap bercampur debu kemarau membuat mata pedih dan pernapasan terasa gatal dan sesak.

Siswa SD hingga SMP terpaksa dipulangkan lebih cepat.

"Kaualitas udara sangat buruk pagi ini, jadi siswa tidak belajar dan guru memulangkan siswa pukul 07.30 WIB," kata Oliv, siswa SMP Negeri 14 Kota Jambi.

Secara terpisah, Kepala Seksi (Kasi) Data dan Informasi Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Jambi, Kurnianingsih, menjelaskan, berdasarkan pantauan satelit Terra dan Aqua, jumlah hot spot (titik api) di Provinsi Jambi, pada Minggu (25/10) mencapai 42 titik. Titik api tersebut tersebar di Kabupaten Muarojambi, Tanjungjabung Barat dan Tanjungjabung TImur. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon