Aptisi: Sambut MEA, Kampus Perlu Ambil Peran sebagai Akselerator Ekonomi Kreatif

Selasa, 27 Oktober 2015 | 08:19 WIB
MB
FB
Penulis: Maria Fatima Bona | Editor: FMB
Presiden Joko Widodo (ketiga kanan) didampingi Menteri Perdagangan Thomas Lembong (kelima kanan), Kepala BKPM Franky Sibarani (kanan), Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf (keempat kanan) dan Wagub DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat (kedua kanan) melihat kain Songket Palembang ketika mengunjungi pameran Trade Expo Indonesia ke-30 Tahun 2015 di Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta, 21 Oktober 2015
Presiden Joko Widodo (ketiga kanan) didampingi Menteri Perdagangan Thomas Lembong (kelima kanan), Kepala BKPM Franky Sibarani (kanan), Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf (keempat kanan) dan Wagub DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat (kedua kanan) melihat kain Songket Palembang ketika mengunjungi pameran Trade Expo Indonesia ke-30 Tahun 2015 di Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta, 21 Oktober 2015 (Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao)

Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Edy Suandi Hamid mengatakan, dalam rangka menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ekonomi kreatif harus dikembangkan untuk penguatan ekonomi bangsa ke depan. Untuk itu lembaga pendidikan, terlebih perguruan tinggi (PT), perlu memberikan stimulus kepada anak didik agar ikut termotivasi terjun dalam berkarya di bidang ekonomi kreatif.

"Kampus perlu mengambil peran untuk menjadi akselerator dan motivator bagi industri kreatif tanah air yang embrionya sebenarnya sudah banyak," kata Edy kepada Suara Pembaruan, Selasa (27/10).

Dia menerangkan, dengan keterlibatan kampus dan juga melibatkan kerjasama dengan dunia usaha dan pemerintah, diharapkan bisa melahirkan entrepreneur yang lebih kreatif dan memberi multiplier effect besar bagi bangsa ini.

Menurut Wakil Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia ini, hal tersebut tidak bisa jadi dengan sendirinya. Harus ada desain dan dukungan ke arah itu. Hong Kong misalnya, industri kreatif berkembang pesat, karena pemerintah mengalokasikan dana ratusan juta dollar untuk dukung industri itu bagi para anak mudanya.

Guru Besar Ilmu Ekonomi pada Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta ini mengatakan, basis dari suatu ekonomi kreatif adalah ide atau gagasan, sehingga ruang dan pengembangan ide itu menjadi sangat penting. Gagasan-gagasan liar, nyeleneh, ataupun di luar pakem atau out of the box diberi kebebasan berkembang secara konstruktif. Maka sangat dibutuhkan dukungan banyak pihak untuk generasi muda. Tujuannya menjadi motivasi dan keberanian terjun di bidang ekonomi kreatif. Salah satunya dapat menjadi ide untuk pembuatan film, games, model busana, dan sebagainya.

Edy menuturkan, ekonomi kreatif saat ini masih belum medapat dukungan penuh dari pemerintah serta kampus-kampus. Maka ke depannya perlu dukungan promosi dan pemasaran produk. Sebab masalahnya yang sering juga muncul adalah terkait pemasaran produk.

"Untuk itu dukungan promosi dan pemasaran perlu juga diberikan, misalnya mendukung periklanan atau promosi melalui promosi ataupun expo yang mengglobal," ujarnya.

Edy menjelasakn, sesungguhnya ekonomi kreatif secara sistematis mulai dikembangkan tahun 1990-an, dapat memberikan nilai tambah besar. Melalui karya cipta bidang seni, kerajinan, penerbitan, kuliner, iklan, games, fashion, dan karya dari gagasan lainnya yang dapat menghasilkan pendapatan ataupun devisa yang luar biasa.

"Ekonomi kreatif menjadi lebih penting bagi kita karena kita tidak bisa lagi mengandalkan sumber daya alam untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional yang sekarang sudah semakin melambat," kata Edy.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon